KMIB FIB UGM Kepengurusan 1437 H (Kabinet Hazmi Insani)

Resume Rebonan [30 Agustus 2017]

Assalamualaikum wr, wb.

Alhamdulillah, setelah dua bulan lebih melalui masa-masa liburan, KMIB kembali hadir dengan program rutinnya setiap rabu ba’da dzuhur, yakni Kajian Rebonan.

Kali ini narasumber untuk Kajian Rebonan adalah Mas Raden Ahmad Julyadi (Adi), mahasiswa Sastra Arab angkatan 2014 sekaligus mantan mas’ul/ketua KMIB periode sebelumnya yang berbagi mengenai pengalaman berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tiga bulan yang lalu.

Pengalaman KKN selama dua bulan sangat berharga bagi Mas Adi. Selain pengalaman mengenai cara menyelesaikan masalah, bekerja dengan tim, dan belajar bersosialisasi dan terjun di masyarakat, Mas Adi mendapat pengalaman dakwah yang sangat berharga.

Mas Adi mendapat tugas KKN di daerah bernama Rabadongpu, Bima, NTB. Daerah yang masih terbilang dusun itu pernah dilanda banjir bandang yang merugikan desa pada 2016 lalu. Beberapa kelompok masyarakat di sana menganggap para petani jagung adalah penyebab dari terjadinya banjir ini. Namun, sebagian kelompok yang lain menganggap bahwa perjudian dan sabung ayamlah yang menyebabkan desa mereka terkena bencana banjir bandang.

Memang, meskipun daerah Rabadongpu mayoritas berpenduduk muslim, kegiatan perjudian berupa sabung ayam sudah menjadi kebiasaan yang membudaya di daerah mereka. Kegiatan sehari-hari masyarakat terutama pemuda di sana adalah sabung ayam, mulai dari pukul sepuluh pagi sampai pukul lima sore. Hal ini tentu tidak terlepas dari perhatian kepala desa. Kepala desa sudah melakukan berbagai upaya agar kegiatan sabung ayam ini dapat berhenti. Namun, kegiatan itu masih berjalan hingga sekarang.

Di luar dugaan, ada kebiasaan yang unik yang terjadi di masyarakat itu. Meskipun mereka menyabung ayam dari pagi sampai sore, apabila waktu dzuhur tiba sebagian besar dari mereka berhenti menyabung ayam dan langsung pergi ke masjid. Kegiatan sabung ayam pun berhenti sejenak. Namun, setelah itu mereka kembali melanjutkan sabung ayam dan lagi-lagi berhenti ketika waktu ashar tiba.

Melihat fenomena ini, tim Mas Adi sebagai koordinator tim KKN Soshum bersama teman-teman berusaha menyiasati agar mereka mengurangi intensitas kegiatan sabung ayam tersebut dengan cara mengadakan program-program produktif pada jam-jam biasa mereka melakukan sabung ayam.

Usaha Mas Adi tidak sampai sini. Di hari terakhir KKN, Mas Adi berinisiatif pergi ke kantor kepala desa sendirian. Dia bermaksud meminta izin kepada kepala desa untuk menghancurkan arena sabung ayam di desa tersebut. Ternyata, niat ini disambut baik oleh kepala desa. Akhirnya, dengan modal nekat, dia pergi ke tempat sabung ayam ketika tidak ada orang di sana. Ia mulai mencabuti tiang-tiang dan kain pembatas sabung ayam lalu membuangnya di tempat yang tersembunyi. Kemudian, dia menyebarkan selebaran kertas berisi tulisan-tulisan mengenai larangan melakukan sabung ayam dan peringatan mengenai dosa melakukan sabung ayam di daerah sabung ayam tersebut.

Dari pengalaman Mas Adi ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil bahwa di mana pun kita berada, di sanalah kita dituntut untuk tetap menjadi da’i sebagiamana yang kita lakukan di lingkungan kita mulai dari hal-hal kecil seperti mengajak teman salat, mengingatkan untuk membaca doa ketika bersin, dan lain-lain. Mudah-mudahan kita bisa menjadi pribadi-pribadi da’i yang mengamalkan amar ma’ruf dan nahi munkar di mana pun kita berada.

***

Yogyakarta, 30 Agustus 2017

Ahfie

Duka Rohingya di Semarak Idul Adha

Jumat, 1 September 2017 yang juga bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1438 H, kaum muslimin merayakan hari raya Idul Qurban atau Idul Adha. Di pagi hari, orang-orang berduyun-duyun ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat sunnah Idul Adha. Rangkaian acara berlanjut hingga penyembelihan hewan kurban. Aroma khas kambing menyeruak dari setiap tempat jagal. Orang-orang tetap bersuka cita mempersiapkan peralatan dan bumbu-bumbu masak menyambut sepaket daging sapi atau kambing dihantar ke rumah masing-masing. Selama beberapa hari, masyarakat dimanjakan dengan masakan daging yang mungkin hanya bisa dinikmati setahun sekali. Namun, di balik suka cita Idul Qurban di tanah air Indonesia, kabar memprihatinkan datang dari saudara-saudara muslim kita di belahan dunia lain. Masih ingat muslim Rohingya? Ya, beberapa tahun lalu kabarnya sempat mencuat dan tersiarkan di media-media mainstream karena krisis kemanusiaan yang luar biasa. Lantas, apakah derita muslim Rohingya telah berakhir? Bahkan di perayaan Idul Qurban ini, mereka masih ‘disembelih’ oleh kafir la’natullah. Innaa lillaahi wainna ilaihi raaji’uun.

Dilansir dari liputan6.com, per Jumat, 1 September 2017 sudah ada 130 muslim Rohingya dibantai, termasuk perempuan dan anak-anak. Sedangkan, Menurut lembaga aktivis Rohingya di Eropa, European Rohingya Council (ERC), jumlah yang tewas mencapai ribuan orang.  Juru bicara ERC, Anita Schug, kepada kantor berita Turki Anadolu Agency mengatakan antara 2.000 dan 3.000 muslim Rohingya terbunuh di negara bagian Rakhine hanya dalam waktu tiga hari, dari Jumat hingga Minggu lalu. Tidak hanya itu, rumah-rumah warga muslim Rohingya di Rakhine state pun kembali dibakar. Banyak pihak mengakui, termasuk PBB, bahwa ini adalah genosida sistemastis yang direstui oleh negara setempat. Bahkan, penerima nobel perdamaian, Aung San Kyi, memilih diam terhadap pembantaian dan pengusiran besar-besaran muslim Rohingya.

 

Air Mata Kaum Muslimin Tak Kunjung Mengering

Rasanya, hingga kini tak pernah habis kisah pilu kaum muslimin di negeri minoritas maupun mayoritas. Air mata kaum muslimin tak kunjung mengering, menyaksikan kepedihan dan diskrimininasi di berbagai wilayah di dunia. Belum usai masalah Palestina, mencuat masalah di Yaman, Suriah, Xinjiang, hingga Rohingya dan wilayah-wilayah lain. Memprihatinkan? Ya, nampaknya memang perkataan Rasulullah terbukti sudah. Bahwa di akhir zaman ini kaum muslimin bagaikan makanan lezat yang diperebutkan orang-orang kafir. Kaum muslimin bagaikan buih di lautan, melimpah namun tak memiliki makna. Menyedihkan.

Kemunduran kaum muslimin hari ini sungguh berbanding terbalik dengan kondisi kaum muslimin yang pernah bersatu dalam satu kepemimpinan yang dikepalai Rasulullah saw. dalam masa nubuwwah, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dalam masa khulafa’ur rasyidin, dan diteruskan bingga belasan abad kemudian. Sejarah emas tercatat dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir, seorang khalifah bernama Al Mu’tashim billah pernah mengirimkan tentara ke daerah Ammuriah karena seorang muslimah dilecehkan di pasar oleh seorang Yahudi dan seorang muslim tewas terbunuh. Inilah salah satu kisah heroik penjagaan nyawa kaum muslimin di bawah kepemimpinan Khalifah saat itu.

Rasulullah saw pernah bersabda,

“Sungguh, hancurnya kak’bah, batu demi batu, masih lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan tumpahnya darah seorang muslim.”

Demikian Islam begitu keras menjaga setiap nyawa tak berdosa, bukan hanya dari kalangan muslim, tetapi juga dari kalangan non-muslim, khususnya kafir dzimmi atau orang kafir yang tinggal di wilayah pemerintahan Islam dan diberikan jaminan keselamatan oleh negara.

 

Refleksi

Setiap penderitaan yang ditimpakan kepada seorang hamba memiliki beberapa makna. Bagi orang-orang yang bertaqwa, penderitaan adalah ujian yang Allah berikan untuk menaikkan kadar ketaqwaannya. Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman, penderitaan bisa diartikan sebagai peringatan atau bahkan azab. Na’udzubillaahi min dzalik. Maka dari itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk berkaca, bermusahabah, serta merenung. Apa makna di balik tragedi di tubuh kaum muslimin saat ini? Sudahkah kita termasuk orang yang bertaqwa, yakni yang melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya?

Allah SWT dalam Al-Qur’an, potongan surat Al Baqarah ayat 85, pernah menyinggung,

أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَ تَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْن

“…Apakah kamu mempercayai sebagian kitab dan kamu kafir dengan yang sebagian? Maka tidaklah ada ganjaran buat orang-orang yang berbuat demikian daripada kamu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia ini, dan pada hari kiamat akan di kembalikan mereka kepada sesangat-sangat azab. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah : 85)

Ya. Mungkin di satu sisi kita telah melaksanakan syariat Allah, tetapi di ada syariat lain yang kita tinggalkan, bahkan kita lupakan. Mari bermuhasabah. Selain itu, mari kita mendoakan nasib kaum muslimin Rohingya dan kaum muslimin lainnya serta memberikan bantuan kemanusiaan. Mari gencarkan dakwah untuk menyadarkan ummat untuk kembali kepada Islam. Insyaa Allah, Islam bersatu tak bisa terkalahkan!

***

Yogyakarta, 3 September 2017

Egia

Refleksi untuk Negeri: HUT RI, SNSD, dan Elly Risman

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (Al A’raf : 96)

Tepat sehari setelah negeri ini merayakan hari ulang tahunnya ke-72, Indonesia kedatangan (lebih tepatnya: mendatangkan) dua personel girlband SNSD dalam Count Down Asian Games. Kedatangan dua personel SNSD tersebut, Taeyon dan Heyeon, sempat menggegerkan banyak pihak, baik yang pro maupun kontra. Terlebih, sebelumnya ada wacana bahwa pemerintah akan mendatangkan girlband tersebut dalam peringatan HUT RI ke-72. Tak ayal, pihak-pihak yang kontra semakin lantang bersuara.

Salah satu pihak yang cukup keras menolak kedatangan SNSD adalah Bunda Elly Risman. Beliau adalah seorang psikolog serta pemerhati dunia anak. Isu bahwa pemerintah akan menghadirkan SNSD dalam peringatan HUT RI tentu saja membuat beliau panas. Hal yang dikhawatirkan oleh Bunda Elly adalah mental anak-anak Indonesia. Bahkan, dalam akun Twitter nya, Bunda Elly menyebut SNSD sebagai simbol seks. Cuitan itu bukan tanpa risiko. Tak lama kemudian, Bunda Elly diberondong hujatan, caci maki, hingga kata-kata kasar yang sama sekali tidak pantas dari para warganet yang notabene kebanyakan adalah anak muda.

Apabila ditelaah, kekhawatiran Bunda Elly sebenarnya sangat wajar. Hal ini tak lepas dari kondisi anak-anak dan remaja saat ini yang sangat memprihatinkan. Mulai dari bullying, seks bebas, narkoba, dan banyak permasalahan lain, khususnya yang terjadi pada anak dan remaja yang masih menjadi pekerjaan rumah. Beberapa waktu lalu dunia maya sempat diramaikan dengan kabar meninggalnya seorang anak korban bullying atau perundungan. Dikabarkan anak tersebut dirundung oleh teman sekolahnya sendiri. Selain itu, chat mesra anak SD hingga foto dua anak kecil yang merayakan anniversary ‘hari jadiannya’ pun sempat viral. Duh, kalau kondisi ini dibiarkan bahkan diperparah dengan tontonan yang tidak layak, mau jadi apa Indonesia nanti? Tontonan yang sudah ada di media umum saja sudah sangat tidak ramah anak. Pihak berwenang seharusnya menyadari hal ini, bukan malah memperparah.

Di usia ke-72 tahun ini, Indonesia harus segera berbenah. Negeri ini tak boleh hanya mencukupkan diri dengan teriakan ‘merdeka’ dan upacara 17-an sebagai formalitas. Salah satu pekerjaan rumah yang belum beres adalah perbaikan moral generasi muda. Revolusi mental yang didengung-dengungkan tak boleh menjadi pemanis bibir semata. Akan tetapi, harus ada pengamalannya. Seharusnya, pendidikan yang lebih memberatkan penanaman nilai-nilai moral serta kesadaran etika diri lebih ditanamkan.  Pengemasan kurikulum yang tidak memberatkan  kiranya membantu siswa menerima ilmu-ilmu secara proporsional. Tidak berlebih dan tidak kurang.

Selain itu, terkait perayaan HUT RI di setiap tahunnya yang terkesan glamour (yang pasti menghabiskan banyak dana), pemerintah selayaknya betul-betul memperhitungkan pengeluaran negara. Terlebih saat ini hutang luar negeri Indonesia hampir mencapai 4000 triliun, beserta bunganya! Waduh, kemungkinan besar tahun ini dan tahun berikutnya akan banyak pencabutan subsidi untuk rakyat, kenaikan pajak, dan kebijakan lain yang semakin menambah beban hidup rakyat. Hal ini mengingat penerimaan APBN Indonesia didominasi hutang dan penerimaan pajak. Kesejahteraan rakyat pun makin sulit tercapai, layaknya ‘jauh panggang dari api’.

Usia 72 tahun bukan usia belia. Sudah saatnya negeri ini kembali berbenah. Kamu, mahasiswa, apa yang dapat kamu lakukan setelah semuanya terjadi? Merdeka.

***

Yogyakarta, 24 Agustus 2017

Egia

Mahasiswa, pantang Individualistis

Mahasiswa, Pantang Individualistis

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan hidup selepas libur semester yang terasa begitu panjang ini, dan sebentar lagi kita kembali kuliah! Yeey! Nggak sabar ‘kan berkutat lagi dengan kesibukan dunia mahasiswa? Tugas, presentasi, kerja lapangan, dan seabreg pekerjaan rumah, hingga ujian menanti di ujung sana. Ya, sebentar lagi, kawan. Namun, pernahkah kita berpikir, apakah tugas seorang mahasiswa hanya itu? Sayangnya, tidak.

Menurut data dari badan statistika, pada tahun 2016 hanya 30% pelajar Indonesia usia 18-23 tahun yang menikmati bangku perguruan tinggi. Artinya, dari 100 pelajar tingkat SMA yang lulus tahun 2016, hanya 30 orang yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Apabila kita termasuk 30% itu, segera ucap syukur kepada Allah ta’ala karena telah memilih kita berada di jenjang yang tidak semua orang mampu memasukinya. Meminjam wasiat Uncle Ben untuk Perter Parker,  “Seiring datangnya kekuatan yang besar akan datang pula tanggung jawab yang besar…”, setidaknya itulah yang juga dihadapi  mahasiswa. Ya, tanggung jawab yang besar.

Masyarakat kebanyakan memandang mahasiswa sebagai kaum pemikir, intelektual. Maka dari itu, tak heran bila status ‘mahasiswa’ adalah kebanggaan sekaligus beban tersendiri, sebab di pundaknya ada harapan, harapan ummat. So, kalau kamu mahasiswa, urusan ummat tak boleh lepas dari pengamatanmu. Karena, secara tidak langsung atau langsung, permasalahan ummat juga merupakan urusan kaum pemikir yang memandang setiap permasalahan dengan kacamata kritis dan objektif.

Nah, terlebih bagi seorang mahasiswa muslim. Bagi seorang muslim, tak usah menunggu jadi mahasiswa, ia sudah seharusnya kritis dengan permasalahan ummat. Kenapa? Karena, dalam Islam, seorang muslim tidak diajarkan menjadi pribadi individualis, melainkan menjadi individu yang simpati dan berempati terhadap lingkungan sekitarnya, maupun ummat pada umumnya.

Rasulullah saw mengibaratkan sebuah masyarakat Islam layaknya seperti rombongan orang di dalam sebuah kapal. Ada yang duduk di atas dan di bawah. Ketika seseorang dari bawah kehausan, maka mereka harus ke atas untuk mengambil air. Bisa saja orang bawah tak harus capek-capek naik ke atas, tetapi tinggal melobangi dasar kapal dan meminum air dengan mudah. Namun, bila tidak ada yang memperingatkan orang tadi, lalu ia benar-benar melobangi kapal, apa yang terjadi? Ya, kapal akan tenggelam dan semua penumpang akan binasa.

Itulah konsep bermasyarakat dalam Islam. Saling bersimpati, saling mengingatkan satu sama lain, saling menasehati. Indah bukan? Yes of course.

Dalam surat Ali Imron 134, Allah SWT bersabda yang artinya,

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron [3]: 134).

Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan,

orang yang bertakwa adalah orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi orang yang disibukkkan oleh perkara-perkara yang membuatnya tunduk dan taat kepada Allah Ta’ala, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, kepada kerabat maupun kepada saudara seiman lainnya.

Nah, sebagai mahasiswa muslim, tanggung jawab besar kita bukan hanya sekadar belajar di kelas, meraih IP 4 dan lulus tepat waktu. Tidak secetek itu. Sebagai harapan ummat, kita pun harus memberikan yang terbaik untuk ummat dengan pemikiran dan kontrubusi aktif di tengah ummat. Bisa jadi dengan mengedukasi ummat berdakwah fi sabilillah maupun aksi yang lain. So, mahasiswa, tugas kita memang belajar, tapi tanggung jawab kita kepada ummat dan negara ini tak boleh ketinggalan.

***

Yogyakarta, 7 Agustus 2017

Egia

 

Jalan itu bernama Dakwah

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat : 33)

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)

Jalan dakwah. Sebuah jalan yang menuntut kesungguhan dan kesabaran penuh dalam menapakinya. Ialah ‘jalanan terjal’, dipenuhi ‘kerikil dan bebatuan tajam’, menghadang siapapun yang hendak melewatinya. Inilah jalan yang diperuntukkan Allah SWT hanya untuk hamba-hamba yang dipilih-Nya. Hanya mereka yang kuat dan mampu bertahanlah yang mampu melewati jalan ini hingga binasa di atasnya.

Teladan kita, Rasulullah Muhammad saw., manusia sempurna yang dijamin surga, serta para sahabat beliau, harus menghadapi penghinaan, penganiayaan, fitnah yang keji, hingga penyiksaan di jalan dakwah. Dalam sebuah riwayat, Abu ‘Abdullah Khabab bin Al Aratt ra. berkata,

“Kami mengadu kepada Rasulullah saw. saat beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata: “Apakah Tuan tidak memintakan pertolongan untuk kami? Apakah Tuan tidak mendoakan kami?” Beliau menjawab, “Orang-orang sebelum kalian itu ada yang ditanam hidup-hidup, ada yang digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua, ada pula yang disisir dengan sisir besi yang menganai daging dan tulangnya, tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan Islam ini hingga merata dari Shan’a sampai Hadramaut di mana masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya kambing terhadap serigala. Tetapi kamu sekalian sangat tergesa-gesa.”

Sabda Rasulullah saw di atas harusnya menjadi suntikan energi bagi orang-orang yang mengikutinya dan melanjutkan dakwahnya hingga akhir zaman. Bahwa perjuangan dakwah adalah perjuangan yang panjang dan berliku. Mungkin kita sudah bergabung dalam lembaga dakwah dan ikut berdakwah selama beberapa tahun, tetapi pertolongan Allah belum juga turun. Orang-orang di sekitar kita, terlebih yang kita dakwahi, belum sepenuhnya berjalan dalam langkah yang sama dan seirama bersama kita. Atau bahkan orang-orang terdekat, seperti orang tua kita sekalipun, belum betul-betul menerima dakwah kita. Atau mungkin lebih dari itu, misalya yang dialami beberapa Asatidz, seperti Ustadz Felix Siauw, Ustadz Kholid Basalamah, hingga Dr. Zakir Naik, dan lain-lain, yang beberapa kali mendapat penolakan bahkan intimidasi secara terang-terangan dalam dakwahnya. Itulah salah satu kerikil di perjalanan ini.

Rintangan di jalan dakwah adalah sunnatullah, seperti halnya kerikil di jalanan. Niscaya. Setiap orang yang ber-azzam melaju di jalan dakwah otomatis siap menerima ‘gempuran’ dari berbagai arah, seperti hinaan, cercaan, bahkan bisa jadi ancaman hingga serangan fisik. Mereka yang tidak senang dengan laju dakwah Islam tentunya tak tinggal diam dan menganggap segala upaya dakwah sebagai ‘ancaman’ bagi status quo mereka. Maka dari itu, setiap pengemban dakwah wajib untuk terus meningkatkan keimanannya dan kedekatannya dengan Allah Sang Muqollibal Qulub, serta menuntut ilmu, meng-upgrade niat supaya dakwah tetap atas dasar lillahi ta’ala, dan bersabar dalam perjuangan. Karena, Allah tak mengharuskan kita betul-betul meraih kemenangan dalam dakwah, karena itu semua adalah qadha Allah yang juga kekuasan-Nya. Allah hanya menginginkan kita tetap di jalan ini hingga Ia memanggil masing-masing kita.

Meskipun jalan dakwah begitu terjal, namun ia bukanlah jalan tak berujung. Seringkali pertolongan Allah hadir di tengah perjalanan, atau pun juga di ujung perjalanan. Seperti halnya ketika seseorang mendaki gunung. Memang, jalan yang mereka hadapi sungguh menukik, terjal, dan terkadang sangat menyiksa dan melelahkan. Namun, lihat. Apa yang mereka dapatkan di puncak sana? Ya, lukisan alam yang sangat indah serta udara yang menyejukkan semilir menentramkan jiwa menghilangkan penat, membuat orang lupa betapa sulit perjalanan yang baru saja ia tempuh. Begitu pula dengan jalan dakwah. Di ujung sana, Allah telah janjikan surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, makanan lezat apa pun tersaji, bidadari-bidadari bermata jeli siap melayani, serta kebahagiaan memandang wajah Rabbul ‘alamin, dan kebahagian lainnya di mana tak satu pun makhluk yang pernah melihatnya. Maa syaa Allah. So, masih semangat kan berlari di jalan ini?

***

Yogyakarta, 30 Juli 2017

Egia

Palestina, Tanah Para Syuhada

Palestina, Tanah Para Syuhada’

 

Lagi. Palestina kembali (dan masih saja) bergemuruh.

Jumat lalu, situasi di kompleks Masjid al-Aqsa kembali setelah peristiwa serangan tiga pria bersenjata yang menewaskan dua tentara Israel. Akibatnya, Kepolisian Israel memasang detektor metal di kompleks Masjidil Aqsha dan melarang pria muslim berusia di bawah 50 tahun untuk memasuki kompleks masjid. Terjadilah bentrok antara kaum muslimin Palestina dan kepolisian Israel, kemudian aktivis pergerakan Palestina ditangkapi, bahkan kepolisian Israel juga menembak Imam Masjid Al Aqsa selepas beliau menunaikan shalat.

Situasi di Palestina hari ini hanyalah satu dari sekian banyak ‘kebiadaban’ zionis Israel di tanah Al Quds. Sebelumnya, tak terkira berapa banyak nyawa kaum muslimin Palestina yang dihabisi Israel. Salah satunya pada tahun 2009, syahid 1300 rakyat Palestina di tangan zionis Israel kurang dari satu bulan! Begitu pula wilayah Palestina yang semakin hari semakin menyempit digerogoti zionis Israel. Bahkan beberapa waktu lalu, Palestina tidak ditemukan di google maps. Kondisi ini tentunya bukan hal remeh, karena ini menyangkut nyawa kaum muslimin. Bahkan, Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya menyatakan bahwa hancurnya ka’bah lebih baik dari hilangnya nyawa seorang muslim tanpa sebab yang dibenarkan.

 

Palestina, Tanah Penuh Pesona

Tanah Palestina memang tanah penuh pesona bagi tiga agama langit, yakni Islam, Nasrani dan Yahudi. Bagi kaum Nasrani, tanah ini merupakan tanah kelahiran dan kematian Yesus. Bagi Yahudi, tanah itu merupakan tanah terjanji, tempat Nabi Daud as dan Sulaiman as membina kerajaan. Selain itu, terdapat tembok ratapan di tanah Al Quds sebagai tempat ibadah kaum Yahudi yang diyakini sebagai peninggalan Haikal Sulaiman. Sedangkan, bagi kaum muslimin, Palestina (Masjid Al Aqsa) adalah kiblat pertama sekaligus tempat bersejarah di mana Rasulullah saw melaksanakan perjalanan Isra’ Mi’raj. Selain itu, bagi kaum muslimin, tanah Palestina adalah tanah yang diperjuangkan oleh para syuhada’, salah satunya melalui perjuangan jihad tentara Islam yang dipimpin oleh Sholahuddin Al Ayyubi ketika merebut tanah Palestina dari penjajahan tentara salib.

Selama berabad-abad, tanah Al Quds berada di bawah kekuasaan Khilafah Islamiyah. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab, Palestina yang merupakan bagian dari wilayah Syam dibebaskan dan kemudian menjadi bagian dari kekhilafahan. Dalam perjalannya, tanah Palestina sempat jatuh ke tangan tentara salib, namun kemudian melalui perjuangan Sholahuddin al Ayyubi, Palestina kembali menjadi tanah kaum muslimin.

Hingga akhir abad ke 18, Palestina masih berada di bawah kekuasaan Khilafah Utsmani yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hamid II. Pada tahun 1897, muncul gerakan Zionis yang dipelopori oleh Theodor Hertzl, yang kini dikenal sebagai Bapak Zionis, dan Rothschild, seorang konglomerat Yahudi. Gerakan tersebut bertekad menyatukan kaum Yahudi (yang saat itu diaspora) dalam satu negara. Dipilihlah tanah Palestina sebagai lokasi negara tersebut, karena bagi kaum Yahudi, tanah Al Quds tanah terjanji. Sayangnya, Palestina masih dalam kekuasaan Khalifah Abdul Hamid II, sehingga menurut kaum Yahudi mereka harus memohon dan meminta kepada ‘pemilik’ Al Quds untuk memberinya sebagian tanah Palestina.

Pada kunjungan pertamanya, Thedore Hertlz harus pulang dengan tangan hampa. Sultan Hamid II menolak keras permohonan Hertlz dengan menyatakan, “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku”. Penolakan tersebut tidak membuat Theodore Hertlz menyerah. Pada tahun 1902, Theodore Hertzl kembali mendatangi Khalifah Abdul Hamid II untuk memohon tanah Palestina. Kali ini ia membawa sejumlah uang sebagai ‘pelicin’ niatnya. Namun, kembali Khalifah Abdul Hamid II menjawabnya dengan kalimat diplomatis. Berikut pernyataan Khalifah Abdul Hamid II yang tercatat dalam “Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II” karya Muhammad Harb.

“Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup”.

Maa syaa Allah, inilah pernyataan seorang pemimpin negara yang begitu lugas dan tegas terhadap segala bentuk gerakan separatis di negaranya, tentunya sebelum Khilafah Utsmaniyah resmi diruntuhkan dan dibubarkan melalui tangan penghianat Mustafa Kemal pada 1924. Setelah ketiadaan Khilafah Utsmaniyah yang melindungi tanah kaum muslimin, negeri-negeri Islam menjadi ‘kue-kue lezat’ yang diperebutkan dan dinikmati kaum penjajah. Melalui berbagai perjanjian, Inggris dan Prancis membagi-membagi wilayah Khilafah Utsmaniyah menjadi negara-negara kecil yang dikuasai oleh kaum penjajah dan konco-konconya (baca:sekutu).

Melalui deklarasi Balfour pada 2 November 1917, pemerintahan Inggris menyetujui pendirian negara Israel di tanah Palestina yang saat itu berada di bawah penguasaan Inggris. Setelah, itu LBB (Liga Bangsa-Bangsa) sebagai cikal bakal PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) semakin mempermudah legalitas keberadaan negara Israel di tanah Palestina, kemudian terjadilah eksodus besar-besaran kaum Yahudi ke tanah Palestina. Puncaknya pada 29 November 1947, PBB mengumumkan berdirinya negara Israel di tanah Palestina yang diamini Amerika Serikat dengan wilayah Israel 55% dari wilayah Palestina. Peristiwa inilah yang menjadi legalitas berdirinya negara Israel di jantung negeri-negeri Islam berkat bantuan Inggris, Amerika dan LBB atau PBB.

Hari ini, air mata kaum muslimin kembali menetes menyaksikan kebiadaban zionis di tanah haram Al Quds. Entah, apakah kepedihan yang menimpa umat muslim Palestina kali ini akan menjadi episode terakhir atau hanya sepenggal kisah penderitaan yang terus berlanjut? Hanya Allah yang tau kapan penderitaan saudara-saudara kita di palestina, begitu juga di negeri lain, akan berakhir.

Namun, setiap orang yang mengaku muslim tidak akan hanya berdiam diri menyaksikan kedzaliman ini. Mereka yang muslim pasti mendidih darahnya menyaksikan penyiksaan yang menimpa saudaranya, meskipun berada di belahan bumi lain. Salah satu hal kecil yang dapat dilakukan adalah berdoa. Sematkan doa-doa terbaik kita di sepertiga malam terakhir kepada saudara-saudara kita di Palestina, maupun di negeri-negeri muslim lainnya yang terdzolimi, termasuk di Indonesia. Karena bagaimanapun, doa adalah senjata dan pengharapan setiap muslim. Selain itu, bantuan berupa makanan, harta dan obat-obatan juga bermanfaat bagi saudara-suadara kita. Meskipun dalam kasus ini, bantuan tersebut tidak kemudian menuntaskan masalah kaum muslimin Palestina. Maka dari itu, selain bantuan materi, usaha untuk kembali menyatukan kekuatan dan potensi kaum muslimin dalam satu pemerintahan global juga harus menjadi fokus kaum muslimin. Sebab, inilah institusi yang mampu melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin dari kerakusan dan kebiadaban kafir penjajah. Institusi semacam ini yang memungkinkan tanah Palestina, tanah yang dialiri darah segar para syuhada’, kembali terbebaskan dan kembali ke tangan kaum muslimin. Perjuangan semacam ini harus terus berlanjut, meskipun mendapatkan penghadangan dari pihak-pihak yang membenci Islam.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan menyegerakan datangnya pertolongan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Aamiin.

***

Yogyakarta, 22 Juli 2017

Egia

Merekatkan Tali Ukhuwah

Merekatkan Kembali Tali Ukhuwah

Assalamualaikum saudaraku yg dicintai Allah, tahukah engkau?

Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 10 menyatakan bahwa kaum mukminin itu bersaudara. Terkait ayat tersebut, Imam Ali Ash-Shabuni dalam Shafwah af-Tafasir menyatakan,

“Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat dari pada persaudaraan karena faktor nasab”.

Ya, inilah seharusnya ikatan yang menyatukan dan mendamaikan kaum muslimin satu sama lain, yakni ikatan ukhuwah islamiyah. Ialah ikatan yang global dan paripurna, tidak mengenal suku, bangsa, maupun ras.

Namun, tak bisa dipungkiri ikatan ukhuwah kaum muslimin -beberapa kali hingga saat ini- telah terkoyak. Labelisasi yang diciptakan musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin telah mengkotak-kotak dan memecah belah persatuan kaum muslimin. Itulah strategi salah satu lembaga think-tank AS yang membagi kaum muslimin menjadi empat kelompok. Empat kelompok itu antara lain kelompok fundamentalis, yakni kelompok yang menolak nilai-nilai kufur barat; kelompok tradisionalis, yakni kelompok yang menginginkan masyarakat yang konservatif; kelompok modernis, yakni kelompok yang menginginkan modernisasi Islam; dan kelompok sekularis, yakni mereka yang menerima paham sekulerisme beragama.

Tak sampai di situ, strategi ini pun berlanjut yakni dengan melancarkan politik belah bambu atau politik adu domba. Aksi yang menggambarkan upaya tersebut antara lain dengan mendukung satu pihak dan  menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok.

Sebenarnya, strategi adu domba bukan gaya baru musuh-musuh Islam dalam memecah belah kaum muslimin. Di masa lalu, kafir penjajah pun melangsungkan hal serupa. Seperti halnya yang telah diramu Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda di tengah masyarakat Aceh yang memegang teguh keislaman mereka.

Saat ini, kaum muslimin seharusnya mampu mengambil pelajaran dan tidak melupakan ikatan ukhuwah islamiyah. Panasnya suhu politik, isu-isu pembubaran ormas, maupun kriminalisasi ulama yang menggoncang tubuh kaum muslimin saat ini jangan sampai mengoyak tali ukhuwah islamiyah. Kaum muslimin selayaknya mengenali common enemy yang telah Allah kabarkan dalam Al Qur’an salah satunya dalam QS Ali Imron 118. Begitu pula, tidak selayaknya kaum muslimin menggunakan kacamata Barat dalam menilai saudaranya yang lain. Tidak selayaknya satu ormas Islam berprasangka buruk kepada ormas Islam lain, tanpa berusaha membangun komunikasi yang baik melalui forum tabayyun. Maka dari itu, persatuan kaum muslimin pun sedikit demi sedikit kembali terjalin.

Sayangnya, persatuan tersebut baru menjadi pemanis bibir bahkan cita-cita yang terkesan utopis di era kebangsaan ini, yakni ketika bukan ikatan akidah yang menyatukan kaum muslimin seluruh dunia. Hal ini dikarenakan makna ukhuwah islamiyah bersifat global dan tidak dibatasi patok-patok batas negara.

Ketika kaum muslimin di negeri-negeri lain mengalami diskriminasi, bahkan pembantaian, kaum muslimin di negeri lain tidak dapat berbuat banyak selain mengirim bantuan logistik, kesehatan, maupun doa. Sayangnya usaha tersebut belum cukup untuk menyelesaikan permasalahan kaum muslimin di negara lain. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya kekuatan politik berupa institusi yang dapat menyatukan ukhuwah islamiyah, serta melindungi dan mengayomi kaum muslimin maupun kaum nonmuslim yang hidup di dalamnya. Dengan demikian, persatuan kaum muslimin dalam bingkai ukhuwah Islamiyah yang hakiki pun kembali terajut.

***

Yogyakarta,

Egia

Resume Rebonan [17 Mei 2017]

Rabu, 17 Mei 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji serta syukur kita kepada Allah, Zat yang Maha Kuasa atas seluruh alam. Karena berkata rahmat-Nya kita masih diberi kesempatan untuk berbuat baik dan memperbaiki diri. Begitupun atas kesehatan dan keselamatan yang diberikan-Nya kepada kita sehingga kita dapat beraktivitas dengan lancar. Atas segala nikmat itu, marilah kita mensyukurinya dengan sebaik-baik ungkapan kesyukuran yakni dengan memanfaatkan segala anugerah dan rahmat-Nya di jalan kebaikan. Semoga segala amal kita tercatat sebagai ibadah yang diterima di sisi-Nya.

Salawat dan salam tak luput kita haturkan kepada pemimpin umat ini, yang cintanya melebihi cintanya kepada keluarga bahkan kepada dirinya sendiri. Yang rela dengan sepenuh hati menanggung penderitaan seluruh umatnya, yang bahkan di akhir hayatnya pun doa beliau adalah agar seluruh derita dan perihnya sakaratul maut seluruh umatnya ditanggung olehnya agar tidak ada lagi satupun umatnya yang merasakan penderitaan sakaratul maut. Yang di hari pembalasan nanti menjadi satu-satunya orang yang sibuk ke sana kemari mencari umatnya, berulang-ulang sujud memohon di hadapan Rabb Semesta Alam agar mengizinkannya menyelamatkan umatnya yang masih tertinggal di neraka. Yang tidak bahagia sedikitpun ketika ditampakkan Firdaus-Nya dengan segala kenikmatan tak terbayangkan di hadapan matanya, alih-alih yang dia pikirkan adalah, “Di mana umatku, Ya Allah?”

Dialah, Rasul tercinta kita Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kita termasuk bagian dari umatnya yang mendapatkan syafaatnya kelak di Hari Kiamat.

Tak terasa, kini kita memasuki bulan penuh barakah Bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan ladang pahala berlipat ganda. Maka seyogianya kita sebagai umat muslim harus memanfaatkan bulan ini dengan baik. Sebab, boleh jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita. Sementara kita tidak tahu amal manakah dari amal-amal kita yang dapat menyelamatkan kita dari azab api neraka. Oleh karena itu, mari kita mulai biasakan kebaikan-kebaikan di bulan ini, agar mudah-mudahan kebaikan-kebaikan itu dapat terus berlanjut hingga seterusnya.

Pada Kajian Rebonan sebelumnya kita sudah mengulas mengenai istiqomah dan mengenai betapa pentingnya kita untuk mulai membiasakan kebaikan-kebaikan meskipun kecil. Sebab amal-amal kecil yang dilaksanakan terus menerus adalah lebih baik daripada amal besar yang dilakukan sekali seumur hidup.

 

IMG-20170517-WA0003

 

Kali ini, saudara kita Yaqin dari jurusan Arkeologi 2014 maju sebagai pemantik diskusi rebonan yang membahas mengenai tips-tips agar kita dapat istiqomah dalam kebaikan. Langsung ke tips pertama, “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah berdoa,” ujar Yaqin. Sebab, segala kebaikan adalah berasal dari Allah. Sebab yang akan kita istiqomahkan adalah kebaikan, amal saleh. Maka kita meminta kepada Allah agar Allah memudahkan kita dan membantu kita untuk menjaga amalan-amalan tersebut. Kita sudah mengulas mengenai doa yang biasa dibaca Rasul.

 

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبَ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Yang Maha Membolak balikkan Hati, teguhkanlah hati kami atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

 

Kemudian, hal kedua yang dapat menjaga keistiqomahan kita adalah taufik dan hidayah. Artinya, kita tidak akan bisa mengupayakan diri untuk istiqomah tanpa adanya  taufik dan hidayah dari Allah yang dapat menggerakkan hati kita untuk istiqomah. Namun, taufik dan hidayah ini pun tidak dapat datang serta merta. Kita pun harus berusaha dan berdoa agar taufik itu datang. Sebab seperti dalam kalam-Nya yang mulia dalam surah Ar-Rum, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri.

Hal ketiga yang dapat kita lakukan untuk menjaga keistiqomahan kita adalah dengan mengikuti mazhab ahlus sunnah wal jama’ah (empat mazhab: Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali). Sebab, dengan mengikuti mazhab ahlus sunnah wal jama’ah, kita dapat tetap menjaga keistiqomahan itu agar tetap di jalan yang benar, bukan istiqomah di jalan yang sesat.

Selain itu, kita juga perlu melakukan muhasabah sesering mungkin. Kita perlu merenung untuk memikirkan apakah kita sudah memperbaiki niat kita, apakah kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga keistiqomahan itu.

Kemudian hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah untuk tetap menjaga amal-amal yang biasa dilakukan. Misal, kita ingin membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap waktu dhuha. Sementara di waktu dhuha kita sudah terbiasa melaksanakan salat dhuha empat rakaat setiap harinya. Maka alangkah baiknya kita tetap melaksanakan salat dhuha sebanyak empat rakaat seperti biasa barulah kita membaca Al-Qur’an, jangan sampai kita terlalu fokus untuk membiasakan membaca Al-Qur’an sehingga kebiasaan kita salat dhuha empat rakaat itu terabaikan.

Selain hal-hal yang perlu dijaga dan diperhatikan tersebut, kita juga harus berhati-hati terhadap beberapa hal, antara lain godaan setan yang dapat kita atasi dengan terus berzikir dan memperbanyak ibadah; hawa nafsu yang bisa kita lawan dengan melembutkan hati kita dengan zikir; fitnah cobaan yang di masa kini amat banyak kita jumpai di berbagai tempat dapat kita hadapi dengan terus mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga diri sebaik mungkin dari godaan sekecil apapun.

Selain itu, kurangnya nasihat juga dapat menjadi penyebab kita lalai dan tidak bersemangat. Oleh karena itu, alangkah baik bila kita mulai menyempatkan diri kita mendatangi kajian-kajian agar kita dapat kembali terpicu untuk beramal. Tinggalkanlah sedikit demi sedikit urusan dunia yang dapat melalaikan kita dari tujuan awal kita. Lingkungan yang baik juga dapat berpengaruh pada diri kita. Carilah teman untuk diajak berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan.

Terakhir, sebagai manusia yang jauh dari sempurna, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak mungkin menjadi orang suci yang tidak pernah berbuat salah. Kemudian, kita juga harus menyadari bahwa sebesar apapun kesalahan kita, Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun. Selama kita tidak menyekutukan-Nya, insyaAllah Allah akan menerima taubat kita. Kita harus terus mengupayakan diri untuk beramal saleh dan bertaubat dari segala dosa. Sebab, Rasul yang maksum pun berzikir dan memohon ampun kepada Allah setiap hari. Janganlah kita berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah.

Mudah-mudahan Allah menolong kita.

 

IMG-20170517-WA0004

***

Yogyakarta, 27 Mei 2017

AhfieRofi

Ramadhan Sebentar Lagi, Sambut Kemenangan Hakiki

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, Ramadhan tiba…

Maa sya Allah, sebentar lagi guys! Iya, sebentar lagi… Si dia yang kita tunggu-tunggu selama berbulan-bulan akhirnya sebentar lagi tiba. Ya, euforia menyambut Ramadhan memang sudah sangat kentara. Dari mulai promo sinetron religi, iklan sirup berseri, iklan sarung, spanduk ucapan selamat berpuasa, dan berbagai atribut yang biasa kita jumpai menjelang Ramadhan mulai bertebaran. Tua muda berbahagia menyambut bulan yang berkah. Ada yang merindukan nikmatnya waktu berbuka, berbahagia menyambut gaji ke-13, merindukan safari masjid (untuk dapat kajian plus takjil gratis) bareng temen kost, dan ada pula yang merindukan kenikmatan ibadah di bulan suci ini. Kamu yang mana? Hehe.

Ramadhan memang bulan yang begitu istimewa. Setiap detiknya dapat bernilai pahala yang besar bagi orang-orang yang mau mengisinya dengan iman dan amal sholih. Masjid-masjid penuh jamaah di waktu tarawih, kajian-kajian taman surga yang menawarkan takjil gratis pun menjamur, tua muda berlomba lantunkan ayat suci Al-Qur’an, dan berbagai kegiatan lain yang sangat menyejukkan yang jarang kita temukan di bulan lainnya. Betul, Ramadhan memang ajaib. Suasana keimanan begitu kental di setiap harinya. Bahkan, Ramadhan melatih kita untuk memulai dan membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa kita lanjutkan di bulan-bulan selanjutnya seperti puasa sunnah, qiyamullail, tilawatul qur’an, sedekah, dan lain-lain.

Namun sayang beribu sayang, tak sedikit yang tidak melanjutkan semangat keimanan Ramadhan di bulan-bulan selanjutnya. Misalnya, di negeri mayoritas muslim terbesar sedunia, Indonesia tercinta, ketaqwaan nampaknya belum melekat kuat pada diri individu muslim. Berbagai problematika terjadi, mulai dari penyakit masyarakat (pekat) seperti prostitusi, minuman keras, judi, kriminalitas, KDRT, perzinahan, aborsi, tawuran dan lain-lain, hingga penyakit pejabat, seperti korupsi, gratifikasi hingga ‘menjual’ aset Indonesia kepada swasta asing. Begitu banyak permasalahan rumit yang mengindikasikan bahwa ketaqwaan belum betul-betul melekat di tiap diri seorang muslim. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Al0Baqarah ayat 183 bahwa puasa di bulan Ramadhan dimaksudkan untuk mencapai taqwa. So, sudah berapa kali Ramadhan berlalu dalam hidup kita? Tanya kenapa.

Salah satu ‘berhala’ modern yang masih dipertahankan manusia menjadi penyebabnya. Saat ini memang sudah tidak ada lagi berhala bernama hubal, latta, uzza maupun manna. Akan tetapi, ‘berhala’ modern itu berbentuk pemikiran sesat dan menyesatkan, ialah sekulerisme.

Sekulerisme, paham yang memisahkan aturan agama dengan sistem hidup manusia, nyatanya telah menaungi ummat muslim hari ini, bukan hanya di Indonesia melainkan seluruh dunia. Ialah paham yang sesat dan menyesatkan, serta tak layak dijadikan sandaran hidup setiap insan. Sekulerisme meniscayakan orang menjadi alim di kala Ramadhan dan dholim di bulan berikutnya, begitu pula orang yang khusyuk di masjid, tapi liar di dunia luar. Butuh bukti? Just look at phenomenon around you, or maybe, ehm.. on yourselves.

Bagaimana mungkin manusia, makhluk yang lemah dan serba terbatas, hendak berlepas diri dari aturan Sang Pencipta, Allah SWT? Bagaimana mungkin, manusia di suatu saat mengagungkan Allah dan menjadikan Allah satu-satunya, tetapi di saat lain begitu menentang syariat Allah dengan perkataan dan perbuatannya? Padahal Allah menyatakan dalam Al Baqarah ayat 208,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Ya, Allah memerintahkan kita untuk masuk Islam secara sempurna. Maka dari itu, jelas bahwa konsep sekulerisme tidak relevan bila disandangkan kepada Islam. Oke, fix.

Maka dari itu, yuk guys muhasabah. Jangan sampai kita, keluarga kita, teman-teman kita, masyarakat kita, bahkan negara kita menjadi ‘korban’ sekaligus ‘pelaku’ sekulerisme. Jangan sampai Ramadhan kita nanti berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas hanya karena paham yang sesat dan menyesatkan ini. Bismillah, yuk renungkan bersama, yuk berhijrah dari pemikiran dan sistem hidup jahiliyah menuju kegemilangan Islam. Yuk, back to Muslim identity.

***

Yogyakarta, 20 Mei 2017

Egia

Resume Rebonan [10 Mei 2017]

Rabu, 10 Mei 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji serta syukur kita atas rahmat Allah yang dengannya kita masih bisa merasakan berbagai kenikmatan yang diberikan oleh Allah secara cuma-cuma untuk kita. Setiap embus napas, setiap kumparan cahaya yang kita terima melalui mata kita, setiap bunyi dan bising yang masih bisa berdenging dan kita rasakan lewat telinga kita, dan segala hal yang meliputi kehidupan kita yang kesemuanya adalah rahmat dan pemberian berharga dari Allah, semoga itu semua dapat kita syukuri dengan segenap kesyukuran dan semoga nikmat dan rahmat itu dapat kita gunakan sebagai modal untuk beramal baik selagi kita bisa.

Kemudian, tak lupa pula kita haturkan salawat serta salam untuk Nabi panutan kita yang tersebab dakwah dan doa-doa beliau beserta sahabat-sahabatnya Islam semakin berjaya dari masa ke masa hingga kita pun yang hidup ratusan tahun setelahnya pun masih dapat merasakan kenikmatan dan kehangatan cahaya Islam. Mudah-mudahan kita tidak lupa untuk selalu bersalawat dan meminta syafaat dari Nabi junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

IMG-20170510-WA0013

Sebagai bagian dari Bani Adam yang tak lepas dari kesalahan, kita tentu sangatlah mengharap keteguhan dan keistiqomahan dalam berbuat baik dan tetap berada di jalan yang baik. Sebab, berbuat baik itu lebih mudah daripada mengistiqomahkan kebaikan itu sendiri. Seperti kata Rasul, kebaikan kecil yang berkesinambungan dari waktu ke waktu sungguh lebih baik dan lebih disukai daripada kebaikan besar yang dilakukan sekali tanpa ada keberlanjutan ke depannya.

Namun, meskipun kecil, kebaikan yang ingin kita istiqomahkan terkadang sangat sulit untuk diupayakan. Pak Jarwo dosen Sastra Prancis yang pada kesempatan kali ini berkesempatan untuk menjadi pemantik diskusi Rebonan minggu ini pun memaparkan beberapa hal mengenai istiqomah ini.

Beliau menjelaskan bahwa istiqomah itu dimulai dari hal yang sangat kecil, tetapi dengan segala daya dan upaya kita berusaha untuk menjaga kebaikan kecil itu agar dapat berlangsung dari waktu ke waktu meningkat sedikit demi sedikit. Katakanlah kita memulai dengan bersedekah setiap hari. Maka mulailah dengan bersedekah 500 rupiah untuk hari ini. Kemudian, esok hari lakukan lagi. Terus lakukan setiap hari dengan peningkatan sedikit demi sedikit.

Untuk menjaga keistiqomahan dan keteguhan hati kita tidaklah serta merta tanpa cobaan. Untuk mempertahankan keistiqomahan tersebut, terkadang kita akan dihadapkan pada rasa takut, cobaan dalam bentuk kekeringan, menipisnya kebutuhan, sempit dan sesak ketika menjalani, dan sebagainya. Hal ini seperti termaktub dalam kitabullah,

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn’.” (Al-Baqarah: 155-156).

Maka satu satunya upaya yang dapat kita lakukan untuk mengatasi cobaan-cobaan itu adalah dengan terus berpegang teguh pada tujuan kita. Tetaplah usahakan kebaikan itu, dan teruslah berdoa kepada Allah.

Selain itu, salah satu cara agar kita dapat menjaga keistiqomahan itu, kita harus mencari motivasi kuat yang dapat membuat kita terpantik untuk melakukan kebaikan itu. Pak Amir dan Pak Masrukhi menambahkan pada diskusi rebonan kali ini bahwa kita boleh menjadikan pahala sebagai motivasi kita beramal. Malah, kita boleh saja menjadikan seseorang lawan jenis sebagai motivasi awal kita berbuat baik. Hal ini bukan berarti kita dibolehkan beramal atas nama mereka atau demi pahala dan mengesampingkan tujuan hakiki yakni demi meraih keridhaan Allah. Melainkan, motivasi-motivasi itu hanyalah sebagai pemantik awal agar kita dapat membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut. Esok hari ketika kita sudah terbiasa melakukan amal-amal tersebut, tujuan dan motivasi itu sedikit demi sedikit dapat berubah menjadi motivasi dan tujuan yang lebih besar. Puncaknya, insyaAllah nanti tujuan dari amal-amal kita adalah demi meraih keridhaan Allah.

Sekian resume rebonan kali ini. Mudah-mudahan kita selalu dijaga oleh Allah agar tetap berada di jalan yang lurus dan tetap dijaga untuk mempertahankan amal-amal baik kita.

Terakhir, marilah kita berdoa dengan doanya Rasul yang sering beliau bacakan di rumah:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبَ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Yang Maha Membolak balikkan Hati, teguhkanlah hati kami atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

IMG-20170510-WA0014

***

Yogyakarta, 12 Mei 2017

AhfieRofi