Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Merekatkan Tali Ukhuwah

IMG-20170716-WA0005

Merekatkan Kembali Tali Ukhuwah

Assalamualaikum saudaraku yg dicintai Allah, tahukah engkau?

Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 10 menyatakan bahwa kaum mukminin itu bersaudara. Terkait ayat tersebut, Imam Ali Ash-Shabuni dalam Shafwah af-Tafasir menyatakan,

“Persaudaraan karena faktor iman jauh lebih kuat dari pada persaudaraan karena faktor nasab”.

Ya, inilah seharusnya ikatan yang menyatukan dan mendamaikan kaum muslimin satu sama lain, yakni ikatan ukhuwah islamiyah. Ialah ikatan yang global dan paripurna, tidak mengenal suku, bangsa, maupun ras.

Namun, tak bisa dipungkiri ikatan ukhuwah kaum muslimin -beberapa kali hingga saat ini- telah terkoyak. Labelisasi yang diciptakan musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin telah mengkotak-kotak dan memecah belah persatuan kaum muslimin. Itulah strategi salah satu lembaga think-tank AS yang membagi kaum muslimin menjadi empat kelompok. Empat kelompok itu antara lain kelompok fundamentalis, yakni kelompok yang menolak nilai-nilai kufur barat; kelompok tradisionalis, yakni kelompok yang menginginkan masyarakat yang konservatif; kelompok modernis, yakni kelompok yang menginginkan modernisasi Islam; dan kelompok sekularis, yakni mereka yang menerima paham sekulerisme beragama.

Tak sampai di situ, strategi ini pun berlanjut yakni dengan melancarkan politik belah bambu atau politik adu domba. Aksi yang menggambarkan upaya tersebut antara lain dengan mendukung satu pihak dan  menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok.

Sebenarnya, strategi adu domba bukan gaya baru musuh-musuh Islam dalam memecah belah kaum muslimin. Di masa lalu, kafir penjajah pun melangsungkan hal serupa. Seperti halnya yang telah diramu Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda di tengah masyarakat Aceh yang memegang teguh keislaman mereka.

Saat ini, kaum muslimin seharusnya mampu mengambil pelajaran dan tidak melupakan ikatan ukhuwah islamiyah. Panasnya suhu politik, isu-isu pembubaran ormas, maupun kriminalisasi ulama yang menggoncang tubuh kaum muslimin saat ini jangan sampai mengoyak tali ukhuwah islamiyah. Kaum muslimin selayaknya mengenali common enemy yang telah Allah kabarkan dalam Al Qur’an salah satunya dalam QS Ali Imron 118. Begitu pula, tidak selayaknya kaum muslimin menggunakan kacamata Barat dalam menilai saudaranya yang lain. Tidak selayaknya satu ormas Islam berprasangka buruk kepada ormas Islam lain, tanpa berusaha membangun komunikasi yang baik melalui forum tabayyun. Maka dari itu, persatuan kaum muslimin pun sedikit demi sedikit kembali terjalin.

Sayangnya, persatuan tersebut baru menjadi pemanis bibir bahkan cita-cita yang terkesan utopis di era kebangsaan ini, yakni ketika bukan ikatan akidah yang menyatukan kaum muslimin seluruh dunia. Hal ini dikarenakan makna ukhuwah islamiyah bersifat global dan tidak dibatasi patok-patok batas negara.

Ketika kaum muslimin di negeri-negeri lain mengalami diskriminasi, bahkan pembantaian, kaum muslimin di negeri lain tidak dapat berbuat banyak selain mengirim bantuan logistik, kesehatan, maupun doa. Sayangnya usaha tersebut belum cukup untuk menyelesaikan permasalahan kaum muslimin di negara lain. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya kekuatan politik berupa institusi yang dapat menyatukan ukhuwah islamiyah, serta melindungi dan mengayomi kaum muslimin maupun kaum nonmuslim yang hidup di dalamnya. Dengan demikian, persatuan kaum muslimin dalam bingkai ukhuwah Islamiyah yang hakiki pun kembali terajut.

***

Yogyakarta,

Egia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *