KMIB FIB UGM Kepengurusan 1437 H (Kabinet Hazmi Insani)

Merekatkan Tali Ukhuwah

Merekatkan Kembali Tali Ukhuwah

Assalamualaikum saudaraku yg dicintai Allah, tahukah engkau?

Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 10 menyatakan bahwa kaum mukminin itu bersaudara. Terkait ayat tersebut, Imam Ali Ash-Shabuni dalam Shafwah af-Tafasir menyatakan,

“Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat dari pada persaudaraan karena faktor nasab”.

Ya, inilah seharusnya ikatan yang menyatukan dan mendamaikan kaum muslimin satu sama lain, yakni ikatan ukhuwah islamiyah. Ialah ikatan yang global dan paripurna, tidak mengenal suku, bangsa, maupun ras.

Namun, tak bisa dipungkiri ikatan ukhuwah kaum muslimin -beberapa kali hingga saat ini- telah terkoyak. Labelisasi yang diciptakan musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin telah mengkotak-kotak dan memecah belah persatuan kaum muslimin. Itulah strategi salah satu lembaga think-tank AS yang membagi kaum muslimin menjadi empat kelompok. Empat kelompok itu antara lain kelompok fundamentalis, yakni kelompok yang menolak nilai-nilai kufur barat; kelompok tradisionalis, yakni kelompok yang menginginkan masyarakat yang konservatif; kelompok modernis, yakni kelompok yang menginginkan modernisasi Islam; dan kelompok sekularis, yakni mereka yang menerima paham sekulerisme beragama.

Tak sampai di situ, strategi ini pun berlanjut yakni dengan melancarkan politik belah bambu atau politik adu domba. Aksi yang menggambarkan upaya tersebut antara lain dengan mendukung satu pihak dan  menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok.

Sebenarnya, strategi adu domba bukan gaya baru musuh-musuh Islam dalam memecah belah kaum muslimin. Di masa lalu, kafir penjajah pun melangsungkan hal serupa. Seperti halnya yang telah diramu Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda di tengah masyarakat Aceh yang memegang teguh keislaman mereka.

Saat ini, kaum muslimin seharusnya mampu mengambil pelajaran dan tidak melupakan ikatan ukhuwah islamiyah. Panasnya suhu politik, isu-isu pembubaran ormas, maupun kriminalisasi ulama yang menggoncang tubuh kaum muslimin saat ini jangan sampai mengoyak tali ukhuwah islamiyah. Kaum muslimin selayaknya mengenali common enemy yang telah Allah kabarkan dalam Al Qur’an salah satunya dalam QS Ali Imron 118. Begitu pula, tidak selayaknya kaum muslimin menggunakan kacamata Barat dalam menilai saudaranya yang lain. Tidak selayaknya satu ormas Islam berprasangka buruk kepada ormas Islam lain, tanpa berusaha membangun komunikasi yang baik melalui forum tabayyun. Maka dari itu, persatuan kaum muslimin pun sedikit demi sedikit kembali terjalin.

Sayangnya, persatuan tersebut baru menjadi pemanis bibir bahkan cita-cita yang terkesan utopis di era kebangsaan ini, yakni ketika bukan ikatan akidah yang menyatukan kaum muslimin seluruh dunia. Hal ini dikarenakan makna ukhuwah islamiyah bersifat global dan tidak dibatasi patok-patok batas negara.

Ketika kaum muslimin di negeri-negeri lain mengalami diskriminasi, bahkan pembantaian, kaum muslimin di negeri lain tidak dapat berbuat banyak selain mengirim bantuan logistik, kesehatan, maupun doa. Sayangnya usaha tersebut belum cukup untuk menyelesaikan permasalahan kaum muslimin di negara lain. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya kekuatan politik berupa institusi yang dapat menyatukan ukhuwah islamiyah, serta melindungi dan mengayomi kaum muslimin maupun kaum nonmuslim yang hidup di dalamnya. Dengan demikian, persatuan kaum muslimin dalam bingkai ukhuwah Islamiyah yang hakiki pun kembali terajut.

***

Yogyakarta,

Egia

Resume Rebonan [17 Mei 2017]

Rabu, 17 Mei 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji serta syukur kita kepada Allah, Zat yang Maha Kuasa atas seluruh alam. Karena berkata rahmat-Nya kita masih diberi kesempatan untuk berbuat baik dan memperbaiki diri. Begitupun atas kesehatan dan keselamatan yang diberikan-Nya kepada kita sehingga kita dapat beraktivitas dengan lancar. Atas segala nikmat itu, marilah kita mensyukurinya dengan sebaik-baik ungkapan kesyukuran yakni dengan memanfaatkan segala anugerah dan rahmat-Nya di jalan kebaikan. Semoga segala amal kita tercatat sebagai ibadah yang diterima di sisi-Nya.

Salawat dan salam tak luput kita haturkan kepada pemimpin umat ini, yang cintanya melebihi cintanya kepada keluarga bahkan kepada dirinya sendiri. Yang rela dengan sepenuh hati menanggung penderitaan seluruh umatnya, yang bahkan di akhir hayatnya pun doa beliau adalah agar seluruh derita dan perihnya sakaratul maut seluruh umatnya ditanggung olehnya agar tidak ada lagi satupun umatnya yang merasakan penderitaan sakaratul maut. Yang di hari pembalasan nanti menjadi satu-satunya orang yang sibuk ke sana kemari mencari umatnya, berulang-ulang sujud memohon di hadapan Rabb Semesta Alam agar mengizinkannya menyelamatkan umatnya yang masih tertinggal di neraka. Yang tidak bahagia sedikitpun ketika ditampakkan Firdaus-Nya dengan segala kenikmatan tak terbayangkan di hadapan matanya, alih-alih yang dia pikirkan adalah, “Di mana umatku, Ya Allah?”

Dialah, Rasul tercinta kita Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kita termasuk bagian dari umatnya yang mendapatkan syafaatnya kelak di Hari Kiamat.

Tak terasa, kini kita memasuki bulan penuh barakah Bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan ladang pahala berlipat ganda. Maka seyogianya kita sebagai umat muslim harus memanfaatkan bulan ini dengan baik. Sebab, boleh jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita. Sementara kita tidak tahu amal manakah dari amal-amal kita yang dapat menyelamatkan kita dari azab api neraka. Oleh karena itu, mari kita mulai biasakan kebaikan-kebaikan di bulan ini, agar mudah-mudahan kebaikan-kebaikan itu dapat terus berlanjut hingga seterusnya.

Pada Kajian Rebonan sebelumnya kita sudah mengulas mengenai istiqomah dan mengenai betapa pentingnya kita untuk mulai membiasakan kebaikan-kebaikan meskipun kecil. Sebab amal-amal kecil yang dilaksanakan terus menerus adalah lebih baik daripada amal besar yang dilakukan sekali seumur hidup.

 

IMG-20170517-WA0003

 

Kali ini, saudara kita Yaqin dari jurusan Arkeologi 2014 maju sebagai pemantik diskusi rebonan yang membahas mengenai tips-tips agar kita dapat istiqomah dalam kebaikan. Langsung ke tips pertama, “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah berdoa,” ujar Yaqin. Sebab, segala kebaikan adalah berasal dari Allah. Sebab yang akan kita istiqomahkan adalah kebaikan, amal saleh. Maka kita meminta kepada Allah agar Allah memudahkan kita dan membantu kita untuk menjaga amalan-amalan tersebut. Kita sudah mengulas mengenai doa yang biasa dibaca Rasul.

 

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبَ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Yang Maha Membolak balikkan Hati, teguhkanlah hati kami atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

 

Kemudian, hal kedua yang dapat menjaga keistiqomahan kita adalah taufik dan hidayah. Artinya, kita tidak akan bisa mengupayakan diri untuk istiqomah tanpa adanya  taufik dan hidayah dari Allah yang dapat menggerakkan hati kita untuk istiqomah. Namun, taufik dan hidayah ini pun tidak dapat datang serta merta. Kita pun harus berusaha dan berdoa agar taufik itu datang. Sebab seperti dalam kalam-Nya yang mulia dalam surah Ar-Rum, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri.

Hal ketiga yang dapat kita lakukan untuk menjaga keistiqomahan kita adalah dengan mengikuti mazhab ahlus sunnah wal jama’ah (empat mazhab: Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali). Sebab, dengan mengikuti mazhab ahlus sunnah wal jama’ah, kita dapat tetap menjaga keistiqomahan itu agar tetap di jalan yang benar, bukan istiqomah di jalan yang sesat.

Selain itu, kita juga perlu melakukan muhasabah sesering mungkin. Kita perlu merenung untuk memikirkan apakah kita sudah memperbaiki niat kita, apakah kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga keistiqomahan itu.

Kemudian hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah untuk tetap menjaga amal-amal yang biasa dilakukan. Misal, kita ingin membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap waktu dhuha. Sementara di waktu dhuha kita sudah terbiasa melaksanakan salat dhuha empat rakaat setiap harinya. Maka alangkah baiknya kita tetap melaksanakan salat dhuha sebanyak empat rakaat seperti biasa barulah kita membaca Al-Qur’an, jangan sampai kita terlalu fokus untuk membiasakan membaca Al-Qur’an sehingga kebiasaan kita salat dhuha empat rakaat itu terabaikan.

Selain hal-hal yang perlu dijaga dan diperhatikan tersebut, kita juga harus berhati-hati terhadap beberapa hal, antara lain godaan setan yang dapat kita atasi dengan terus berzikir dan memperbanyak ibadah; hawa nafsu yang bisa kita lawan dengan melembutkan hati kita dengan zikir; fitnah cobaan yang di masa kini amat banyak kita jumpai di berbagai tempat dapat kita hadapi dengan terus mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga diri sebaik mungkin dari godaan sekecil apapun.

Selain itu, kurangnya nasihat juga dapat menjadi penyebab kita lalai dan tidak bersemangat. Oleh karena itu, alangkah baik bila kita mulai menyempatkan diri kita mendatangi kajian-kajian agar kita dapat kembali terpicu untuk beramal. Tinggalkanlah sedikit demi sedikit urusan dunia yang dapat melalaikan kita dari tujuan awal kita. Lingkungan yang baik juga dapat berpengaruh pada diri kita. Carilah teman untuk diajak berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan.

Terakhir, sebagai manusia yang jauh dari sempurna, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak mungkin menjadi orang suci yang tidak pernah berbuat salah. Kemudian, kita juga harus menyadari bahwa sebesar apapun kesalahan kita, Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun. Selama kita tidak menyekutukan-Nya, insyaAllah Allah akan menerima taubat kita. Kita harus terus mengupayakan diri untuk beramal saleh dan bertaubat dari segala dosa. Sebab, Rasul yang maksum pun berzikir dan memohon ampun kepada Allah setiap hari. Janganlah kita berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah.

Mudah-mudahan Allah menolong kita.

 

IMG-20170517-WA0004

***

Yogyakarta, 27 Mei 2017

AhfieRofi

Ramadhan Sebentar Lagi, Sambut Kemenangan Hakiki

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, Ramadhan tiba…

Maa sya Allah, sebentar lagi guys! Iya, sebentar lagi… Si dia yang kita tunggu-tunggu selama berbulan-bulan akhirnya sebentar lagi tiba. Ya, euforia menyambut Ramadhan memang sudah sangat kentara. Dari mulai promo sinetron religi, iklan sirup berseri, iklan sarung, spanduk ucapan selamat berpuasa, dan berbagai atribut yang biasa kita jumpai menjelang Ramadhan mulai bertebaran. Tua muda berbahagia menyambut bulan yang berkah. Ada yang merindukan nikmatnya waktu berbuka, berbahagia menyambut gaji ke-13, merindukan safari masjid (untuk dapat kajian plus takjil gratis) bareng temen kost, dan ada pula yang merindukan kenikmatan ibadah di bulan suci ini. Kamu yang mana? Hehe.

Ramadhan memang bulan yang begitu istimewa. Setiap detiknya dapat bernilai pahala yang besar bagi orang-orang yang mau mengisinya dengan iman dan amal sholih. Masjid-masjid penuh jamaah di waktu tarawih, kajian-kajian taman surga yang menawarkan takjil gratis pun menjamur, tua muda berlomba lantunkan ayat suci Al-Qur’an, dan berbagai kegiatan lain yang sangat menyejukkan yang jarang kita temukan di bulan lainnya. Betul, Ramadhan memang ajaib. Suasana keimanan begitu kental di setiap harinya. Bahkan, Ramadhan melatih kita untuk memulai dan membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa kita lanjutkan di bulan-bulan selanjutnya seperti puasa sunnah, qiyamullail, tilawatul qur’an, sedekah, dan lain-lain.

Namun sayang beribu sayang, tak sedikit yang tidak melanjutkan semangat keimanan Ramadhan di bulan-bulan selanjutnya. Misalnya, di negeri mayoritas muslim terbesar sedunia, Indonesia tercinta, ketaqwaan nampaknya belum melekat kuat pada diri individu muslim. Berbagai problematika terjadi, mulai dari penyakit masyarakat (pekat) seperti prostitusi, minuman keras, judi, kriminalitas, KDRT, perzinahan, aborsi, tawuran dan lain-lain, hingga penyakit pejabat, seperti korupsi, gratifikasi hingga ‘menjual’ aset Indonesia kepada swasta asing. Begitu banyak permasalahan rumit yang mengindikasikan bahwa ketaqwaan belum betul-betul melekat di tiap diri seorang muslim. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Al0Baqarah ayat 183 bahwa puasa di bulan Ramadhan dimaksudkan untuk mencapai taqwa. So, sudah berapa kali Ramadhan berlalu dalam hidup kita? Tanya kenapa.

Salah satu ‘berhala’ modern yang masih dipertahankan manusia menjadi penyebabnya. Saat ini memang sudah tidak ada lagi berhala bernama hubal, latta, uzza maupun manna. Akan tetapi, ‘berhala’ modern itu berbentuk pemikiran sesat dan menyesatkan, ialah sekulerisme.

Sekulerisme, paham yang memisahkan aturan agama dengan sistem hidup manusia, nyatanya telah menaungi ummat muslim hari ini, bukan hanya di Indonesia melainkan seluruh dunia. Ialah paham yang sesat dan menyesatkan, serta tak layak dijadikan sandaran hidup setiap insan. Sekulerisme meniscayakan orang menjadi alim di kala Ramadhan dan dholim di bulan berikutnya, begitu pula orang yang khusyuk di masjid, tapi liar di dunia luar. Butuh bukti? Just look at phenomenon around you, or maybe, ehm.. on yourselves.

Bagaimana mungkin manusia, makhluk yang lemah dan serba terbatas, hendak berlepas diri dari aturan Sang Pencipta, Allah SWT? Bagaimana mungkin, manusia di suatu saat mengagungkan Allah dan menjadikan Allah satu-satunya, tetapi di saat lain begitu menentang syariat Allah dengan perkataan dan perbuatannya? Padahal Allah menyatakan dalam Al Baqarah ayat 208,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Ya, Allah memerintahkan kita untuk masuk Islam secara sempurna. Maka dari itu, jelas bahwa konsep sekulerisme tidak relevan bila disandangkan kepada Islam. Oke, fix.

Maka dari itu, yuk guys muhasabah. Jangan sampai kita, keluarga kita, teman-teman kita, masyarakat kita, bahkan negara kita menjadi ‘korban’ sekaligus ‘pelaku’ sekulerisme. Jangan sampai Ramadhan kita nanti berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas hanya karena paham yang sesat dan menyesatkan ini. Bismillah, yuk renungkan bersama, yuk berhijrah dari pemikiran dan sistem hidup jahiliyah menuju kegemilangan Islam. Yuk, back to Muslim identity.

***

Yogyakarta, 20 Mei 2017

Egia

Resume Rebonan [10 Mei 2017]

Rabu, 10 Mei 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji serta syukur kita atas rahmat Allah yang dengannya kita masih bisa merasakan berbagai kenikmatan yang diberikan oleh Allah secara cuma-cuma untuk kita. Setiap embus napas, setiap kumparan cahaya yang kita terima melalui mata kita, setiap bunyi dan bising yang masih bisa berdenging dan kita rasakan lewat telinga kita, dan segala hal yang meliputi kehidupan kita yang kesemuanya adalah rahmat dan pemberian berharga dari Allah, semoga itu semua dapat kita syukuri dengan segenap kesyukuran dan semoga nikmat dan rahmat itu dapat kita gunakan sebagai modal untuk beramal baik selagi kita bisa.

Kemudian, tak lupa pula kita haturkan salawat serta salam untuk Nabi panutan kita yang tersebab dakwah dan doa-doa beliau beserta sahabat-sahabatnya Islam semakin berjaya dari masa ke masa hingga kita pun yang hidup ratusan tahun setelahnya pun masih dapat merasakan kenikmatan dan kehangatan cahaya Islam. Mudah-mudahan kita tidak lupa untuk selalu bersalawat dan meminta syafaat dari Nabi junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

IMG-20170510-WA0013

Sebagai bagian dari Bani Adam yang tak lepas dari kesalahan, kita tentu sangatlah mengharap keteguhan dan keistiqomahan dalam berbuat baik dan tetap berada di jalan yang baik. Sebab, berbuat baik itu lebih mudah daripada mengistiqomahkan kebaikan itu sendiri. Seperti kata Rasul, kebaikan kecil yang berkesinambungan dari waktu ke waktu sungguh lebih baik dan lebih disukai daripada kebaikan besar yang dilakukan sekali tanpa ada keberlanjutan ke depannya.

Namun, meskipun kecil, kebaikan yang ingin kita istiqomahkan terkadang sangat sulit untuk diupayakan. Pak Jarwo dosen Sastra Prancis yang pada kesempatan kali ini berkesempatan untuk menjadi pemantik diskusi Rebonan minggu ini pun memaparkan beberapa hal mengenai istiqomah ini.

Beliau menjelaskan bahwa istiqomah itu dimulai dari hal yang sangat kecil, tetapi dengan segala daya dan upaya kita berusaha untuk menjaga kebaikan kecil itu agar dapat berlangsung dari waktu ke waktu meningkat sedikit demi sedikit. Katakanlah kita memulai dengan bersedekah setiap hari. Maka mulailah dengan bersedekah 500 rupiah untuk hari ini. Kemudian, esok hari lakukan lagi. Terus lakukan setiap hari dengan peningkatan sedikit demi sedikit.

Untuk menjaga keistiqomahan dan keteguhan hati kita tidaklah serta merta tanpa cobaan. Untuk mempertahankan keistiqomahan tersebut, terkadang kita akan dihadapkan pada rasa takut, cobaan dalam bentuk kekeringan, menipisnya kebutuhan, sempit dan sesak ketika menjalani, dan sebagainya. Hal ini seperti termaktub dalam kitabullah,

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn’.” (Al-Baqarah: 155-156).

Maka satu satunya upaya yang dapat kita lakukan untuk mengatasi cobaan-cobaan itu adalah dengan terus berpegang teguh pada tujuan kita. Tetaplah usahakan kebaikan itu, dan teruslah berdoa kepada Allah.

Selain itu, salah satu cara agar kita dapat menjaga keistiqomahan itu, kita harus mencari motivasi kuat yang dapat membuat kita terpantik untuk melakukan kebaikan itu. Pak Amir dan Pak Masrukhi menambahkan pada diskusi rebonan kali ini bahwa kita boleh menjadikan pahala sebagai motivasi kita beramal. Malah, kita boleh saja menjadikan seseorang lawan jenis sebagai motivasi awal kita berbuat baik. Hal ini bukan berarti kita dibolehkan beramal atas nama mereka atau demi pahala dan mengesampingkan tujuan hakiki yakni demi meraih keridhaan Allah. Melainkan, motivasi-motivasi itu hanyalah sebagai pemantik awal agar kita dapat membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut. Esok hari ketika kita sudah terbiasa melakukan amal-amal tersebut, tujuan dan motivasi itu sedikit demi sedikit dapat berubah menjadi motivasi dan tujuan yang lebih besar. Puncaknya, insyaAllah nanti tujuan dari amal-amal kita adalah demi meraih keridhaan Allah.

Sekian resume rebonan kali ini. Mudah-mudahan kita selalu dijaga oleh Allah agar tetap berada di jalan yang lurus dan tetap dijaga untuk mempertahankan amal-amal baik kita.

Terakhir, marilah kita berdoa dengan doanya Rasul yang sering beliau bacakan di rumah:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبَ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Yang Maha Membolak balikkan Hati, teguhkanlah hati kami atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

IMG-20170510-WA0014

***

Yogyakarta, 12 Mei 2017

AhfieRofi

Resume Rebonan [26 April 2017]

Rabu, 26 April 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama, kami mengucapkan puji serta syukur atas keberlimpahan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga kajian rutin Rebonan di Mushola Al-Adab dapat terlaksana dengan lancar setiap minggunya. Tak lepas pula salawat dan salam kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wasallam sehingga kita semua dapat meraup manisnya Islam dan indahnya ajaran-ajaran yang dibawanya.

Pada kajian rebonan minggu ini, kajian dibawakan oleh Pak Musaddad dosen Arkeologi UGM dengan tajuk Hikmah dan Manfaat Majelis Talim.

IMG-20170426-WA0015

Ternyata, banyak sekali keutamaan-keutamaan dari menghadiri majelis talim. Hal ini salah satunya berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

“Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisi-Nya.”

Dari hadis tersebut dikatakan dengan jelas bahwa sekelompok orang yang berkumpul dan berzikir kepada Allah dengan zikir secara lisan maupun dengan mengkaji ilmu-ilmu-Nya, maka malaikat akan merentangkan sayapnya yang konon dapat menutupi langit dunia dari ujung timur hingga ujung barat. Kemudian, malaikat akan mendoakan mereka agar dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah.

Lalu bagaimana dengan orang yang ikut majelis talim tetapi tidak mengerti dengan materi yang disampaikan? Mereka pun tetap mendapat keutamaan-keutamaan yang didapat oleh orang-orang yang paham. Bahkan, orang yang tidak sengaja lewat di depan majelis zikir dan ikut duduk sebentar pun mendapat keutamaan yang sama.

Selain itu, keutamaan dari majelis talim adalah pahalanya lebih baik dari salat sunnah 100 rakaat. Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu Majah berikut.

“Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai Abu Dzar. Hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari satu ayat dari kitab Allah, lebih baik bagimu daripada kamu shalat 100 rakaat. Dan hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan, adalah lebih baik daripada kamu shalat 1.000 rakaat.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Lalu seperti apakah yang dapat dikategorikan sebagai majelis talim?

Jika merujuk pada arti secara harfiah dari bahasa Arab, majelis talim adalah tempat duduk yang di sana terdapat diskusi atau pembahasan mengenai ilmu pengetahuan. Namun, majelis talim yang sedang kita bahas adalah majelis talim yang berisi kajian ilmu yang bermanfaat yang diniatkan untuk memperdalam wawasan dan menambah keimanan serta untuk berzikir kepada Allah dengan mengkaji ilmu-Nya. Seperti hadis yang sangat masyhur dan sahih, “Innamal a’maalu bin niyyaat.” Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Maka marilah kita meluangkan waktu kita untuk menuntut ilmu di majelis-majelis talim dengan niat yang lurus untuk berzikir, menimba ilmu, serta mempererat tali silaturrahim.

IMG-20170426-WA0014

***

Yogyakarta, 26 April 2017

AhfieRofi

Islam Memuliakan Perempuan

Tepat sehari yang lalu, 21 April, Indonesia kembali memperingati hari Kartini. Nah, siapa yang tidak kenal Ibu kita yang satu ini? Beliau adalah salah satu dari sekian banyak pejuang perempuan di masa lalu. Ibu Kartini terkenal dengan surat-suratnya yang antimainstream yang kemudian dibukukan oleh penulis ternama, Pramoedya Ananta Toer, dan diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ya, Kartini adalah satu dari banyak perempuan Jawa yang ‘terkekang’ pada masa itu. Budaya yang menjadikan perempuan hanya sebagai kanca wingking (teman di ‘belakang’) membuat perempuan tidak leluasa mengembangkan dirinya, terutama dalam hal pendidikan. Cerita hidup Kartini dan tulisan-tulisan kritisnya menginspirasi geliat emansipasi perempuan hingga kini.

Namun sayang, perjuangan RA. Kartini seringkali disalahartikan. Pernah dengar kata-kata semacam ini: “Perempuan harus sejajar dengan laki-laki di segala bidang”? Artinya, bukan hanya dalam pendidikan, perempuan juga dituntut sama atau sejajar dengan laki-laki dalam hal persaingan kerja, kepemimpinan, dan aktivitas lainnya. Bahkan, pemikiran tersebut kemudian digunakan untuk menghujat berbagai syariat Islam, seperti kewajiban muslimah yang sudah baligh mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah, pembagian harta warisan, kewajiban muslimah mengurus rumah tangga, hingga haramnya perempuan menjadi pemimpin pemerintahan. Lantas, benarkah syariat Islam mengekang perempuan dan betulkah dalam Islam tidak ada kesetaraan gender? Yuk, lanjut baca.

Islam Memuliakan Perempuan

Bayangkan kamu, iya kamu, sedang berada di tanah Arab jahiliyah dan kamu lihat banyak bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup sesaat setelah dilahirkan di dunia. Hii ngeriik! Bahkan mereka dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya sendiri! Ya, cerita memilukan di tanah Arab jahiliyah ini memang bukan cerita baru buat kita. Right? Terlebih Allah SWT pun menyebut kebudayaan sesat ini dalam salah satu firman-Nya, sebagai berikut:

Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Karena dosa apakah dia dibunuh. (At Takwir : 8-9)

Nyatanya, diskriminasi terhadap perempuan bukan hanya terjadi di jaman Arab jahiliyah. Kebudayaan Jawa di masa lalu pun juga tidak jauh berbeda. Perempuan hanya dianggap sebagai kanca wingking yang seolah tidak layak mendapat pendidikan tinggi, seperti halnya laki-laki. Begitu pula halnya dengan apa yang terjadi di dunia barat. Pada masa dark age, perempuan seringkali dibakar hidup-hidup untuk menghilangkan bala di sebuah desa. Perempuan semacam ini dikenal dengan istilah witch atau penyihir. Karena itu, tak heran bermunculan gerakan-gerakan fenimisme yang menuntut kesetaraan gender dan antidiskriminasi bagi perempuan di berbagai penjuru dunia hingga sekarang. Gerakan ini menuntut perempuan dapat berdikari dan tidak selamanya bergantung di bawah ketiak laki-laki. Perempuan bisa mandiri dari sisi finansial, bahkan bisa menghidupi keluarga, termasuk suaminya.

Sebetulnya, Islam pun memiliki konsep kesetaraan gender, loh. Bukan, bukan kesetaraan gender dalam artian bahwa laki-laki dan perempuan ‘bertarung’ di jalur yang sama untuk meraih materi duniawi. Bukan. Bukan serendah itu, melainkan lebih tinggi dan lebih agung.

Allah SWT berfirman,

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat : 13)

Di lain ayat, Allah SWT berfirman, yang artinya sebagai berikut.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Ahzab : 35)

Inilah konsep kesetaraan gender dalam Islam yang tentu saja berasakan akidah Islam yang mulia. Setiap orang, tidak peduli ia laki-laki atau perempuan, yang bertaqwa kepada Allah dan beramal sholih, Allah telah menjanjikan ampunan yang besar baginya serta kebahagiaan hakiki. Allah sama sekali tidak memedulikan gender, karena bagi-Nya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Toh, Allah sendiri yang menciptakan dua jenis manusia ini, ‘kan?

Ketika laki-laki dan perempuan hanya menjadikan ridho Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup, mereka pun dapat memosisikan dirinya sesuai peranannya yang telah diatur dalam syariat Islam. Maka dari itu, mereka pun menjalankan aturan apa pun yang datang dari Allah dan rasul-Nya dengan optimal dengan tujuan ridho Allah semata.

Maka, seorang muslimah tidak selayaknya mempermasalahkan syariat Islam yang ‘mengekang’ menurut perspektif manusia. Ketika Allah memerintahkan untuk menutup aurat dengan kerudung dan jilbab, just do it. Karena ini perintah Allah yang insyaAllah akan mendatangkan pahala bagi mereka yang ikhlas melaksanakannya. Bukankah dengan menutup aurat, perempuan akan lebih terjaga kehormatannya?

Ketika Allah memerintahkan perempuan untuk mendahulukan mengurus rumah tangga suaminya (wajib hukumnya), dari pada bekerja (mubah hukumnya), just do it. Kenapa tidak? Karena ini perintah Allah yang insyaAllah akan mendatangkan pahala bagi mereka yang ikhlas melaksanakannya. Inilah fitrah seorang perempuan: menjadi istri dan ibu.

Nah, sudah sedikit terbayang ‘kan bagaimana konsep gender dalam Islam? So, buat kamu para muslimah, ketahuilah bahwa kamu begitu berharga dalam Islam. Tinggal kamu pilih, mau jadi perempuan yang seperti apa? J

***

Yogyakarta, 22 April 2017

Egia

 

 

Resume Rebonan [19 April 2017]

Rabu, 19 April 2017

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Pada sesi kajian rutin Rebonan minggu ini, diskusi mengenai isu sertifikasi ulama yang sempat beredar di media sosial menjadi topik utama yang disampaikan oleh Pak Amir Ma’ruf.

“Isu yang sempat beredar adalah mengenai sertifikasi,” ujar Pak Amir, “tetapi hal ini dikoreksi oleh Menteri Agama. Mereka berkata bahwa yang benar adalah standardisasi khatib, bukan sertifikasi ulama.”

Terlepas dari berlanjut atau tidaknya rencana itu, Pak Amir mencoba memaparkan mengenai keduanya, yakni sertifikasi ulama dan standardisasi khatib dalam hal dampak, sisi positif dan negatif, serta hal-hal yang perlu disiapkan sebelum menjalankan program tersebut.

IMG-20170419-WA0019

 

Menurut Pak Amir, baik sertifikasi ulama maupun standardisasi khatib merupakan kewenangan pemerintah. Beliau tidak melarang atau mendukung program ini. Namun, yang menjadi perhatian beliau adalah mengenai kurangnya persiapan pemerintah ketika melakukan sosialisasi program kepada masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah belum mempunyai konsep yang jelas mengenai definisi ulama berdasarkan perspektif keilmuan atau perspektif amaliyah yang tampak di masyarakat.

Sementara itu, dalam sertifikasi seharusnya ada hak dan kewajiban. Ketika ada sertifikasi dosen, maka ada hak-hak dosen untuk digaji dan kewajiban dosen untuk mengajar, membuat penelitian, dan mengabdi kepada universitas. Begitu pun ketika ada sertifikasi ulama, nantinya harus ada daftar hak dan kewajiban yang diberikan kepada ulama. Ini merupakan kesulitan pertama.

Kemudian kesulitan yang kedua adalah mengenai definisi ulama itu sendiri. Kalau ulama didefinisikan sebagai orang yang paham agama, maka kita harus melihat orang-orang yang ada di Majelis Ulama. Di Majelis Ulama tidak hanya ada orang yang paham agama. Di sana juga banyak ahli-ahli lain di berbagai bidang seperti ahli makanan, sosial, geografi, astronomi, dan sebagainya. Mereka pun tidak semuanya memiliki pemahaman agama yang bisa dikategorikan sebagai ulama. Lalu kita juga harus melihat para ulama-ulama yang paham agama. Banyak pula dari mereka yang tidak termasuk ke dalam Majelis Ulama.

Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan lagi mengenai banyak hal sebelum diluncurkannya program sertifikasi ulama.

Kemudian mengenai standardisasi khatib. Standardisasi khatib adalah acuan atau pijakan untuk para khatib, atau istilah umumnya dapat dikatakan sebagai SOP (Standard Operational Procedure) yang harus dituruti khatib ketika menyampaikan ceramah pada khutbah jum’at.

Mengenai ini pun ada beberapa hal yang menjadi masalah. Masalah pertama adalah, ketentuan khutbah setiap mazhab berbeda-beda, sehingga akan sulit untuk menentukan ketentuan khutbah seperti apa yang dapat disepakati semua orang. Bagaimana cara menentukan pemilihan ketentuan khutbah? Kemudian bagaimana dengan ketentuan dari mazhab yang tidak terpilih? Apakah mereka harus mengikuti ketentuan yang sudah dibuat dan meninggalkan ketentuan yang ada pada mazhab yang mereka ikuti?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan sertifikasi ulama ataupun standardisasi khatib.

IMG-20170419-WA0016

IMG-20170419-WA0015

 

***

Yogyakarta, 19 April 2017

AhfieRofi

Bolehkah Membunuh Semut?

🐜🐜🐜🐜

Seseorang agan bertanya pada mimin,

“Gan, boleh gak sih bunuh semut?”

 

Yuk, kita bahas.

“Apa salah kami hingga kami di bunuh?”

Mungkin itu yang akan dikatakan semut jika ia bisa berbicara. Banyak di antara kita yang suka membunuh semut. Entah sengaja atau gak sengaja. Entah digeprek atau dipijit. Entah pake tangan atau pake semprotan anti serangga 😞 Kan kasian.

“Boleh gak sih kita bunuh semut?”

Penjelasan tentang semut ini ada di Al-Qur’an loh gaes. Ada surah di Al-Qur’an yang menjelaskan kisah semut, bahkan arti dari salah satu surah itu sendiri “Semut”, yaitu surah An-Naml. Subhanallah, betapa makhluk sekecil itu pun dimuliakan Allah. Coba simak ayatnya kuy.

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An Naml: 18-19)

Dalam penggalan surah di atas dijelaskan bahwa semua makhluk selalu bersyukur kepada Allah. Jadi, walaupun kecil, semut juga selalu bersyukur atas rahmat Allah. Apa kita tega membunuh makhluk Allah yang selalu bersyukur tersebut?

Ada penjelasan lain lagi dari hadist berikut yang mengisahkan Nabi dengan semut. Dari penjelasan ini bisa didapat kesimpulan kalo semut itu salah satu makhluk yg gak boleh dibunuh. Huhu.
ِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud no. 5267, Ibnu Majah no. 3224 dan Ahmad 1: 332. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sudah jelas kan? Oleh karena itu, yuk, biasakan diri untuk menghargai keberadaan makhluk hidup di sekitar kita. Meskipun kecil. Meskipun kelihatannya sepele.
Sumber : https://rumaysho.com/9975-hukum-membunuh-semut-dan-kecoak-yang-mengganggu.html

***

Yogyakarta, 16 April 2017

Reno

Kita Masih Satu Tubuh

Pernah sakit gigi? Apa yang terjadi dengan tubuhmu saat kamu sakit gigi? Tidak bisa tidur. Pusing kepala. Dan lain-lain (mohon maklum, bukan anak kedokteran). Ya, inilah tubuh kita. Apabila ada satu bagian tubuh yang sakit, tubuh kita yang lain ikut memberikan gejala.

Sayangnya, reaksi ini hanya terjadi ketika bagian tubuh itu masih menyatu dengan tubuh kita. Al maqsud? Maksudnye? Secara logika, kita tidak mungkin merasakan sakit ketika sehelai rambut kita yang rontok, dibakar. Jelas saja, karena sehelai rambut itu sudah tidak lagi ada di kepala kita. Bayangkan, bila sehelai rambut itu masih di kepala kita dan ia terbakar, kemungkinan besar api akan menjalar dengan cepat ke rambut yang lain, dan tubuh kita pasti memberi reaksi. Got it?

Baik, itu tadi analogi sederhana yang sedikit memberi gambaran umum tentang kondisi umat hari ini. Eits, bukan hanya umat Islam di Indonesia, tapi umat muslim secara kesuluruhan. Aniway, kenapa harus satu tubuh? Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. bersabda:

Dari an-Nu’man bin Basyir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

 “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

Inilah analogi yang Rasulullah saw. sandarkan kepada kaum muslimin. Ya, satu tubuh. Sebuah tubuh yang utuh dan saling berkaitan satu sama lain.

Sayangnya, analogi tersebut agaknya kurang pas untuk umat Islam hari ini. Umat terpecah belah, entah karena nation state atau ikatan kebangsaan yang semu, maupun fanatisme golongan (ormas). Nah, di situ saya merasa sedih. Baru-baru ini sempat viral senjata kimia yang diledakkan musuh-musuh Islam di kawasan Idlib, Suriah. Senjata kimia itu digadang-gadang sebagai gas sarin yang sangat mematikan ketika berinteraksi dengan tubuh manusia. Memang tidak ada darah segar yang mengalir dari tubuh para syuhada’, tetapi senjata kimia ini nyatanya lebih mematikan dan menyakitkan. Doa dan air mata mengalir deras untuk kaum muslimin di Suriah, begitu pula dengan bantuan berupa makanan, pakaian, dan obat-obatan. Namun, penyiksaan dan pembataian musuh-musuh Allah kepada kaum muslimin di Suriah (dan daerah lainnya) bagaikan episode sinetron yang terus berulang dan terus menguras air mata. Terus berulang dan belum menemui titik akhir.

Hal lain yang masih saja membuat hati ini pilu bagai teriris sembilu adalah konflik antar organisasi Islam di negeri muslim terbesar yang Alhamdulillah masih damai ini. Adanya banyak kelompok dakwah Islam memang sebuah keniscayaan yang juga dibolehkan oleh Allah. Terlebih Allah SWT berfirman dalam Ali Imron ayat 104, yang menjadi landasan berdirinya kelompok dakwah. Sayangnya, tak jarang kita temui gontok-gontokan antar ormas hanya karena perbedaan dalam hal fiqih. Kondisi ini bukan tidak pernah terjadi di masa para sahabat maupun para imam madzhab sekaliber Imam Syafi’i dan Imam Malik. Apakah ketika berbeda pendapat, para tokoh besar ini gontok-gontokkan? Tidak. Bahkan, mereka saling menghargai perbedaan yang memang dibolehkan Allah dan rasul-Nya tersebut, serta tak segan meninggalkan pendapatnya apabila memang ada pendapat mujtahid lain yang lebih rajih (kuat). Maasya Allah, kedewasaan dalam menghadapi perbedaan inilah yang kita rindukan.

Nah, fenomena terpecah belahnya ummat saat ini memang sangat bertolak belakang dengan suasana di masa-masa nubuwwah maupun masa-masa (awal) pemerintahan Khulafaaur Rasyidin. Ialah masa-masa ketika kaum muslimin berada di bawah panji yang sama (Laa ilaaha illa Allah) dan tidak dibatasi sekat-sekat kesukuan dan kebangsaan. Berkaitan dengan hal ini terdapat kaidah syara’ yang masyhur, seperti :

Perintah Imam dapat mengatasi perselisihan”.

Kini, ketika Suriah dibombardir, Gaza masih ‘dipenjara’, Rohingya masih ‘tak diakui’ , akankah kita di negeri yang masih relatif aman ini masih menyibukkan diri dengan memperlebar jurang perbedaan antarkelompok, apalagi menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Tentu saja tidak. Bagi seorang muslim, kita tidak ingin musuh-musuh Islam menari-nari di tengah gendang permusuhan kita sendiri. Bersatu, dewasa menanggapi perbedaan, serta kembali kepada A- Qur’an dan As Sunnah dalam semua aspek kehidupan, serta yang paling penting, membantu mendoakan saudara-saudara kita yg merintih di sana, itulah sedikit dari langkah-langkah yang bisa kita tempuh bersama. Wallahu a’lam.

***

Yogyakarta, 15 April 2017

Egia

Resume Rebonan [13 April 2017]

Rabu, 12 April 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kajian rutin Rebonan minggu ini, dilanjutkan pembahasan mengenai ulama yang pada dua minggu sebelumnya dibahas. Kali ini, Sulthon dari Arkeologi 2015 berkesempatan untuk berbagi mengenai definisi ulama.
Pada pembahasan sebelumnya, telah disepakati bersama bahwa kita sebagai umat Islam harus mengupayakan diri untuk belajar dan mengadukan persoalan-persoalan kepada ulama. Sebab selain mendapatkan ilmu, kita juga dapat meraih keutamaan-keutamaan lain. Namun, yang menjadi pertanyaan besarnya adalah,

siapakah yang layak dikatakan sebagai ulama?

Secara bahasa, definisi ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan luas baik dalam bidang agama maupun ilmu alam. Ulama disebut-sebut sebagai pewaris para nabi dan secuil bentuk cerminan dari perilaku para nabi. Menurut Ahmad Sarwad, ilmu yang harus dimiliki ulama antara lain adalah ilmu mengenai Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, fiqih, ushul fiqih, pemahaman mengenai dalil-dalil hukum yang ada di Al-Qur’an maupun As-Sunnah, serta menghasilkan suatu pendapat atau teori yang dapat diaplikasikan dari ilmu-ilmu tersebut di atas.
Sulthon juga mengutip perkataan Ahmad Sarwad mengenai perbedaan ulama, kyai, ustad, dan penceramah.
“Jadi menurut Ahmad Sarwad, kyai tidak selalu memiliki kepahaman yang cukup,” ujar Sulthon. “Orang-orang yang dituakan di kampung pun terkadang dapat dipanggil kyai. Orang yang memiliki ilmu-ilmu tertentu dalam konotasi negatif pun di beberapa tempat disebut sebagai kyai.”
Sementara itu, ustad lebih cenderung merupakan suatu panggilan yang telah disepakati bersama untuk seorang guru pengajar agama Islam yang mengajarkan ilmunya kepada anak-anak, pemuda, dan orang dewasa. Panggilan ustad ini banyak digunakan di Indonesia.
Kemudian ada istilah penceramah. Penceramah ini sederhananya merupakan istilah untuk orang yang kegiatannya berceramah dari satu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu, penceramah tidak harus memiliki pengetahuan agama yang sangat mendalam. Untuk dapat menjadi penceramah, seseorang hanya perlu mempelajari dengan baik topik yang akan dijadikan bahan ceramah. Anak muda di pesantren-pesantren atau lembaga dakwah pun dapat menjadi penceramah dengan keterbatasan ilmunya.
Lalu yang seperti apakah ulama itu?
Menurut Ustad Adi Hidayat, ulama dapat dilihat dari beberapa cirinya antaran lain serius belajarnya. Indikasi ini dapat dilihat dari proses belajarnya yang membutuhkan waktu belasan bahkan hingga puluhan tahun. Ulama juga tidak mencari jawaban suatu permasalahan sembarangan. Melainkan, mereka mencarinya di sumber-sumber tepercaya seperti dari Al-Qur’an, hadis, tafsir, kitab-kitab yang ditulis ribuan tahun lalu oleh ulama tabiin dan orang-orang yang memang sudah diyakini kesahihannya.
Selain itu, ciri khusus yang dimiliki ulama adalah tawadhu. Mereka adalah orang-orang yang takut dengan kepintarannya. Mereka khawatir menyampaikan sesuatu yang tidak disukai oleh Rasul dari lisannya baik dengan perkataan yang tidak berdasarkan dalil, atau pun dari cara penyampaian yang tidak sesuai dengan adab yang sudah dicontohkan Rasul.
Kemudian, mahasiswa asal Minangkabau ini juga mengutip ungkapan leluhurnya mengenai definisi ulama.
“Ulama adalah sumber cahaya dalam suatu desa atau lingkungan. Mereka diikuti secara lahir dan batin, mengajari anak-anak, memberi petunjuk jalan di dunia dan akhirat, tempat bertanya halal dan haram, serta tahu mana yang sah dan mana yang batal.”
Begitulah penyampaian Sulthon mengenai definisi ulama. Tentu ini pun bukanlah sebuah definisi baku dan masih ada pengertian-pengertian lain mengenai ulama yang belum mampu kami ulas pada kali ini. Mudah-mudahan rasa keingintahuan kita dapat menggerakkan kita untuk mencari tahu lebih dalam lagi dan belajar lebih banyak lagi dari para ulama.

IMG-20170412-WA0008 IMG-20170412-WA0006 IMG-20170412-WA0007 IMG-20170412-WA0004

***

Yogyakarta, 15 April 2017

AhfieRofi