Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Resume Rebonan [30 Agustus 2017]

Assalamualaikum wr, wb.

Alhamdulillah, setelah dua bulan lebih melalui masa-masa liburan, KMIB kembali hadir dengan program rutinnya setiap rabu ba’da dzuhur, yakni Kajian Rebonan.

Kali ini narasumber untuk Kajian Rebonan adalah Mas Raden Ahmad Julyadi (Adi), mahasiswa Sastra Arab angkatan 2014 sekaligus mantan mas’ul/ketua KMIB periode sebelumnya yang berbagi mengenai pengalaman berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tiga bulan yang lalu.

Pengalaman KKN selama dua bulan sangat berharga bagi Mas Adi. Selain pengalaman mengenai cara menyelesaikan masalah, bekerja dengan tim, dan belajar bersosialisasi dan terjun di masyarakat, Mas Adi mendapat pengalaman dakwah yang sangat berharga.

Mas Adi mendapat tugas KKN di daerah bernama Rabadongpu, Bima, NTB. Daerah yang masih terbilang dusun itu pernah dilanda banjir bandang yang merugikan desa pada 2016 lalu. Beberapa kelompok masyarakat di sana menganggap para petani jagung adalah penyebab dari terjadinya banjir ini. Namun, sebagian kelompok yang lain menganggap bahwa perjudian dan sabung ayamlah yang menyebabkan desa mereka terkena bencana banjir bandang.

Memang, meskipun daerah Rabadongpu mayoritas berpenduduk muslim, kegiatan perjudian berupa sabung ayam sudah menjadi kebiasaan yang membudaya di daerah mereka. Kegiatan sehari-hari masyarakat terutama pemuda di sana adalah sabung ayam, mulai dari pukul sepuluh pagi sampai pukul lima sore. Hal ini tentu tidak terlepas dari perhatian kepala desa. Kepala desa sudah melakukan berbagai upaya agar kegiatan sabung ayam ini dapat berhenti. Namun, kegiatan itu masih berjalan hingga sekarang.

Di luar dugaan, ada kebiasaan yang unik yang terjadi di masyarakat itu. Meskipun mereka menyabung ayam dari pagi sampai sore, apabila waktu dzuhur tiba sebagian besar dari mereka berhenti menyabung ayam dan langsung pergi ke masjid. Kegiatan sabung ayam pun berhenti sejenak. Namun, setelah itu mereka kembali melanjutkan sabung ayam dan lagi-lagi berhenti ketika waktu ashar tiba.

Melihat fenomena ini, tim Mas Adi sebagai koordinator tim KKN Soshum bersama teman-teman berusaha menyiasati agar mereka mengurangi intensitas kegiatan sabung ayam tersebut dengan cara mengadakan program-program produktif pada jam-jam biasa mereka melakukan sabung ayam.

Usaha Mas Adi tidak sampai sini. Di hari terakhir KKN, Mas Adi berinisiatif pergi ke kantor kepala desa sendirian. Dia bermaksud meminta izin kepada kepala desa untuk menghancurkan arena sabung ayam di desa tersebut. Ternyata, niat ini disambut baik oleh kepala desa. Akhirnya, dengan modal nekat, dia pergi ke tempat sabung ayam ketika tidak ada orang di sana. Ia mulai mencabuti tiang-tiang dan kain pembatas sabung ayam lalu membuangnya di tempat yang tersembunyi. Kemudian, dia menyebarkan selebaran kertas berisi tulisan-tulisan mengenai larangan melakukan sabung ayam dan peringatan mengenai dosa melakukan sabung ayam di daerah sabung ayam tersebut.

Dari pengalaman Mas Adi ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil bahwa di mana pun kita berada, di sanalah kita dituntut untuk tetap menjadi da’i sebagiamana yang kita lakukan di lingkungan kita mulai dari hal-hal kecil seperti mengajak teman salat, mengingatkan untuk membaca doa ketika bersin, dan lain-lain. Mudah-mudahan kita bisa menjadi pribadi-pribadi da’i yang mengamalkan amar ma’ruf dan nahi munkar di mana pun kita berada.

***

Yogyakarta, 30 Agustus 2017

Ahfie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *