KMIB FIB UGM Kepengurusan 1437 H (Kabinet Hazmi Insani)

Resume Rebonan [3 Maret 2018]

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

 

Tidur itu merupakan perintah Allah, 5-6 jam cukup.

Makan itu kebutuhan manusia. Semua ini pasti juga melibatkan Allah SWT. Cara untuk makan harus melihat cara Rasulullah, Insyaa Allah bernilai ibadah.

Iman harus selalu dibentengi dengan ibadah, tapi harus dengan ilmu juga. Adab-adab dilakukan setelah ibadah.

Adab dalam Islam menyangkut banyak hal, termasuk istinja. Selain itu, sholat, makan, membaca Al-Qur’an, dsb. Semua ini harus dibiasakan sejak dini.

Kita harus saling mengingatkan sesama teman. Hal ini bisa kita lakukan untuk membiasakan kehidupan Islami.

Kita biasa di kampus selama 6 jam. Belajar di Ilmu Budaya adalah pilihan kita. Jangan sampai menuntut ilmu untuk meninggalkan sholat.

Allah lagi: semua perencana di balik kehidupan adalah Allah SWT. Misalkan, ketika mendapatkan IP terbaik, kita akan bilang itu usaha saya. Akan tetapi, itu Allah yang mengatur.

Allah dulu: sebelum membuat keputusan, kita harus mendahulukan Allah SWT. Jangan sampai kita malah meniadakan Allah.

Allah terus: Allah SWT menulis takdir seseorang sebelum dia dilahirkan. Menuntut ilmu merupakan kewajiban manusia untuk menggapai masa depan. Ingat Allah jangan hanya saat susah, tetapi kapanpun.

 

WhatsApp Image 2018-03-14 at 17.49.46

WhatsApp Image 2018-03-14 at 17.49.47

Resume Rebonan [27 September 2017]

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Segala puji bagi Allah atas limpahan rahmat-Nya sehingga kita masih bisa diberi kesempatan hidup, beramal, dan memperbaiki diri demi mempersiapkan kehidupan berikutnya. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa Islam menuju kejayaan dari awal mula kemunculannya.

Rebonan kali ini diisi oleh Abdussalam, mahasiswa Arkeologi 2017, yang membahas mengenai syukur.

Syukur. Adalah satu dari dua sifat yang apabila diberi pilihan kepada Umar bin Khattab untuk memilih salah satunya sebagai tunggangan menuju surga maka dia tidak peduli yang mana yang akan jadi tunggangannya itu. Sifat yang lain adalah sabar, yang telah dibahas pada rebonan minggu sebelumnya.

Surat Ar-Rahman merupakan surat yang separuhnya berisi ayat yang mengingatkan kita akan kesyukuran kepada Allah. Fabi ayyi aalaa’i robbikumaa tukaddzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Udara yang kita hirup dan embuskan adalah nikmat, suara yang bisa kita dengarkan adalah nikmat, cahaya yang kita serap melalui mata kita adalah nikmat. Belum nikmat-nikmat yang lebih luas seperti nikmat makan, nikmat bangun pagi hari, nikmat merasakan sejuknya pagi dan semburat mentari, hingga yang paling tinggi adalah nikmat masih adanya iman dan keyakinan kepada Allah dalam hati kita walau secuil.

Ada sebuah cerita. Alkisah seorang abid ahli ibadah yang hidupnya menyendiri di sebuah gua selama ratusan tahun meninggal dunia. Ketika dihisab, dia ditawarkan untuk memilih masuk surga dengan pahalanya atau dengan ridho Allah. Dia memilih masuk surga dengan pahalanya, tetapi ternyata pahala yang ia kumpulkan selama ratusan tahun tanpa melakukan dosa sekalipun itu hanya bisa membayar kenikmatan matanya saja.

Lalu bagaimana dengan kita? Yang setiap hari melakukan dosa sementara ibadah pun masih bolong-bolong?

Kabar baik bagi kita, karena Allah selalu membukakan pintu taubat-Nya bagi kita yang benar-benar ingin bertaubat dan memperbaiki akhlak kita. Tak peduli sebesar gunung atau seluas lautan dosa kita. Maka salah satu bentuk kesyukuran itu adalah dengan memanfaatkan segala kebaikan yang Allah sediakan untuk kita tersebut.

Begitu pun ketika ada ujian, selain bersabar kita pun harus bersyukur, sebab banyak orang lain yang mengalami hal yang lebih berat dari yang kita alami.

Wallaahu a’lam.

***

Yogyakarta, 27 September 2017

Ahfie

Makna Hijrah Bagi Perjuangan Dakwah Rasulullah

Penanggalan hijriyah yang digagas pada masa kepemimpinan amirul mukminin Umar bin Khatab ra. tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa bersejarah bagi dakwah Islam. Ialah peristiwa hijrahnya Rasululah saw dari Mekkah ke Madinah. Pertanyaannya, apakah hijrahnya Rasulullah saw dan para sahabat ke Madinah hanya sekadar menghindari penyiksaan kaum kafir Quraisy yang menjadi-jadi atau ada misi politik di dalamnya?

Memang betul, selama berdakwah di Mekkah, Rasulullah dan para pengikutnya kerap kali mendapatkan banyak penyiksaan dari musuh-musuh Islam. Dalam kitab Shiroh Nabawiyah: Sisi Politis Perjuangan Rasulullah SAW, Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji menyebutkan bahwa Rasulullah saw dan para pengikutnya mendapatkan penyiksaan fisik dan ‘perang urat saraf’ ketika berdakwah di Mekkah.

Dalam hal penyiksaan fisik, derita Rasulullah dan para pengikutnya tak diragukan lagi. Penyiksaan fisik yang dilakukan oleh kafir Quraisy tiada lain dilakukan untuk membuat orang-orang takut masuk Islam, atau bagi mereka yang terlanjur masuk Islam diharapkan dapat mengubah loyalitasnya dari Muhammad kepada kaum musyrikin lagi. Berbagai jenis siksaan mereka timpakan kepada kaum muslimin, terlebih kepada para budak dan orang miskin, seperti Bilal bin Rabbah dan Ammar bin Yassir beserta kedua orang tuanya, Yassir dan Sumayyah.

Selain itu, kafir Quraisy pun melakukan perang urat syaraf. Perang urat syaraf yang dimaksud adalah menyebarkan black campaign atau opini-opini negatif (fitnah) kepada Rasulullah saw. Mereka menyebut Rasulullah sebagai seorang penyihir yang mampu memisahkan tali persaudaraan, hubungan suami istri dan ikatan kekeluargaan. Mereka menyebarkan fitnah yang keji tersebut kepada setiap orang yang mereka temui ketika musim haji tiba.

Menghadapi serangan-serangan para musuh Allah tersebut, Rasulullah dan para sahabat tetap bersabar. Mereka semakin berpegang teguh membela Islam dan semakin gencar melakukan dakwah Islam baik kepada individu maupun kepada bani-bani di sekitar Mekkah.

Sejarah mencatat perjuangan Rasulullah mendakwahkan Islam kepada Bani Kindah, Bani Amir bin Sha’sha’ah, Bani Hanifah, Thaif, dan lain-lain. Namun, Allah SWT baru mendatangkan pertolongannya ketika Rasulullah saw mendakwahkan Islam sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah) ketika berada di bukit Aqabah. Ketika memasuki musim haji di tahun berikutnya, dua belas orang Yatsrib menemui Rasulullah di Aqabah untuk melaksanakan baiat kepada Rasulullah. Pertemuan ini disebut baiat aqabah pertama. Baiat atau janji setia ini menandakan beberapa hal, yakni keimanan kepada Allah, istiqomah, dan mengambil kebenaran yang keluar dari Al Quran dan As Sunnah.

Selepas baiat aqabah pertama, Rasulullah melancarkan misi politik berikutnya yakni melakukan edukasi kepada masyarakat Yatsrib untuk memeluk Islam. Rasulullah saw mengutus sahabat beliau, Mush’ab bin Umair dalam misi penting ini. Atas kegigihan dan kepiawaian dakwah Mush’ab bin Umair dan pertolongan Allah, akhirnya Islam menjadi opini umum di Yatsrib. Mush’ab pun melaporkan perkembangan dakwahnya di Yatsrib kepada Rasulullah. Dengan demikian, Rasulullah pun tahu bahwa orang-orang di Yatsrib atau Madinah telah siap menerima Islam untuk ditegakkan di wilayahnya. Peristiwa ini disusul dengan peristiwa besar yakni baiat aqabah kedua yang dihadiri kurang lebih 72 orang Yatsrib.

Ubadah bin Shamit, salah seorang muslim Anshar mengatakan, “Rasulullah meminta kami berbai’at untuk selalu mendengarkan dan menaati (perintahnya, baik ketika kami dalam kesulitan maupun lapang, ketika kami senang maupun benci dan kami tidak akan mengutamakan diri kami sendiri, kami tidak akan merebut urusan (kekuasaan) ini dari yang berhak, dan kami akan selalu berkata benar di manapun kami berada, sedikitpun kami tidak akan pernah merasa takut akan celaan orang yang suka mencela.” Kemudian Rasulullah pun berhijrah dari Mekkah ke Madinah bersama Abu Bakar As Sidiq.

Berdasarkan strategi dakwah Rasulullah tersebut, dapat disimpulkan bahwa momentum hijrah bukan sekadar upaya Rasul untuk menghindari penyiksaan kafir Quraisy. Selama 13 tahun di Mekkah, Rasulullah dan para sahabat tidak gentar menghadapi siksaan kafir Qurausy, pun ketika terjadi peristiwa pemboikotan selama tiga tahun. Bagi orang-orang yang beriman, siksaan yang ditimpakan kepada mereka tidak bernilai apa-apa. Tentu saja derita yang mereka dapat di dunia pasti akan dibalas Allah dengan kesenangan yang sangat banyak di akhirat.

Maka dari itu, hijrah merupakan salah satu strategi dakwah Rasulullah, sekaligus langkah politis yang beliau ambil dalam menyebarkan Islam ke seluruh alam. Karena, semenjak peristiwa hijrah tersebut, Rasulullah saw membangun kesatuan umat, dalam ketaatan, kekuatan, dan keamanan Islam. Karenanya, Islam dan kaum muslim dimuliakan, dakwahnya tumbuh pesat, merambah ke seluruh jazirah Arab bahkan kemudian mendunia.

Sejarah telah membuktikannya, kekuatan peradaban Islam dihormati dan disegani dunia. Bahkan dunia tidak bisa mengelak bahwa kemajuan peradaban manusia adalah hasil sumbangsih Islam dan peradabannya. Melalui institusi gagah perkasa, sepanjang masa kekhalifahan yang ada, dan kerajaan- kerajaan Islam di nusantara.

***

Yogyakarta, 24 September 2017

Egia.

Kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya

Kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya

Apabila kita dihadapkan pada suatu isu, misalkan ‘hijab bagi wanita‘. Mungkin, kalau tanpa bimbingan wahyu, pendapat kita akan beraneka ragam. Ada yang menganggapnya baik, ada pula yang menganggapnya buruk. Ada yang menganggapnya sebagai upaya untuk melindungi perempuan, ada pula yang menganggapnya sebagai pengekang hak-hak perempuan atas tubuhnya. Intinya, ‘nano-nano’. Tidak jelas. Absurd.

Atau, mungkin kita pernah berada di posisi harus memilih. Misalkan, kita  sedang ‘mager’ atau males gerak padahal saat itu ada kewajiban janji ketemuan dengan teman untuk kajian. Mungkin, bila bukan karena bimbingan wahyu dan keimanan yang kuat, kita lebih memilih berleha-leha dan menghabiskan me time tanpa ada gangguan. Atau mungkin, ada juga di antara kita yang langsung bergegas mengalahkan ‘mager’nya dan memenuhi janji itu. Lagi-lagi, bila tidak ada standar yang jelas, semuanya absurd, serba tidak jelas.

Nah, dua contoh tadi telah menganggambarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan, manusia selalu dihadapkan pada dua (atau lebih) pilihan: antara pro atau kontra; antara ini atau itu. Selalu ada pilihan. Bahkan, memilih untuk tidak berpihak pada apa pun atau tidak melakukan apapun juga termasuk ‘pilihan’ yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT berfirman dalam surat Al Zalzalah ayat 7-8 :

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Inilah mengapa Allah turunkan seperangkat aturan kepada manusia melalui para Nabi dan Rasul, yakni untuk mengatur kehidupan manusia. Manusia tidak dibiarkan mentah-mentah mendefinisikan kebaikan dan keburukan tanpa petunjuk wahyu. Jika iya, yang akan terjadi adalah perpecahan, konflik, dan persengketaan. Kacau balau. Setiap pihak pasti akan merasa paling benar dan antar pihak pun akan saling menjelek-jelekkan. Allah SWT pun berfirman dalam surat An Nisa ayat 59 yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, tha’atilah Allah dan tha’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

 

Al Qur’an dan Sunnah sebagai Landasan

Bagaikan gerbong-gerbong yang melaju di atas rel, seseorang yang telah memilih Islam sebagai agamanya seharusnya menjadikan sumber-sumber hukum Islam, yakni Al Quran dan as Sunnah. Artinya, dalam setiap aktivitas hidupnya ia senantiasa terikat dengan syariat Islam dan mengembalikan solusi permasalahan hidupnya kepada Islam.

Dalam sebuah hadits riwayat Malik, Rasulullah saw. pernah menyampaikan, “Aku telah meninggalkan kepada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh pada dua pekara itu : Kitabullah dan sunnah.” Berdasarkan banyak dalil yang diambil dari Al Quran dan As Sunnah, para ulama pun merumuskan sebuah kaidah yang berbunyi, “Kebaikan adalah baik menurut syariat dan keburukan adalah buruk menurut hukum syariat.” Maka dari itu, seorang muslim wajib menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai satu-satunya landasan untuk menentukan standar kebaikan dan keburukan. Dengan ini, kebenaran semakin jelas, tidak abu-abu, dan tidak absurd.

Akan tetapi, yang perlu diketahui adalah Islam tidak mematikan kreativitas kaum muslimin untuk menghukumi hal-hal baru yang belum ditemukan di masa Rasulullah. Justru Islam mendorong kaum muslimin untuk berijtihad menggali hukum Islam (khususnya bagi mereka yang telah menguasai imu-ilmu untuk berijtihad). Dalam proses ijtihad, menjadi sebuah keniscayaan apabila ada mujtahid (orang yang berijtihad) yang berlainan pendapat. Dalam Islam, selama perbedaan itu hanya menyangkut masalah fiqih, hukumnya mubah atau boleh, selama masing-masing mujtahid memiliki dalil atau hujjah berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, bukan hawa nafsu semata.

Inilah indahnya Islam, mengatur setiap jengkali kehidupan manusia. Serta memberikan harmoni yang indah dalam kehidupan manusia, bila saja mereka mau untuk taat sepenuhnya kepada Allah azza wa jalla.

***

Yogyakarta, 18 September 2017

Egia

Resume Rebonan [30 Agustus 2017]

Assalamualaikum wr, wb.

Alhamdulillah, setelah dua bulan lebih melalui masa-masa liburan, KMIB kembali hadir dengan program rutinnya setiap rabu ba’da dzuhur, yakni Kajian Rebonan.

Kali ini narasumber untuk Kajian Rebonan adalah Mas Raden Ahmad Julyadi (Adi), mahasiswa Sastra Arab angkatan 2014 sekaligus mantan mas’ul/ketua KMIB periode sebelumnya yang berbagi mengenai pengalaman berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tiga bulan yang lalu.

Pengalaman KKN selama dua bulan sangat berharga bagi Mas Adi. Selain pengalaman mengenai cara menyelesaikan masalah, bekerja dengan tim, dan belajar bersosialisasi dan terjun di masyarakat, Mas Adi mendapat pengalaman dakwah yang sangat berharga.

Mas Adi mendapat tugas KKN di daerah bernama Rabadongpu, Bima, NTB. Daerah yang masih terbilang dusun itu pernah dilanda banjir bandang yang merugikan desa pada 2016 lalu. Beberapa kelompok masyarakat di sana menganggap para petani jagung adalah penyebab dari terjadinya banjir ini. Namun, sebagian kelompok yang lain menganggap bahwa perjudian dan sabung ayamlah yang menyebabkan desa mereka terkena bencana banjir bandang.

Memang, meskipun daerah Rabadongpu mayoritas berpenduduk muslim, kegiatan perjudian berupa sabung ayam sudah menjadi kebiasaan yang membudaya di daerah mereka. Kegiatan sehari-hari masyarakat terutama pemuda di sana adalah sabung ayam, mulai dari pukul sepuluh pagi sampai pukul lima sore. Hal ini tentu tidak terlepas dari perhatian kepala desa. Kepala desa sudah melakukan berbagai upaya agar kegiatan sabung ayam ini dapat berhenti. Namun, kegiatan itu masih berjalan hingga sekarang.

Di luar dugaan, ada kebiasaan yang unik yang terjadi di masyarakat itu. Meskipun mereka menyabung ayam dari pagi sampai sore, apabila waktu dzuhur tiba sebagian besar dari mereka berhenti menyabung ayam dan langsung pergi ke masjid. Kegiatan sabung ayam pun berhenti sejenak. Namun, setelah itu mereka kembali melanjutkan sabung ayam dan lagi-lagi berhenti ketika waktu ashar tiba.

Melihat fenomena ini, tim Mas Adi sebagai koordinator tim KKN Soshum bersama teman-teman berusaha menyiasati agar mereka mengurangi intensitas kegiatan sabung ayam tersebut dengan cara mengadakan program-program produktif pada jam-jam biasa mereka melakukan sabung ayam.

Usaha Mas Adi tidak sampai sini. Di hari terakhir KKN, Mas Adi berinisiatif pergi ke kantor kepala desa sendirian. Dia bermaksud meminta izin kepada kepala desa untuk menghancurkan arena sabung ayam di desa tersebut. Ternyata, niat ini disambut baik oleh kepala desa. Akhirnya, dengan modal nekat, dia pergi ke tempat sabung ayam ketika tidak ada orang di sana. Ia mulai mencabuti tiang-tiang dan kain pembatas sabung ayam lalu membuangnya di tempat yang tersembunyi. Kemudian, dia menyebarkan selebaran kertas berisi tulisan-tulisan mengenai larangan melakukan sabung ayam dan peringatan mengenai dosa melakukan sabung ayam di daerah sabung ayam tersebut.

Dari pengalaman Mas Adi ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil bahwa di mana pun kita berada, di sanalah kita dituntut untuk tetap menjadi da’i sebagiamana yang kita lakukan di lingkungan kita mulai dari hal-hal kecil seperti mengajak teman salat, mengingatkan untuk membaca doa ketika bersin, dan lain-lain. Mudah-mudahan kita bisa menjadi pribadi-pribadi da’i yang mengamalkan amar ma’ruf dan nahi munkar di mana pun kita berada.

***

Yogyakarta, 30 Agustus 2017

Ahfie

Duka Rohingya di Semarak Idul Adha

Jumat, 1 September 2017 yang juga bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1438 H, kaum muslimin merayakan hari raya Idul Qurban atau Idul Adha. Di pagi hari, orang-orang berduyun-duyun ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat sunnah Idul Adha. Rangkaian acara berlanjut hingga penyembelihan hewan kurban. Aroma khas kambing menyeruak dari setiap tempat jagal. Orang-orang tetap bersuka cita mempersiapkan peralatan dan bumbu-bumbu masak menyambut sepaket daging sapi atau kambing dihantar ke rumah masing-masing. Selama beberapa hari, masyarakat dimanjakan dengan masakan daging yang mungkin hanya bisa dinikmati setahun sekali. Namun, di balik suka cita Idul Qurban di tanah air Indonesia, kabar memprihatinkan datang dari saudara-saudara muslim kita di belahan dunia lain. Masih ingat muslim Rohingya? Ya, beberapa tahun lalu kabarnya sempat mencuat dan tersiarkan di media-media mainstream karena krisis kemanusiaan yang luar biasa. Lantas, apakah derita muslim Rohingya telah berakhir? Bahkan di perayaan Idul Qurban ini, mereka masih ‘disembelih’ oleh kafir la’natullah. Innaa lillaahi wainna ilaihi raaji’uun.

Dilansir dari liputan6.com, per Jumat, 1 September 2017 sudah ada 130 muslim Rohingya dibantai, termasuk perempuan dan anak-anak. Sedangkan, Menurut lembaga aktivis Rohingya di Eropa, European Rohingya Council (ERC), jumlah yang tewas mencapai ribuan orang.  Juru bicara ERC, Anita Schug, kepada kantor berita Turki Anadolu Agency mengatakan antara 2.000 dan 3.000 muslim Rohingya terbunuh di negara bagian Rakhine hanya dalam waktu tiga hari, dari Jumat hingga Minggu lalu. Tidak hanya itu, rumah-rumah warga muslim Rohingya di Rakhine state pun kembali dibakar. Banyak pihak mengakui, termasuk PBB, bahwa ini adalah genosida sistemastis yang direstui oleh negara setempat. Bahkan, penerima nobel perdamaian, Aung San Kyi, memilih diam terhadap pembantaian dan pengusiran besar-besaran muslim Rohingya.

 

Air Mata Kaum Muslimin Tak Kunjung Mengering

Rasanya, hingga kini tak pernah habis kisah pilu kaum muslimin di negeri minoritas maupun mayoritas. Air mata kaum muslimin tak kunjung mengering, menyaksikan kepedihan dan diskrimininasi di berbagai wilayah di dunia. Belum usai masalah Palestina, mencuat masalah di Yaman, Suriah, Xinjiang, hingga Rohingya dan wilayah-wilayah lain. Memprihatinkan? Ya, nampaknya memang perkataan Rasulullah terbukti sudah. Bahwa di akhir zaman ini kaum muslimin bagaikan makanan lezat yang diperebutkan orang-orang kafir. Kaum muslimin bagaikan buih di lautan, melimpah namun tak memiliki makna. Menyedihkan.

Kemunduran kaum muslimin hari ini sungguh berbanding terbalik dengan kondisi kaum muslimin yang pernah bersatu dalam satu kepemimpinan yang dikepalai Rasulullah saw. dalam masa nubuwwah, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dalam masa khulafa’ur rasyidin, dan diteruskan bingga belasan abad kemudian. Sejarah emas tercatat dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir, seorang khalifah bernama Al Mu’tashim billah pernah mengirimkan tentara ke daerah Ammuriah karena seorang muslimah dilecehkan di pasar oleh seorang Yahudi dan seorang muslim tewas terbunuh. Inilah salah satu kisah heroik penjagaan nyawa kaum muslimin di bawah kepemimpinan Khalifah saat itu.

Rasulullah saw pernah bersabda,

“Sungguh, hancurnya kak’bah, batu demi batu, masih lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan tumpahnya darah seorang muslim.”

Demikian Islam begitu keras menjaga setiap nyawa tak berdosa, bukan hanya dari kalangan muslim, tetapi juga dari kalangan non-muslim, khususnya kafir dzimmi atau orang kafir yang tinggal di wilayah pemerintahan Islam dan diberikan jaminan keselamatan oleh negara.

 

Refleksi

Setiap penderitaan yang ditimpakan kepada seorang hamba memiliki beberapa makna. Bagi orang-orang yang bertaqwa, penderitaan adalah ujian yang Allah berikan untuk menaikkan kadar ketaqwaannya. Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman, penderitaan bisa diartikan sebagai peringatan atau bahkan azab. Na’udzubillaahi min dzalik. Maka dari itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk berkaca, bermusahabah, serta merenung. Apa makna di balik tragedi di tubuh kaum muslimin saat ini? Sudahkah kita termasuk orang yang bertaqwa, yakni yang melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya?

Allah SWT dalam Al-Qur’an, potongan surat Al Baqarah ayat 85, pernah menyinggung,

أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَ تَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْن

“…Apakah kamu mempercayai sebagian kitab dan kamu kafir dengan yang sebagian? Maka tidaklah ada ganjaran buat orang-orang yang berbuat demikian daripada kamu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia ini, dan pada hari kiamat akan di kembalikan mereka kepada sesangat-sangat azab. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah : 85)

Ya. Mungkin di satu sisi kita telah melaksanakan syariat Allah, tetapi di ada syariat lain yang kita tinggalkan, bahkan kita lupakan. Mari bermuhasabah. Selain itu, mari kita mendoakan nasib kaum muslimin Rohingya dan kaum muslimin lainnya serta memberikan bantuan kemanusiaan. Mari gencarkan dakwah untuk menyadarkan ummat untuk kembali kepada Islam. Insyaa Allah, Islam bersatu tak bisa terkalahkan!

***

Yogyakarta, 3 September 2017

Egia

Refleksi untuk Negeri: HUT RI, SNSD, dan Elly Risman

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (Al A’raf : 96)

Tepat sehari setelah negeri ini merayakan hari ulang tahunnya ke-72, Indonesia kedatangan (lebih tepatnya: mendatangkan) dua personel girlband SNSD dalam Count Down Asian Games. Kedatangan dua personel SNSD tersebut, Taeyon dan Heyeon, sempat menggegerkan banyak pihak, baik yang pro maupun kontra. Terlebih, sebelumnya ada wacana bahwa pemerintah akan mendatangkan girlband tersebut dalam peringatan HUT RI ke-72. Tak ayal, pihak-pihak yang kontra semakin lantang bersuara.

Salah satu pihak yang cukup keras menolak kedatangan SNSD adalah Bunda Elly Risman. Beliau adalah seorang psikolog serta pemerhati dunia anak. Isu bahwa pemerintah akan menghadirkan SNSD dalam peringatan HUT RI tentu saja membuat beliau panas. Hal yang dikhawatirkan oleh Bunda Elly adalah mental anak-anak Indonesia. Bahkan, dalam akun Twitter nya, Bunda Elly menyebut SNSD sebagai simbol seks. Cuitan itu bukan tanpa risiko. Tak lama kemudian, Bunda Elly diberondong hujatan, caci maki, hingga kata-kata kasar yang sama sekali tidak pantas dari para warganet yang notabene kebanyakan adalah anak muda.

Apabila ditelaah, kekhawatiran Bunda Elly sebenarnya sangat wajar. Hal ini tak lepas dari kondisi anak-anak dan remaja saat ini yang sangat memprihatinkan. Mulai dari bullying, seks bebas, narkoba, dan banyak permasalahan lain, khususnya yang terjadi pada anak dan remaja yang masih menjadi pekerjaan rumah. Beberapa waktu lalu dunia maya sempat diramaikan dengan kabar meninggalnya seorang anak korban bullying atau perundungan. Dikabarkan anak tersebut dirundung oleh teman sekolahnya sendiri. Selain itu, chat mesra anak SD hingga foto dua anak kecil yang merayakan anniversary ‘hari jadiannya’ pun sempat viral. Duh, kalau kondisi ini dibiarkan bahkan diperparah dengan tontonan yang tidak layak, mau jadi apa Indonesia nanti? Tontonan yang sudah ada di media umum saja sudah sangat tidak ramah anak. Pihak berwenang seharusnya menyadari hal ini, bukan malah memperparah.

Di usia ke-72 tahun ini, Indonesia harus segera berbenah. Negeri ini tak boleh hanya mencukupkan diri dengan teriakan ‘merdeka’ dan upacara 17-an sebagai formalitas. Salah satu pekerjaan rumah yang belum beres adalah perbaikan moral generasi muda. Revolusi mental yang didengung-dengungkan tak boleh menjadi pemanis bibir semata. Akan tetapi, harus ada pengamalannya. Seharusnya, pendidikan yang lebih memberatkan penanaman nilai-nilai moral serta kesadaran etika diri lebih ditanamkan.  Pengemasan kurikulum yang tidak memberatkan  kiranya membantu siswa menerima ilmu-ilmu secara proporsional. Tidak berlebih dan tidak kurang.

Selain itu, terkait perayaan HUT RI di setiap tahunnya yang terkesan glamour (yang pasti menghabiskan banyak dana), pemerintah selayaknya betul-betul memperhitungkan pengeluaran negara. Terlebih saat ini hutang luar negeri Indonesia hampir mencapai 4000 triliun, beserta bunganya! Waduh, kemungkinan besar tahun ini dan tahun berikutnya akan banyak pencabutan subsidi untuk rakyat, kenaikan pajak, dan kebijakan lain yang semakin menambah beban hidup rakyat. Hal ini mengingat penerimaan APBN Indonesia didominasi hutang dan penerimaan pajak. Kesejahteraan rakyat pun makin sulit tercapai, layaknya ‘jauh panggang dari api’.

Usia 72 tahun bukan usia belia. Sudah saatnya negeri ini kembali berbenah. Kamu, mahasiswa, apa yang dapat kamu lakukan setelah semuanya terjadi? Merdeka.

***

Yogyakarta, 24 Agustus 2017

Egia

Mahasiswa, pantang Individualistis

Mahasiswa, Pantang Individualistis

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan hidup selepas libur semester yang terasa begitu panjang ini, dan sebentar lagi kita kembali kuliah! Yeey! Nggak sabar ‘kan berkutat lagi dengan kesibukan dunia mahasiswa? Tugas, presentasi, kerja lapangan, dan seabreg pekerjaan rumah, hingga ujian menanti di ujung sana. Ya, sebentar lagi, kawan. Namun, pernahkah kita berpikir, apakah tugas seorang mahasiswa hanya itu? Sayangnya, tidak.

Menurut data dari badan statistika, pada tahun 2016 hanya 30% pelajar Indonesia usia 18-23 tahun yang menikmati bangku perguruan tinggi. Artinya, dari 100 pelajar tingkat SMA yang lulus tahun 2016, hanya 30 orang yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Apabila kita termasuk 30% itu, segera ucap syukur kepada Allah ta’ala karena telah memilih kita berada di jenjang yang tidak semua orang mampu memasukinya. Meminjam wasiat Uncle Ben untuk Perter Parker,  “Seiring datangnya kekuatan yang besar akan datang pula tanggung jawab yang besar…”, setidaknya itulah yang juga dihadapi  mahasiswa. Ya, tanggung jawab yang besar.

Masyarakat kebanyakan memandang mahasiswa sebagai kaum pemikir, intelektual. Maka dari itu, tak heran bila status ‘mahasiswa’ adalah kebanggaan sekaligus beban tersendiri, sebab di pundaknya ada harapan, harapan ummat. So, kalau kamu mahasiswa, urusan ummat tak boleh lepas dari pengamatanmu. Karena, secara tidak langsung atau langsung, permasalahan ummat juga merupakan urusan kaum pemikir yang memandang setiap permasalahan dengan kacamata kritis dan objektif.

Nah, terlebih bagi seorang mahasiswa muslim. Bagi seorang muslim, tak usah menunggu jadi mahasiswa, ia sudah seharusnya kritis dengan permasalahan ummat. Kenapa? Karena, dalam Islam, seorang muslim tidak diajarkan menjadi pribadi individualis, melainkan menjadi individu yang simpati dan berempati terhadap lingkungan sekitarnya, maupun ummat pada umumnya.

Rasulullah saw mengibaratkan sebuah masyarakat Islam layaknya seperti rombongan orang di dalam sebuah kapal. Ada yang duduk di atas dan di bawah. Ketika seseorang dari bawah kehausan, maka mereka harus ke atas untuk mengambil air. Bisa saja orang bawah tak harus capek-capek naik ke atas, tetapi tinggal melobangi dasar kapal dan meminum air dengan mudah. Namun, bila tidak ada yang memperingatkan orang tadi, lalu ia benar-benar melobangi kapal, apa yang terjadi? Ya, kapal akan tenggelam dan semua penumpang akan binasa.

Itulah konsep bermasyarakat dalam Islam. Saling bersimpati, saling mengingatkan satu sama lain, saling menasehati. Indah bukan? Yes of course.

Dalam surat Ali Imron 134, Allah SWT bersabda yang artinya,

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron [3]: 134).

Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan,

orang yang bertakwa adalah orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi orang yang disibukkkan oleh perkara-perkara yang membuatnya tunduk dan taat kepada Allah Ta’ala, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, kepada kerabat maupun kepada saudara seiman lainnya.

Nah, sebagai mahasiswa muslim, tanggung jawab besar kita bukan hanya sekadar belajar di kelas, meraih IP 4 dan lulus tepat waktu. Tidak secetek itu. Sebagai harapan ummat, kita pun harus memberikan yang terbaik untuk ummat dengan pemikiran dan kontrubusi aktif di tengah ummat. Bisa jadi dengan mengedukasi ummat berdakwah fi sabilillah maupun aksi yang lain. So, mahasiswa, tugas kita memang belajar, tapi tanggung jawab kita kepada ummat dan negara ini tak boleh ketinggalan.

***

Yogyakarta, 7 Agustus 2017

Egia

 

Jalan itu bernama Dakwah

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat : 33)

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)

Jalan dakwah. Sebuah jalan yang menuntut kesungguhan dan kesabaran penuh dalam menapakinya. Ialah ‘jalanan terjal’, dipenuhi ‘kerikil dan bebatuan tajam’, menghadang siapapun yang hendak melewatinya. Inilah jalan yang diperuntukkan Allah SWT hanya untuk hamba-hamba yang dipilih-Nya. Hanya mereka yang kuat dan mampu bertahanlah yang mampu melewati jalan ini hingga binasa di atasnya.

Teladan kita, Rasulullah Muhammad saw., manusia sempurna yang dijamin surga, serta para sahabat beliau, harus menghadapi penghinaan, penganiayaan, fitnah yang keji, hingga penyiksaan di jalan dakwah. Dalam sebuah riwayat, Abu ‘Abdullah Khabab bin Al Aratt ra. berkata,

“Kami mengadu kepada Rasulullah saw. saat beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata: “Apakah Tuan tidak memintakan pertolongan untuk kami? Apakah Tuan tidak mendoakan kami?” Beliau menjawab, “Orang-orang sebelum kalian itu ada yang ditanam hidup-hidup, ada yang digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua, ada pula yang disisir dengan sisir besi yang menganai daging dan tulangnya, tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan Islam ini hingga merata dari Shan’a sampai Hadramaut di mana masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya kambing terhadap serigala. Tetapi kamu sekalian sangat tergesa-gesa.”

Sabda Rasulullah saw di atas harusnya menjadi suntikan energi bagi orang-orang yang mengikutinya dan melanjutkan dakwahnya hingga akhir zaman. Bahwa perjuangan dakwah adalah perjuangan yang panjang dan berliku. Mungkin kita sudah bergabung dalam lembaga dakwah dan ikut berdakwah selama beberapa tahun, tetapi pertolongan Allah belum juga turun. Orang-orang di sekitar kita, terlebih yang kita dakwahi, belum sepenuhnya berjalan dalam langkah yang sama dan seirama bersama kita. Atau bahkan orang-orang terdekat, seperti orang tua kita sekalipun, belum betul-betul menerima dakwah kita. Atau mungkin lebih dari itu, misalya yang dialami beberapa Asatidz, seperti Ustadz Felix Siauw, Ustadz Kholid Basalamah, hingga Dr. Zakir Naik, dan lain-lain, yang beberapa kali mendapat penolakan bahkan intimidasi secara terang-terangan dalam dakwahnya. Itulah salah satu kerikil di perjalanan ini.

Rintangan di jalan dakwah adalah sunnatullah, seperti halnya kerikil di jalanan. Niscaya. Setiap orang yang ber-azzam melaju di jalan dakwah otomatis siap menerima ‘gempuran’ dari berbagai arah, seperti hinaan, cercaan, bahkan bisa jadi ancaman hingga serangan fisik. Mereka yang tidak senang dengan laju dakwah Islam tentunya tak tinggal diam dan menganggap segala upaya dakwah sebagai ‘ancaman’ bagi status quo mereka. Maka dari itu, setiap pengemban dakwah wajib untuk terus meningkatkan keimanannya dan kedekatannya dengan Allah Sang Muqollibal Qulub, serta menuntut ilmu, meng-upgrade niat supaya dakwah tetap atas dasar lillahi ta’ala, dan bersabar dalam perjuangan. Karena, Allah tak mengharuskan kita betul-betul meraih kemenangan dalam dakwah, karena itu semua adalah qadha Allah yang juga kekuasan-Nya. Allah hanya menginginkan kita tetap di jalan ini hingga Ia memanggil masing-masing kita.

Meskipun jalan dakwah begitu terjal, namun ia bukanlah jalan tak berujung. Seringkali pertolongan Allah hadir di tengah perjalanan, atau pun juga di ujung perjalanan. Seperti halnya ketika seseorang mendaki gunung. Memang, jalan yang mereka hadapi sungguh menukik, terjal, dan terkadang sangat menyiksa dan melelahkan. Namun, lihat. Apa yang mereka dapatkan di puncak sana? Ya, lukisan alam yang sangat indah serta udara yang menyejukkan semilir menentramkan jiwa menghilangkan penat, membuat orang lupa betapa sulit perjalanan yang baru saja ia tempuh. Begitu pula dengan jalan dakwah. Di ujung sana, Allah telah janjikan surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, makanan lezat apa pun tersaji, bidadari-bidadari bermata jeli siap melayani, serta kebahagiaan memandang wajah Rabbul ‘alamin, dan kebahagian lainnya di mana tak satu pun makhluk yang pernah melihatnya. Maa syaa Allah. So, masih semangat kan berlari di jalan ini?

***

Yogyakarta, 30 Juli 2017

Egia

Palestina, Tanah Para Syuhada

Palestina, Tanah Para Syuhada’

 

Lagi. Palestina kembali (dan masih saja) bergemuruh.

Jumat lalu, situasi di kompleks Masjid al-Aqsa kembali setelah peristiwa serangan tiga pria bersenjata yang menewaskan dua tentara Israel. Akibatnya, Kepolisian Israel memasang detektor metal di kompleks Masjidil Aqsha dan melarang pria muslim berusia di bawah 50 tahun untuk memasuki kompleks masjid. Terjadilah bentrok antara kaum muslimin Palestina dan kepolisian Israel, kemudian aktivis pergerakan Palestina ditangkapi, bahkan kepolisian Israel juga menembak Imam Masjid Al Aqsa selepas beliau menunaikan shalat.

Situasi di Palestina hari ini hanyalah satu dari sekian banyak ‘kebiadaban’ zionis Israel di tanah Al Quds. Sebelumnya, tak terkira berapa banyak nyawa kaum muslimin Palestina yang dihabisi Israel. Salah satunya pada tahun 2009, syahid 1300 rakyat Palestina di tangan zionis Israel kurang dari satu bulan! Begitu pula wilayah Palestina yang semakin hari semakin menyempit digerogoti zionis Israel. Bahkan beberapa waktu lalu, Palestina tidak ditemukan di google maps. Kondisi ini tentunya bukan hal remeh, karena ini menyangkut nyawa kaum muslimin. Bahkan, Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya menyatakan bahwa hancurnya ka’bah lebih baik dari hilangnya nyawa seorang muslim tanpa sebab yang dibenarkan.

 

Palestina, Tanah Penuh Pesona

Tanah Palestina memang tanah penuh pesona bagi tiga agama langit, yakni Islam, Nasrani dan Yahudi. Bagi kaum Nasrani, tanah ini merupakan tanah kelahiran dan kematian Yesus. Bagi Yahudi, tanah itu merupakan tanah terjanji, tempat Nabi Daud as dan Sulaiman as membina kerajaan. Selain itu, terdapat tembok ratapan di tanah Al Quds sebagai tempat ibadah kaum Yahudi yang diyakini sebagai peninggalan Haikal Sulaiman. Sedangkan, bagi kaum muslimin, Palestina (Masjid Al Aqsa) adalah kiblat pertama sekaligus tempat bersejarah di mana Rasulullah saw melaksanakan perjalanan Isra’ Mi’raj. Selain itu, bagi kaum muslimin, tanah Palestina adalah tanah yang diperjuangkan oleh para syuhada’, salah satunya melalui perjuangan jihad tentara Islam yang dipimpin oleh Sholahuddin Al Ayyubi ketika merebut tanah Palestina dari penjajahan tentara salib.

Selama berabad-abad, tanah Al Quds berada di bawah kekuasaan Khilafah Islamiyah. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab, Palestina yang merupakan bagian dari wilayah Syam dibebaskan dan kemudian menjadi bagian dari kekhilafahan. Dalam perjalannya, tanah Palestina sempat jatuh ke tangan tentara salib, namun kemudian melalui perjuangan Sholahuddin al Ayyubi, Palestina kembali menjadi tanah kaum muslimin.

Hingga akhir abad ke 18, Palestina masih berada di bawah kekuasaan Khilafah Utsmani yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hamid II. Pada tahun 1897, muncul gerakan Zionis yang dipelopori oleh Theodor Hertzl, yang kini dikenal sebagai Bapak Zionis, dan Rothschild, seorang konglomerat Yahudi. Gerakan tersebut bertekad menyatukan kaum Yahudi (yang saat itu diaspora) dalam satu negara. Dipilihlah tanah Palestina sebagai lokasi negara tersebut, karena bagi kaum Yahudi, tanah Al Quds tanah terjanji. Sayangnya, Palestina masih dalam kekuasaan Khalifah Abdul Hamid II, sehingga menurut kaum Yahudi mereka harus memohon dan meminta kepada ‘pemilik’ Al Quds untuk memberinya sebagian tanah Palestina.

Pada kunjungan pertamanya, Thedore Hertlz harus pulang dengan tangan hampa. Sultan Hamid II menolak keras permohonan Hertlz dengan menyatakan, “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku”. Penolakan tersebut tidak membuat Theodore Hertlz menyerah. Pada tahun 1902, Theodore Hertzl kembali mendatangi Khalifah Abdul Hamid II untuk memohon tanah Palestina. Kali ini ia membawa sejumlah uang sebagai ‘pelicin’ niatnya. Namun, kembali Khalifah Abdul Hamid II menjawabnya dengan kalimat diplomatis. Berikut pernyataan Khalifah Abdul Hamid II yang tercatat dalam “Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II” karya Muhammad Harb.

“Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup”.

Maa syaa Allah, inilah pernyataan seorang pemimpin negara yang begitu lugas dan tegas terhadap segala bentuk gerakan separatis di negaranya, tentunya sebelum Khilafah Utsmaniyah resmi diruntuhkan dan dibubarkan melalui tangan penghianat Mustafa Kemal pada 1924. Setelah ketiadaan Khilafah Utsmaniyah yang melindungi tanah kaum muslimin, negeri-negeri Islam menjadi ‘kue-kue lezat’ yang diperebutkan dan dinikmati kaum penjajah. Melalui berbagai perjanjian, Inggris dan Prancis membagi-membagi wilayah Khilafah Utsmaniyah menjadi negara-negara kecil yang dikuasai oleh kaum penjajah dan konco-konconya (baca:sekutu).

Melalui deklarasi Balfour pada 2 November 1917, pemerintahan Inggris menyetujui pendirian negara Israel di tanah Palestina yang saat itu berada di bawah penguasaan Inggris. Setelah, itu LBB (Liga Bangsa-Bangsa) sebagai cikal bakal PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) semakin mempermudah legalitas keberadaan negara Israel di tanah Palestina, kemudian terjadilah eksodus besar-besaran kaum Yahudi ke tanah Palestina. Puncaknya pada 29 November 1947, PBB mengumumkan berdirinya negara Israel di tanah Palestina yang diamini Amerika Serikat dengan wilayah Israel 55% dari wilayah Palestina. Peristiwa inilah yang menjadi legalitas berdirinya negara Israel di jantung negeri-negeri Islam berkat bantuan Inggris, Amerika dan LBB atau PBB.

Hari ini, air mata kaum muslimin kembali menetes menyaksikan kebiadaban zionis di tanah haram Al Quds. Entah, apakah kepedihan yang menimpa umat muslim Palestina kali ini akan menjadi episode terakhir atau hanya sepenggal kisah penderitaan yang terus berlanjut? Hanya Allah yang tau kapan penderitaan saudara-saudara kita di palestina, begitu juga di negeri lain, akan berakhir.

Namun, setiap orang yang mengaku muslim tidak akan hanya berdiam diri menyaksikan kedzaliman ini. Mereka yang muslim pasti mendidih darahnya menyaksikan penyiksaan yang menimpa saudaranya, meskipun berada di belahan bumi lain. Salah satu hal kecil yang dapat dilakukan adalah berdoa. Sematkan doa-doa terbaik kita di sepertiga malam terakhir kepada saudara-saudara kita di Palestina, maupun di negeri-negeri muslim lainnya yang terdzolimi, termasuk di Indonesia. Karena bagaimanapun, doa adalah senjata dan pengharapan setiap muslim. Selain itu, bantuan berupa makanan, harta dan obat-obatan juga bermanfaat bagi saudara-suadara kita. Meskipun dalam kasus ini, bantuan tersebut tidak kemudian menuntaskan masalah kaum muslimin Palestina. Maka dari itu, selain bantuan materi, usaha untuk kembali menyatukan kekuatan dan potensi kaum muslimin dalam satu pemerintahan global juga harus menjadi fokus kaum muslimin. Sebab, inilah institusi yang mampu melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin dari kerakusan dan kebiadaban kafir penjajah. Institusi semacam ini yang memungkinkan tanah Palestina, tanah yang dialiri darah segar para syuhada’, kembali terbebaskan dan kembali ke tangan kaum muslimin. Perjuangan semacam ini harus terus berlanjut, meskipun mendapatkan penghadangan dari pihak-pihak yang membenci Islam.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan menyegerakan datangnya pertolongan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Aamiin.

***

Yogyakarta, 22 Juli 2017

Egia