Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Resume Rebonan [17 Mei 2017]

april_2017-05-27-10-09-39-220

Rabu, 17 Mei 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji serta syukur kita kepada Allah, Zat yang Maha Kuasa atas seluruh alam. Karena berkata rahmat-Nya kita masih diberi kesempatan untuk berbuat baik dan memperbaiki diri. Begitupun atas kesehatan dan keselamatan yang diberikan-Nya kepada kita sehingga kita dapat beraktivitas dengan lancar. Atas segala nikmat itu, marilah kita mensyukurinya dengan sebaik-baik ungkapan kesyukuran yakni dengan memanfaatkan segala anugerah dan rahmat-Nya di jalan kebaikan. Semoga segala amal kita tercatat sebagai ibadah yang diterima di sisi-Nya.

Salawat dan salam tak luput kita haturkan kepada pemimpin umat ini, yang cintanya melebihi cintanya kepada keluarga bahkan kepada dirinya sendiri. Yang rela dengan sepenuh hati menanggung penderitaan seluruh umatnya, yang bahkan di akhir hayatnya pun doa beliau adalah agar seluruh derita dan perihnya sakaratul maut seluruh umatnya ditanggung olehnya agar tidak ada lagi satupun umatnya yang merasakan penderitaan sakaratul maut. Yang di hari pembalasan nanti menjadi satu-satunya orang yang sibuk ke sana kemari mencari umatnya, berulang-ulang sujud memohon di hadapan Rabb Semesta Alam agar mengizinkannya menyelamatkan umatnya yang masih tertinggal di neraka. Yang tidak bahagia sedikitpun ketika ditampakkan Firdaus-Nya dengan segala kenikmatan tak terbayangkan di hadapan matanya, alih-alih yang dia pikirkan adalah, “Di mana umatku, Ya Allah?”

Dialah, Rasul tercinta kita Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kita termasuk bagian dari umatnya yang mendapatkan syafaatnya kelak di Hari Kiamat.

Tak terasa, kini kita memasuki bulan penuh barakah Bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan ladang pahala berlipat ganda. Maka seyogianya kita sebagai umat muslim harus memanfaatkan bulan ini dengan baik. Sebab, boleh jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita. Sementara kita tidak tahu amal manakah dari amal-amal kita yang dapat menyelamatkan kita dari azab api neraka. Oleh karena itu, mari kita mulai biasakan kebaikan-kebaikan di bulan ini, agar mudah-mudahan kebaikan-kebaikan itu dapat terus berlanjut hingga seterusnya.

Pada Kajian Rebonan sebelumnya kita sudah mengulas mengenai istiqomah dan mengenai betapa pentingnya kita untuk mulai membiasakan kebaikan-kebaikan meskipun kecil. Sebab amal-amal kecil yang dilaksanakan terus menerus adalah lebih baik daripada amal besar yang dilakukan sekali seumur hidup.

 

IMG-20170517-WA0003

 

Kali ini, saudara kita Yaqin dari jurusan Arkeologi 2014 maju sebagai pemantik diskusi rebonan yang membahas mengenai tips-tips agar kita dapat istiqomah dalam kebaikan. Langsung ke tips pertama, “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah berdoa,” ujar Yaqin. Sebab, segala kebaikan adalah berasal dari Allah. Sebab yang akan kita istiqomahkan adalah kebaikan, amal saleh. Maka kita meminta kepada Allah agar Allah memudahkan kita dan membantu kita untuk menjaga amalan-amalan tersebut. Kita sudah mengulas mengenai doa yang biasa dibaca Rasul.

 

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبَ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Yang Maha Membolak balikkan Hati, teguhkanlah hati kami atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

 

Kemudian, hal kedua yang dapat menjaga keistiqomahan kita adalah taufik dan hidayah. Artinya, kita tidak akan bisa mengupayakan diri untuk istiqomah tanpa adanya  taufik dan hidayah dari Allah yang dapat menggerakkan hati kita untuk istiqomah. Namun, taufik dan hidayah ini pun tidak dapat datang serta merta. Kita pun harus berusaha dan berdoa agar taufik itu datang. Sebab seperti dalam kalam-Nya yang mulia dalam surah Ar-Rum, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri.

Hal ketiga yang dapat kita lakukan untuk menjaga keistiqomahan kita adalah dengan mengikuti mazhab ahlus sunnah wal jama’ah (empat mazhab: Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali). Sebab, dengan mengikuti mazhab ahlus sunnah wal jama’ah, kita dapat tetap menjaga keistiqomahan itu agar tetap di jalan yang benar, bukan istiqomah di jalan yang sesat.

Selain itu, kita juga perlu melakukan muhasabah sesering mungkin. Kita perlu merenung untuk memikirkan apakah kita sudah memperbaiki niat kita, apakah kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga keistiqomahan itu.

Kemudian hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah untuk tetap menjaga amal-amal yang biasa dilakukan. Misal, kita ingin membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap waktu dhuha. Sementara di waktu dhuha kita sudah terbiasa melaksanakan salat dhuha empat rakaat setiap harinya. Maka alangkah baiknya kita tetap melaksanakan salat dhuha sebanyak empat rakaat seperti biasa barulah kita membaca Al-Qur’an, jangan sampai kita terlalu fokus untuk membiasakan membaca Al-Qur’an sehingga kebiasaan kita salat dhuha empat rakaat itu terabaikan.

Selain hal-hal yang perlu dijaga dan diperhatikan tersebut, kita juga harus berhati-hati terhadap beberapa hal, antara lain godaan setan yang dapat kita atasi dengan terus berzikir dan memperbanyak ibadah; hawa nafsu yang bisa kita lawan dengan melembutkan hati kita dengan zikir; fitnah cobaan yang di masa kini amat banyak kita jumpai di berbagai tempat dapat kita hadapi dengan terus mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga diri sebaik mungkin dari godaan sekecil apapun.

Selain itu, kurangnya nasihat juga dapat menjadi penyebab kita lalai dan tidak bersemangat. Oleh karena itu, alangkah baik bila kita mulai menyempatkan diri kita mendatangi kajian-kajian agar kita dapat kembali terpicu untuk beramal. Tinggalkanlah sedikit demi sedikit urusan dunia yang dapat melalaikan kita dari tujuan awal kita. Lingkungan yang baik juga dapat berpengaruh pada diri kita. Carilah teman untuk diajak berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan.

Terakhir, sebagai manusia yang jauh dari sempurna, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak mungkin menjadi orang suci yang tidak pernah berbuat salah. Kemudian, kita juga harus menyadari bahwa sebesar apapun kesalahan kita, Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun. Selama kita tidak menyekutukan-Nya, insyaAllah Allah akan menerima taubat kita. Kita harus terus mengupayakan diri untuk beramal saleh dan bertaubat dari segala dosa. Sebab, Rasul yang maksum pun berzikir dan memohon ampun kepada Allah setiap hari. Janganlah kita berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah.

Mudah-mudahan Allah menolong kita.

 

IMG-20170517-WA0004

***

Yogyakarta, 27 Mei 2017

AhfieRofi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *