Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Jalan itu bernama Dakwah

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat : 33)

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)

Jalan dakwah. Sebuah jalan yang menuntut kesungguhan dan kesabaran penuh dalam menapakinya. Ialah ‘jalanan terjal’, dipenuhi ‘kerikil dan bebatuan tajam’, menghadang siapapun yang hendak melewatinya. Inilah jalan yang diperuntukkan Allah SWT hanya untuk hamba-hamba yang dipilih-Nya. Hanya mereka yang kuat dan mampu bertahanlah yang mampu melewati jalan ini hingga binasa di atasnya.

Teladan kita, Rasulullah Muhammad saw., manusia sempurna yang dijamin surga, serta para sahabat beliau, harus menghadapi penghinaan, penganiayaan, fitnah yang keji, hingga penyiksaan di jalan dakwah. Dalam sebuah riwayat, Abu ‘Abdullah Khabab bin Al Aratt ra. berkata,

“Kami mengadu kepada Rasulullah saw. saat beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata: “Apakah Tuan tidak memintakan pertolongan untuk kami? Apakah Tuan tidak mendoakan kami?” Beliau menjawab, “Orang-orang sebelum kalian itu ada yang ditanam hidup-hidup, ada yang digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua, ada pula yang disisir dengan sisir besi yang menganai daging dan tulangnya, tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan Islam ini hingga merata dari Shan’a sampai Hadramaut di mana masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya kambing terhadap serigala. Tetapi kamu sekalian sangat tergesa-gesa.”

Sabda Rasulullah saw di atas harusnya menjadi suntikan energi bagi orang-orang yang mengikutinya dan melanjutkan dakwahnya hingga akhir zaman. Bahwa perjuangan dakwah adalah perjuangan yang panjang dan berliku. Mungkin kita sudah bergabung dalam lembaga dakwah dan ikut berdakwah selama beberapa tahun, tetapi pertolongan Allah belum juga turun. Orang-orang di sekitar kita, terlebih yang kita dakwahi, belum sepenuhnya berjalan dalam langkah yang sama dan seirama bersama kita. Atau bahkan orang-orang terdekat, seperti orang tua kita sekalipun, belum betul-betul menerima dakwah kita. Atau mungkin lebih dari itu, misalya yang dialami beberapa Asatidz, seperti Ustadz Felix Siauw, Ustadz Kholid Basalamah, hingga Dr. Zakir Naik, dan lain-lain, yang beberapa kali mendapat penolakan bahkan intimidasi secara terang-terangan dalam dakwahnya. Itulah salah satu kerikil di perjalanan ini.

Rintangan di jalan dakwah adalah sunnatullah, seperti halnya kerikil di jalanan. Niscaya. Setiap orang yang ber-azzam melaju di jalan dakwah otomatis siap menerima ‘gempuran’ dari berbagai arah, seperti hinaan, cercaan, bahkan bisa jadi ancaman hingga serangan fisik. Mereka yang tidak senang dengan laju dakwah Islam tentunya tak tinggal diam dan menganggap segala upaya dakwah sebagai ‘ancaman’ bagi status quo mereka. Maka dari itu, setiap pengemban dakwah wajib untuk terus meningkatkan keimanannya dan kedekatannya dengan Allah Sang Muqollibal Qulub, serta menuntut ilmu, meng-upgrade niat supaya dakwah tetap atas dasar lillahi ta’ala, dan bersabar dalam perjuangan. Karena, Allah tak mengharuskan kita betul-betul meraih kemenangan dalam dakwah, karena itu semua adalah qadha Allah yang juga kekuasan-Nya. Allah hanya menginginkan kita tetap di jalan ini hingga Ia memanggil masing-masing kita.

Meskipun jalan dakwah begitu terjal, namun ia bukanlah jalan tak berujung. Seringkali pertolongan Allah hadir di tengah perjalanan, atau pun juga di ujung perjalanan. Seperti halnya ketika seseorang mendaki gunung. Memang, jalan yang mereka hadapi sungguh menukik, terjal, dan terkadang sangat menyiksa dan melelahkan. Namun, lihat. Apa yang mereka dapatkan di puncak sana? Ya, lukisan alam yang sangat indah serta udara yang menyejukkan semilir menentramkan jiwa menghilangkan penat, membuat orang lupa betapa sulit perjalanan yang baru saja ia tempuh. Begitu pula dengan jalan dakwah. Di ujung sana, Allah telah janjikan surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, makanan lezat apa pun tersaji, bidadari-bidadari bermata jeli siap melayani, serta kebahagiaan memandang wajah Rabbul ‘alamin, dan kebahagian lainnya di mana tak satu pun makhluk yang pernah melihatnya. Maa syaa Allah. So, masih semangat kan berlari di jalan ini?

***

Yogyakarta, 30 Juli 2017

Egia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *