Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Ramadhan Sebentar Lagi, Sambut Kemenangan Hakiki

ramadhanok

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, Ramadhan tiba…

Maa sya Allah, sebentar lagi guys! Iya, sebentar lagi… Si dia yang kita tunggu-tunggu selama berbulan-bulan akhirnya sebentar lagi tiba. Ya, euforia menyambut Ramadhan memang sudah sangat kentara. Dari mulai promo sinetron religi, iklan sirup berseri, iklan sarung, spanduk ucapan selamat berpuasa, dan berbagai atribut yang biasa kita jumpai menjelang Ramadhan mulai bertebaran. Tua muda berbahagia menyambut bulan yang berkah. Ada yang merindukan nikmatnya waktu berbuka, berbahagia menyambut gaji ke-13, merindukan safari masjid (untuk dapat kajian plus takjil gratis) bareng temen kost, dan ada pula yang merindukan kenikmatan ibadah di bulan suci ini. Kamu yang mana? Hehe.

Ramadhan memang bulan yang begitu istimewa. Setiap detiknya dapat bernilai pahala yang besar bagi orang-orang yang mau mengisinya dengan iman dan amal sholih. Masjid-masjid penuh jamaah di waktu tarawih, kajian-kajian taman surga yang menawarkan takjil gratis pun menjamur, tua muda berlomba lantunkan ayat suci Al-Qur’an, dan berbagai kegiatan lain yang sangat menyejukkan yang jarang kita temukan di bulan lainnya. Betul, Ramadhan memang ajaib. Suasana keimanan begitu kental di setiap harinya. Bahkan, Ramadhan melatih kita untuk memulai dan membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa kita lanjutkan di bulan-bulan selanjutnya seperti puasa sunnah, qiyamullail, tilawatul qur’an, sedekah, dan lain-lain.

Namun sayang beribu sayang, tak sedikit yang tidak melanjutkan semangat keimanan Ramadhan di bulan-bulan selanjutnya. Misalnya, di negeri mayoritas muslim terbesar sedunia, Indonesia tercinta, ketaqwaan nampaknya belum melekat kuat pada diri individu muslim. Berbagai problematika terjadi, mulai dari penyakit masyarakat (pekat) seperti prostitusi, minuman keras, judi, kriminalitas, KDRT, perzinahan, aborsi, tawuran dan lain-lain, hingga penyakit pejabat, seperti korupsi, gratifikasi hingga ‘menjual’ aset Indonesia kepada swasta asing. Begitu banyak permasalahan rumit yang mengindikasikan bahwa ketaqwaan belum betul-betul melekat di tiap diri seorang muslim. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Al0Baqarah ayat 183 bahwa puasa di bulan Ramadhan dimaksudkan untuk mencapai taqwa. So, sudah berapa kali Ramadhan berlalu dalam hidup kita? Tanya kenapa.

Salah satu ‘berhala’ modern yang masih dipertahankan manusia menjadi penyebabnya. Saat ini memang sudah tidak ada lagi berhala bernama hubal, latta, uzza maupun manna. Akan tetapi, ‘berhala’ modern itu berbentuk pemikiran sesat dan menyesatkan, ialah sekulerisme.

Sekulerisme, paham yang memisahkan aturan agama dengan sistem hidup manusia, nyatanya telah menaungi ummat muslim hari ini, bukan hanya di Indonesia melainkan seluruh dunia. Ialah paham yang sesat dan menyesatkan, serta tak layak dijadikan sandaran hidup setiap insan. Sekulerisme meniscayakan orang menjadi alim di kala Ramadhan dan dholim di bulan berikutnya, begitu pula orang yang khusyuk di masjid, tapi liar di dunia luar. Butuh bukti? Just look at phenomenon around you, or maybe, ehm.. on yourselves.

Bagaimana mungkin manusia, makhluk yang lemah dan serba terbatas, hendak berlepas diri dari aturan Sang Pencipta, Allah SWT? Bagaimana mungkin, manusia di suatu saat mengagungkan Allah dan menjadikan Allah satu-satunya, tetapi di saat lain begitu menentang syariat Allah dengan perkataan dan perbuatannya? Padahal Allah menyatakan dalam Al Baqarah ayat 208,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Ya, Allah memerintahkan kita untuk masuk Islam secara sempurna. Maka dari itu, jelas bahwa konsep sekulerisme tidak relevan bila disandangkan kepada Islam. Oke, fix.

Maka dari itu, yuk guys muhasabah. Jangan sampai kita, keluarga kita, teman-teman kita, masyarakat kita, bahkan negara kita menjadi ‘korban’ sekaligus ‘pelaku’ sekulerisme. Jangan sampai Ramadhan kita nanti berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas hanya karena paham yang sesat dan menyesatkan ini. Bismillah, yuk renungkan bersama, yuk berhijrah dari pemikiran dan sistem hidup jahiliyah menuju kegemilangan Islam. Yuk, back to Muslim identity.

***

Yogyakarta, 20 Mei 2017

Egia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *