Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Palestina, Tanah Para Syuhada

Palestina, Tanah Para Syuhada’

 

Lagi. Palestina kembali (dan masih saja) bergemuruh.

Jumat lalu, situasi di kompleks Masjid al-Aqsa kembali setelah peristiwa serangan tiga pria bersenjata yang menewaskan dua tentara Israel. Akibatnya, Kepolisian Israel memasang detektor metal di kompleks Masjidil Aqsha dan melarang pria muslim berusia di bawah 50 tahun untuk memasuki kompleks masjid. Terjadilah bentrok antara kaum muslimin Palestina dan kepolisian Israel, kemudian aktivis pergerakan Palestina ditangkapi, bahkan kepolisian Israel juga menembak Imam Masjid Al Aqsa selepas beliau menunaikan shalat.

Situasi di Palestina hari ini hanyalah satu dari sekian banyak ‘kebiadaban’ zionis Israel di tanah Al Quds. Sebelumnya, tak terkira berapa banyak nyawa kaum muslimin Palestina yang dihabisi Israel. Salah satunya pada tahun 2009, syahid 1300 rakyat Palestina di tangan zionis Israel kurang dari satu bulan! Begitu pula wilayah Palestina yang semakin hari semakin menyempit digerogoti zionis Israel. Bahkan beberapa waktu lalu, Palestina tidak ditemukan di google maps. Kondisi ini tentunya bukan hal remeh, karena ini menyangkut nyawa kaum muslimin. Bahkan, Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya menyatakan bahwa hancurnya ka’bah lebih baik dari hilangnya nyawa seorang muslim tanpa sebab yang dibenarkan.

 

Palestina, Tanah Penuh Pesona

Tanah Palestina memang tanah penuh pesona bagi tiga agama langit, yakni Islam, Nasrani dan Yahudi. Bagi kaum Nasrani, tanah ini merupakan tanah kelahiran dan kematian Yesus. Bagi Yahudi, tanah itu merupakan tanah terjanji, tempat Nabi Daud as dan Sulaiman as membina kerajaan. Selain itu, terdapat tembok ratapan di tanah Al Quds sebagai tempat ibadah kaum Yahudi yang diyakini sebagai peninggalan Haikal Sulaiman. Sedangkan, bagi kaum muslimin, Palestina (Masjid Al Aqsa) adalah kiblat pertama sekaligus tempat bersejarah di mana Rasulullah saw melaksanakan perjalanan Isra’ Mi’raj. Selain itu, bagi kaum muslimin, tanah Palestina adalah tanah yang diperjuangkan oleh para syuhada’, salah satunya melalui perjuangan jihad tentara Islam yang dipimpin oleh Sholahuddin Al Ayyubi ketika merebut tanah Palestina dari penjajahan tentara salib.

Selama berabad-abad, tanah Al Quds berada di bawah kekuasaan Khilafah Islamiyah. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab, Palestina yang merupakan bagian dari wilayah Syam dibebaskan dan kemudian menjadi bagian dari kekhilafahan. Dalam perjalannya, tanah Palestina sempat jatuh ke tangan tentara salib, namun kemudian melalui perjuangan Sholahuddin al Ayyubi, Palestina kembali menjadi tanah kaum muslimin.

Hingga akhir abad ke 18, Palestina masih berada di bawah kekuasaan Khilafah Utsmani yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hamid II. Pada tahun 1897, muncul gerakan Zionis yang dipelopori oleh Theodor Hertzl, yang kini dikenal sebagai Bapak Zionis, dan Rothschild, seorang konglomerat Yahudi. Gerakan tersebut bertekad menyatukan kaum Yahudi (yang saat itu diaspora) dalam satu negara. Dipilihlah tanah Palestina sebagai lokasi negara tersebut, karena bagi kaum Yahudi, tanah Al Quds tanah terjanji. Sayangnya, Palestina masih dalam kekuasaan Khalifah Abdul Hamid II, sehingga menurut kaum Yahudi mereka harus memohon dan meminta kepada ‘pemilik’ Al Quds untuk memberinya sebagian tanah Palestina.

Pada kunjungan pertamanya, Thedore Hertlz harus pulang dengan tangan hampa. Sultan Hamid II menolak keras permohonan Hertlz dengan menyatakan, “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku”. Penolakan tersebut tidak membuat Theodore Hertlz menyerah. Pada tahun 1902, Theodore Hertzl kembali mendatangi Khalifah Abdul Hamid II untuk memohon tanah Palestina. Kali ini ia membawa sejumlah uang sebagai ‘pelicin’ niatnya. Namun, kembali Khalifah Abdul Hamid II menjawabnya dengan kalimat diplomatis. Berikut pernyataan Khalifah Abdul Hamid II yang tercatat dalam “Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II” karya Muhammad Harb.

“Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup”.

Maa syaa Allah, inilah pernyataan seorang pemimpin negara yang begitu lugas dan tegas terhadap segala bentuk gerakan separatis di negaranya, tentunya sebelum Khilafah Utsmaniyah resmi diruntuhkan dan dibubarkan melalui tangan penghianat Mustafa Kemal pada 1924. Setelah ketiadaan Khilafah Utsmaniyah yang melindungi tanah kaum muslimin, negeri-negeri Islam menjadi ‘kue-kue lezat’ yang diperebutkan dan dinikmati kaum penjajah. Melalui berbagai perjanjian, Inggris dan Prancis membagi-membagi wilayah Khilafah Utsmaniyah menjadi negara-negara kecil yang dikuasai oleh kaum penjajah dan konco-konconya (baca:sekutu).

Melalui deklarasi Balfour pada 2 November 1917, pemerintahan Inggris menyetujui pendirian negara Israel di tanah Palestina yang saat itu berada di bawah penguasaan Inggris. Setelah, itu LBB (Liga Bangsa-Bangsa) sebagai cikal bakal PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) semakin mempermudah legalitas keberadaan negara Israel di tanah Palestina, kemudian terjadilah eksodus besar-besaran kaum Yahudi ke tanah Palestina. Puncaknya pada 29 November 1947, PBB mengumumkan berdirinya negara Israel di tanah Palestina yang diamini Amerika Serikat dengan wilayah Israel 55% dari wilayah Palestina. Peristiwa inilah yang menjadi legalitas berdirinya negara Israel di jantung negeri-negeri Islam berkat bantuan Inggris, Amerika dan LBB atau PBB.

Hari ini, air mata kaum muslimin kembali menetes menyaksikan kebiadaban zionis di tanah haram Al Quds. Entah, apakah kepedihan yang menimpa umat muslim Palestina kali ini akan menjadi episode terakhir atau hanya sepenggal kisah penderitaan yang terus berlanjut? Hanya Allah yang tau kapan penderitaan saudara-saudara kita di palestina, begitu juga di negeri lain, akan berakhir.

Namun, setiap orang yang mengaku muslim tidak akan hanya berdiam diri menyaksikan kedzaliman ini. Mereka yang muslim pasti mendidih darahnya menyaksikan penyiksaan yang menimpa saudaranya, meskipun berada di belahan bumi lain. Salah satu hal kecil yang dapat dilakukan adalah berdoa. Sematkan doa-doa terbaik kita di sepertiga malam terakhir kepada saudara-saudara kita di Palestina, maupun di negeri-negeri muslim lainnya yang terdzolimi, termasuk di Indonesia. Karena bagaimanapun, doa adalah senjata dan pengharapan setiap muslim. Selain itu, bantuan berupa makanan, harta dan obat-obatan juga bermanfaat bagi saudara-suadara kita. Meskipun dalam kasus ini, bantuan tersebut tidak kemudian menuntaskan masalah kaum muslimin Palestina. Maka dari itu, selain bantuan materi, usaha untuk kembali menyatukan kekuatan dan potensi kaum muslimin dalam satu pemerintahan global juga harus menjadi fokus kaum muslimin. Sebab, inilah institusi yang mampu melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin dari kerakusan dan kebiadaban kafir penjajah. Institusi semacam ini yang memungkinkan tanah Palestina, tanah yang dialiri darah segar para syuhada’, kembali terbebaskan dan kembali ke tangan kaum muslimin. Perjuangan semacam ini harus terus berlanjut, meskipun mendapatkan penghadangan dari pihak-pihak yang membenci Islam.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan menyegerakan datangnya pertolongan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Aamiin.

***

Yogyakarta, 22 Juli 2017

Egia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *