Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Mahasiswa, pantang Individualistis

Mahasiswa, Pantang Individualistis

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan hidup selepas libur semester yang terasa begitu panjang ini, dan sebentar lagi kita kembali kuliah! Yeey! Nggak sabar ‘kan berkutat lagi dengan kesibukan dunia mahasiswa? Tugas, presentasi, kerja lapangan, dan seabreg pekerjaan rumah, hingga ujian menanti di ujung sana. Ya, sebentar lagi, kawan. Namun, pernahkah kita berpikir, apakah tugas seorang mahasiswa hanya itu? Sayangnya, tidak.

Menurut data dari badan statistika, pada tahun 2016 hanya 30% pelajar Indonesia usia 18-23 tahun yang menikmati bangku perguruan tinggi. Artinya, dari 100 pelajar tingkat SMA yang lulus tahun 2016, hanya 30 orang yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Apabila kita termasuk 30% itu, segera ucap syukur kepada Allah ta’ala karena telah memilih kita berada di jenjang yang tidak semua orang mampu memasukinya. Meminjam wasiat Uncle Ben untuk Perter Parker,  “Seiring datangnya kekuatan yang besar akan datang pula tanggung jawab yang besar…”, setidaknya itulah yang juga dihadapi  mahasiswa. Ya, tanggung jawab yang besar.

Masyarakat kebanyakan memandang mahasiswa sebagai kaum pemikir, intelektual. Maka dari itu, tak heran bila status ‘mahasiswa’ adalah kebanggaan sekaligus beban tersendiri, sebab di pundaknya ada harapan, harapan ummat. So, kalau kamu mahasiswa, urusan ummat tak boleh lepas dari pengamatanmu. Karena, secara tidak langsung atau langsung, permasalahan ummat juga merupakan urusan kaum pemikir yang memandang setiap permasalahan dengan kacamata kritis dan objektif.

Nah, terlebih bagi seorang mahasiswa muslim. Bagi seorang muslim, tak usah menunggu jadi mahasiswa, ia sudah seharusnya kritis dengan permasalahan ummat. Kenapa? Karena, dalam Islam, seorang muslim tidak diajarkan menjadi pribadi individualis, melainkan menjadi individu yang simpati dan berempati terhadap lingkungan sekitarnya, maupun ummat pada umumnya.

Rasulullah saw mengibaratkan sebuah masyarakat Islam layaknya seperti rombongan orang di dalam sebuah kapal. Ada yang duduk di atas dan di bawah. Ketika seseorang dari bawah kehausan, maka mereka harus ke atas untuk mengambil air. Bisa saja orang bawah tak harus capek-capek naik ke atas, tetapi tinggal melobangi dasar kapal dan meminum air dengan mudah. Namun, bila tidak ada yang memperingatkan orang tadi, lalu ia benar-benar melobangi kapal, apa yang terjadi? Ya, kapal akan tenggelam dan semua penumpang akan binasa.

Itulah konsep bermasyarakat dalam Islam. Saling bersimpati, saling mengingatkan satu sama lain, saling menasehati. Indah bukan? Yes of course.

Dalam surat Ali Imron 134, Allah SWT bersabda yang artinya,

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron [3]: 134).

Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan,

orang yang bertakwa adalah orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi orang yang disibukkkan oleh perkara-perkara yang membuatnya tunduk dan taat kepada Allah Ta’ala, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, kepada kerabat maupun kepada saudara seiman lainnya.

Nah, sebagai mahasiswa muslim, tanggung jawab besar kita bukan hanya sekadar belajar di kelas, meraih IP 4 dan lulus tepat waktu. Tidak secetek itu. Sebagai harapan ummat, kita pun harus memberikan yang terbaik untuk ummat dengan pemikiran dan kontrubusi aktif di tengah ummat. Bisa jadi dengan mengedukasi ummat berdakwah fi sabilillah maupun aksi yang lain. So, mahasiswa, tugas kita memang belajar, tapi tanggung jawab kita kepada ummat dan negara ini tak boleh ketinggalan.

***

Yogyakarta, 7 Agustus 2017

Egia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *