Warning: file_put_contents(): Only 0 of 117 bytes written, possibly out of free disk space in /home1/kmibfib/public_html/wp-content/plugins/accesspress-custom-css/accesspress-custom-css.php on line 165

Jl. Sosio-Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

+62 822-2009-2016 kmib.fib@ugm.ac.id

Duka Rohingya di Semarak Idul Adha

Jumat, 1 September 2017 yang juga bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1438 H, kaum muslimin merayakan hari raya Idul Qurban atau Idul Adha. Di pagi hari, orang-orang berduyun-duyun ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat sunnah Idul Adha. Rangkaian acara berlanjut hingga penyembelihan hewan kurban. Aroma khas kambing menyeruak dari setiap tempat jagal. Orang-orang tetap bersuka cita mempersiapkan peralatan dan bumbu-bumbu masak menyambut sepaket daging sapi atau kambing dihantar ke rumah masing-masing. Selama beberapa hari, masyarakat dimanjakan dengan masakan daging yang mungkin hanya bisa dinikmati setahun sekali. Namun, di balik suka cita Idul Qurban di tanah air Indonesia, kabar memprihatinkan datang dari saudara-saudara muslim kita di belahan dunia lain. Masih ingat muslim Rohingya? Ya, beberapa tahun lalu kabarnya sempat mencuat dan tersiarkan di media-media mainstream karena krisis kemanusiaan yang luar biasa. Lantas, apakah derita muslim Rohingya telah berakhir? Bahkan di perayaan Idul Qurban ini, mereka masih ‘disembelih’ oleh kafir la’natullah. Innaa lillaahi wainna ilaihi raaji’uun.

Dilansir dari liputan6.com, per Jumat, 1 September 2017 sudah ada 130 muslim Rohingya dibantai, termasuk perempuan dan anak-anak. Sedangkan, Menurut lembaga aktivis Rohingya di Eropa, European Rohingya Council (ERC), jumlah yang tewas mencapai ribuan orang.  Juru bicara ERC, Anita Schug, kepada kantor berita Turki Anadolu Agency mengatakan antara 2.000 dan 3.000 muslim Rohingya terbunuh di negara bagian Rakhine hanya dalam waktu tiga hari, dari Jumat hingga Minggu lalu. Tidak hanya itu, rumah-rumah warga muslim Rohingya di Rakhine state pun kembali dibakar. Banyak pihak mengakui, termasuk PBB, bahwa ini adalah genosida sistemastis yang direstui oleh negara setempat. Bahkan, penerima nobel perdamaian, Aung San Kyi, memilih diam terhadap pembantaian dan pengusiran besar-besaran muslim Rohingya.

 

Air Mata Kaum Muslimin Tak Kunjung Mengering

Rasanya, hingga kini tak pernah habis kisah pilu kaum muslimin di negeri minoritas maupun mayoritas. Air mata kaum muslimin tak kunjung mengering, menyaksikan kepedihan dan diskrimininasi di berbagai wilayah di dunia. Belum usai masalah Palestina, mencuat masalah di Yaman, Suriah, Xinjiang, hingga Rohingya dan wilayah-wilayah lain. Memprihatinkan? Ya, nampaknya memang perkataan Rasulullah terbukti sudah. Bahwa di akhir zaman ini kaum muslimin bagaikan makanan lezat yang diperebutkan orang-orang kafir. Kaum muslimin bagaikan buih di lautan, melimpah namun tak memiliki makna. Menyedihkan.

Kemunduran kaum muslimin hari ini sungguh berbanding terbalik dengan kondisi kaum muslimin yang pernah bersatu dalam satu kepemimpinan yang dikepalai Rasulullah saw. dalam masa nubuwwah, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dalam masa khulafa’ur rasyidin, dan diteruskan bingga belasan abad kemudian. Sejarah emas tercatat dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir, seorang khalifah bernama Al Mu’tashim billah pernah mengirimkan tentara ke daerah Ammuriah karena seorang muslimah dilecehkan di pasar oleh seorang Yahudi dan seorang muslim tewas terbunuh. Inilah salah satu kisah heroik penjagaan nyawa kaum muslimin di bawah kepemimpinan Khalifah saat itu.

Rasulullah saw pernah bersabda,

“Sungguh, hancurnya kak’bah, batu demi batu, masih lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan tumpahnya darah seorang muslim.”

Demikian Islam begitu keras menjaga setiap nyawa tak berdosa, bukan hanya dari kalangan muslim, tetapi juga dari kalangan non-muslim, khususnya kafir dzimmi atau orang kafir yang tinggal di wilayah pemerintahan Islam dan diberikan jaminan keselamatan oleh negara.

 

Refleksi

Setiap penderitaan yang ditimpakan kepada seorang hamba memiliki beberapa makna. Bagi orang-orang yang bertaqwa, penderitaan adalah ujian yang Allah berikan untuk menaikkan kadar ketaqwaannya. Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman, penderitaan bisa diartikan sebagai peringatan atau bahkan azab. Na’udzubillaahi min dzalik. Maka dari itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk berkaca, bermusahabah, serta merenung. Apa makna di balik tragedi di tubuh kaum muslimin saat ini? Sudahkah kita termasuk orang yang bertaqwa, yakni yang melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya?

Allah SWT dalam Al-Qur’an, potongan surat Al Baqarah ayat 85, pernah menyinggung,

أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَ تَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْن

“…Apakah kamu mempercayai sebagian kitab dan kamu kafir dengan yang sebagian? Maka tidaklah ada ganjaran buat orang-orang yang berbuat demikian daripada kamu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia ini, dan pada hari kiamat akan di kembalikan mereka kepada sesangat-sangat azab. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah : 85)

Ya. Mungkin di satu sisi kita telah melaksanakan syariat Allah, tetapi di ada syariat lain yang kita tinggalkan, bahkan kita lupakan. Mari bermuhasabah. Selain itu, mari kita mendoakan nasib kaum muslimin Rohingya dan kaum muslimin lainnya serta memberikan bantuan kemanusiaan. Mari gencarkan dakwah untuk menyadarkan ummat untuk kembali kepada Islam. Insyaa Allah, Islam bersatu tak bisa terkalahkan!

***

Yogyakarta, 3 September 2017

Egia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *