Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Refleksi untuk Negeri: HUT RI, SNSD, dan Elly Risman

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (Al A’raf : 96)

Tepat sehari setelah negeri ini merayakan hari ulang tahunnya ke-72, Indonesia kedatangan (lebih tepatnya: mendatangkan) dua personel girlband SNSD dalam Count Down Asian Games. Kedatangan dua personel SNSD tersebut, Taeyon dan Heyeon, sempat menggegerkan banyak pihak, baik yang pro maupun kontra. Terlebih, sebelumnya ada wacana bahwa pemerintah akan mendatangkan girlband tersebut dalam peringatan HUT RI ke-72. Tak ayal, pihak-pihak yang kontra semakin lantang bersuara.

Salah satu pihak yang cukup keras menolak kedatangan SNSD adalah Bunda Elly Risman. Beliau adalah seorang psikolog serta pemerhati dunia anak. Isu bahwa pemerintah akan menghadirkan SNSD dalam peringatan HUT RI tentu saja membuat beliau panas. Hal yang dikhawatirkan oleh Bunda Elly adalah mental anak-anak Indonesia. Bahkan, dalam akun Twitter nya, Bunda Elly menyebut SNSD sebagai simbol seks. Cuitan itu bukan tanpa risiko. Tak lama kemudian, Bunda Elly diberondong hujatan, caci maki, hingga kata-kata kasar yang sama sekali tidak pantas dari para warganet yang notabene kebanyakan adalah anak muda.

Apabila ditelaah, kekhawatiran Bunda Elly sebenarnya sangat wajar. Hal ini tak lepas dari kondisi anak-anak dan remaja saat ini yang sangat memprihatinkan. Mulai dari bullying, seks bebas, narkoba, dan banyak permasalahan lain, khususnya yang terjadi pada anak dan remaja yang masih menjadi pekerjaan rumah. Beberapa waktu lalu dunia maya sempat diramaikan dengan kabar meninggalnya seorang anak korban bullying atau perundungan. Dikabarkan anak tersebut dirundung oleh teman sekolahnya sendiri. Selain itu, chat mesra anak SD hingga foto dua anak kecil yang merayakan anniversary ‘hari jadiannya’ pun sempat viral. Duh, kalau kondisi ini dibiarkan bahkan diperparah dengan tontonan yang tidak layak, mau jadi apa Indonesia nanti? Tontonan yang sudah ada di media umum saja sudah sangat tidak ramah anak. Pihak berwenang seharusnya menyadari hal ini, bukan malah memperparah.

Di usia ke-72 tahun ini, Indonesia harus segera berbenah. Negeri ini tak boleh hanya mencukupkan diri dengan teriakan ‘merdeka’ dan upacara 17-an sebagai formalitas. Salah satu pekerjaan rumah yang belum beres adalah perbaikan moral generasi muda. Revolusi mental yang didengung-dengungkan tak boleh menjadi pemanis bibir semata. Akan tetapi, harus ada pengamalannya. Seharusnya, pendidikan yang lebih memberatkan penanaman nilai-nilai moral serta kesadaran etika diri lebih ditanamkan.  Pengemasan kurikulum yang tidak memberatkan  kiranya membantu siswa menerima ilmu-ilmu secara proporsional. Tidak berlebih dan tidak kurang.

Selain itu, terkait perayaan HUT RI di setiap tahunnya yang terkesan glamour (yang pasti menghabiskan banyak dana), pemerintah selayaknya betul-betul memperhitungkan pengeluaran negara. Terlebih saat ini hutang luar negeri Indonesia hampir mencapai 4000 triliun, beserta bunganya! Waduh, kemungkinan besar tahun ini dan tahun berikutnya akan banyak pencabutan subsidi untuk rakyat, kenaikan pajak, dan kebijakan lain yang semakin menambah beban hidup rakyat. Hal ini mengingat penerimaan APBN Indonesia didominasi hutang dan penerimaan pajak. Kesejahteraan rakyat pun makin sulit tercapai, layaknya ‘jauh panggang dari api’.

Usia 72 tahun bukan usia belia. Sudah saatnya negeri ini kembali berbenah. Kamu, mahasiswa, apa yang dapat kamu lakukan setelah semuanya terjadi? Merdeka.

***

Yogyakarta, 24 Agustus 2017

Egia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *