KMIB FIB UGM Kepengurusan 1437 H (Kabinet Hazmi Insani)

Resume Rebonan [5 September 2018]

Bud & day
Terinspirasi dari nama “budaya”
Menurut ustadz ilham hamidi dakwah adalah mengajak. Sebelum kita berdakwah kita harus memetakan lahan dakwah kita. Ada 2:
1. Umat dakwah: orang2 yg mungkin blm masuk islam
2. Umat islam: umat yg sudh islam
Kita harus menyadari bahwa ini adalah zaman modern oleh karena itu kita harus memanfaatkan dakwah melalui media sosial. Oleh karena itu, menurut mas ahfie dia mempunyai prinsip bahwa dia harus minimal melakukan sesuatu untuk berdakwah maka ia berinisiatif untuk menyalurkan hobinya untuk berdakwah. Ia juga berkata meskipun kita tidak bisa menjadi pengajar, maka kita minimal menjadi pengajak. Maksudnya, bilamana kita tidak bisa mengajari orang lain minimal kita mengajak dalam kebaikan/dakwah

 

WhatsApp Image 2018-09-08 at 13.35.56

WhatsApp Image 2018-09-08 at 13.35.57

Resume Rebonan [18 April 2018]

Tema Mahasiswa dan Agama ini berdasarkan fenomena yang ada. Setiap kita berinteraksi dengan mahasiswa di manapun, ada yang mengesampingkan agama.

Filsafat mengenal netralitas agama. Ketika menuntut ilmu, mahasiswa harus memiliki landasan berfikir, yakni agama.

Agama itu pedoman hidup. Akan tetapi, agama lebih mengatur soal hati. Ketika seorang siswa menjadi mahasiswa, ia akan menemukan hal hal yang baru, baik itu ideologi serta hal lain

Sebelum memahami atau memelajari hal hal lain, kita pasti memelajari agama. Jangan sampai kita mengesampingkan agama, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa pada dewasa ini.

Resume Rebonan [4 April 2018]

Suka Duka Perantauan

Mas Imam Maulana (Sastra Arab 2015)

 

Semua orang pasti merasakan suka dan duka. Baik anak asli Yogya maupun Pendatang pasti mengalami. Pada umumnya, orang akan kembali ke kampung asalnya. Contoh, saat liburan panjang, perantau akan pulang dalam kurun waktu tertentu.

Kita harus menyadari bahwa akhir halaman kita adalah akhirat. Suatu saat, kita akan kembali dari tanah perantauan, yakni dunia. Hal ini sama dengan perantau dengan tujuan khusus, seperti kuliah, bekerja, dsb.

Allah SWT memberi tugas seperti orang tua, yakni beribadah di dunia.

Terkadang, kita sering mengabaikan perintah Allah SWT dan orang tua. Mengapa? Karena kita terlena di dunia dan tanah rantauan.

Alhasil, orang tua dan Allah SWT kecewa. Oleh sebab itu, Kita harus sadar bahwa kita akan pulang ke kampung halaman untuk mengembangkannya. Intinya, jangan terlena dengan godaan di kampung halaman.

Ketika sudah menyelesaikan tugas kita, wisuda akan menanti. Allah SWT akan mewisuda melalui kuburan.

Silahkan hidup semaumu, tapi kamu akan mati. Di samping itu, cintailah siapapun yang kamu cintai, karena suatu saat kamu akan berpisah.

Tafakkur bisa di mana saja. Kita bisa melihat tukang parkir, dia dititipkan oleh pemiliknya, kemudian diambil oleh pemiliknya, dan dia tidak marah.

Ketika mendapatkan musibah, anggap saja itu titipan Allah SWT.

Resume Rebonan [28 Maret 2018]

Istiqamah secara bahasa berarti tetap, konsisten, ada perubahan. Pada zaman dahulu, Rasulullah pernah menasihati Mu’adz Bin Jabal agar tidak berhenti berdoa setelah sholat. Doa ini diberikan kepada Mu’adz Ibn Jabal supaya tetap Istiqamah dalam menuntut ilmu, beribadah, dsb. Doanya adalah

ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK [Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud, Ahmad, An Nasa’i)

Syekh Abdur Razaq mengatakan bahwa istiqamah adalah meniti siratal mustaqim (jalan yang lurus). Orang yang di jalan lurus adalah para nabi, para syuhada (Umar Ibn Khattam, Utsman Ibn Affan, Ali Ibn Ali Thalib), para siddiq (Abu Bakar), dan orang orang bertakwa.

Dasar dari istiqamah adalah hati. Istiqamah yang tertutup adalah sesuah dengan sunnah. Jika tidak bisa melaksanakan semuanya, tinggalkanlah sebagian, tapi harus terus menerus sesuai kemampuan kita dengan sungguh sungguh.

Istiqamah bisa terkait juga dengan ucapan, perbuatan dan niat. Ibadah adalah istiqamah yang terdiri atas ucapan, perbuatan dan niat

Istiqamah tidak terwujud kecuali dengan niat karena Allah SWT,  turunnya pertolongan Allah SWT, serta sesuai perintah Allah SWT.

Buah istiqamah di dunia adalah meniti jalan ketika datangnya kiamat. InsyaAllah dimudahkan apabila kita beristiqamah dalam beribadah dan menabung amal kebaikan

Penghalang istiqamah adalah syubhat dan syahwat. Ketika kita berbuat maksiat, maka maksiat lainnya akan datang. Di samping itu, Ketika kita berbuat pahala, maka pahala lainnya akan datang

Tasyabbuh merupakan penghalang istiqamah terbesar. Hal ini bisa dilihat dari peniruan budaya asing yang tidak ada kaitannya dengan Islam.

Resume Rebonan [3 Maret 2018]

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

 

Tidur itu merupakan perintah Allah, 5-6 jam cukup.

Makan itu kebutuhan manusia. Semua ini pasti juga melibatkan Allah SWT. Cara untuk makan harus melihat cara Rasulullah, Insyaa Allah bernilai ibadah.

Iman harus selalu dibentengi dengan ibadah, tapi harus dengan ilmu juga. Adab-adab dilakukan setelah ibadah.

Adab dalam Islam menyangkut banyak hal, termasuk istinja. Selain itu, sholat, makan, membaca Al-Qur’an, dsb. Semua ini harus dibiasakan sejak dini.

Kita harus saling mengingatkan sesama teman. Hal ini bisa kita lakukan untuk membiasakan kehidupan Islami.

Kita biasa di kampus selama 6 jam. Belajar di Ilmu Budaya adalah pilihan kita. Jangan sampai menuntut ilmu untuk meninggalkan sholat.

Allah lagi: semua perencana di balik kehidupan adalah Allah SWT. Misalkan, ketika mendapatkan IP terbaik, kita akan bilang itu usaha saya. Akan tetapi, itu Allah yang mengatur.

Allah dulu: sebelum membuat keputusan, kita harus mendahulukan Allah SWT. Jangan sampai kita malah meniadakan Allah.

Allah terus: Allah SWT menulis takdir seseorang sebelum dia dilahirkan. Menuntut ilmu merupakan kewajiban manusia untuk menggapai masa depan. Ingat Allah jangan hanya saat susah, tetapi kapanpun.

 

WhatsApp Image 2018-03-14 at 17.49.46

WhatsApp Image 2018-03-14 at 17.49.47

Resume Rebonan [27 September 2017]

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Segala puji bagi Allah atas limpahan rahmat-Nya sehingga kita masih bisa diberi kesempatan hidup, beramal, dan memperbaiki diri demi mempersiapkan kehidupan berikutnya. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa Islam menuju kejayaan dari awal mula kemunculannya.

Rebonan kali ini diisi oleh Abdussalam, mahasiswa Arkeologi 2017, yang membahas mengenai syukur.

Syukur. Adalah satu dari dua sifat yang apabila diberi pilihan kepada Umar bin Khattab untuk memilih salah satunya sebagai tunggangan menuju surga maka dia tidak peduli yang mana yang akan jadi tunggangannya itu. Sifat yang lain adalah sabar, yang telah dibahas pada rebonan minggu sebelumnya.

Surat Ar-Rahman merupakan surat yang separuhnya berisi ayat yang mengingatkan kita akan kesyukuran kepada Allah. Fabi ayyi aalaa’i robbikumaa tukaddzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Udara yang kita hirup dan embuskan adalah nikmat, suara yang bisa kita dengarkan adalah nikmat, cahaya yang kita serap melalui mata kita adalah nikmat. Belum nikmat-nikmat yang lebih luas seperti nikmat makan, nikmat bangun pagi hari, nikmat merasakan sejuknya pagi dan semburat mentari, hingga yang paling tinggi adalah nikmat masih adanya iman dan keyakinan kepada Allah dalam hati kita walau secuil.

Ada sebuah cerita. Alkisah seorang abid ahli ibadah yang hidupnya menyendiri di sebuah gua selama ratusan tahun meninggal dunia. Ketika dihisab, dia ditawarkan untuk memilih masuk surga dengan pahalanya atau dengan ridho Allah. Dia memilih masuk surga dengan pahalanya, tetapi ternyata pahala yang ia kumpulkan selama ratusan tahun tanpa melakukan dosa sekalipun itu hanya bisa membayar kenikmatan matanya saja.

Lalu bagaimana dengan kita? Yang setiap hari melakukan dosa sementara ibadah pun masih bolong-bolong?

Kabar baik bagi kita, karena Allah selalu membukakan pintu taubat-Nya bagi kita yang benar-benar ingin bertaubat dan memperbaiki akhlak kita. Tak peduli sebesar gunung atau seluas lautan dosa kita. Maka salah satu bentuk kesyukuran itu adalah dengan memanfaatkan segala kebaikan yang Allah sediakan untuk kita tersebut.

Begitu pun ketika ada ujian, selain bersabar kita pun harus bersyukur, sebab banyak orang lain yang mengalami hal yang lebih berat dari yang kita alami.

Wallaahu a’lam.

***

Yogyakarta, 27 September 2017

Ahfie

Makna Hijrah Bagi Perjuangan Dakwah Rasulullah

Penanggalan hijriyah yang digagas pada masa kepemimpinan amirul mukminin Umar bin Khatab ra. tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa bersejarah bagi dakwah Islam. Ialah peristiwa hijrahnya Rasululah saw dari Mekkah ke Madinah. Pertanyaannya, apakah hijrahnya Rasulullah saw dan para sahabat ke Madinah hanya sekadar menghindari penyiksaan kaum kafir Quraisy yang menjadi-jadi atau ada misi politik di dalamnya?

Memang betul, selama berdakwah di Mekkah, Rasulullah dan para pengikutnya kerap kali mendapatkan banyak penyiksaan dari musuh-musuh Islam. Dalam kitab Shiroh Nabawiyah: Sisi Politis Perjuangan Rasulullah SAW, Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji menyebutkan bahwa Rasulullah saw dan para pengikutnya mendapatkan penyiksaan fisik dan ‘perang urat saraf’ ketika berdakwah di Mekkah.

Dalam hal penyiksaan fisik, derita Rasulullah dan para pengikutnya tak diragukan lagi. Penyiksaan fisik yang dilakukan oleh kafir Quraisy tiada lain dilakukan untuk membuat orang-orang takut masuk Islam, atau bagi mereka yang terlanjur masuk Islam diharapkan dapat mengubah loyalitasnya dari Muhammad kepada kaum musyrikin lagi. Berbagai jenis siksaan mereka timpakan kepada kaum muslimin, terlebih kepada para budak dan orang miskin, seperti Bilal bin Rabbah dan Ammar bin Yassir beserta kedua orang tuanya, Yassir dan Sumayyah.

Selain itu, kafir Quraisy pun melakukan perang urat syaraf. Perang urat syaraf yang dimaksud adalah menyebarkan black campaign atau opini-opini negatif (fitnah) kepada Rasulullah saw. Mereka menyebut Rasulullah sebagai seorang penyihir yang mampu memisahkan tali persaudaraan, hubungan suami istri dan ikatan kekeluargaan. Mereka menyebarkan fitnah yang keji tersebut kepada setiap orang yang mereka temui ketika musim haji tiba.

Menghadapi serangan-serangan para musuh Allah tersebut, Rasulullah dan para sahabat tetap bersabar. Mereka semakin berpegang teguh membela Islam dan semakin gencar melakukan dakwah Islam baik kepada individu maupun kepada bani-bani di sekitar Mekkah.

Sejarah mencatat perjuangan Rasulullah mendakwahkan Islam kepada Bani Kindah, Bani Amir bin Sha’sha’ah, Bani Hanifah, Thaif, dan lain-lain. Namun, Allah SWT baru mendatangkan pertolongannya ketika Rasulullah saw mendakwahkan Islam sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah) ketika berada di bukit Aqabah. Ketika memasuki musim haji di tahun berikutnya, dua belas orang Yatsrib menemui Rasulullah di Aqabah untuk melaksanakan baiat kepada Rasulullah. Pertemuan ini disebut baiat aqabah pertama. Baiat atau janji setia ini menandakan beberapa hal, yakni keimanan kepada Allah, istiqomah, dan mengambil kebenaran yang keluar dari Al Quran dan As Sunnah.

Selepas baiat aqabah pertama, Rasulullah melancarkan misi politik berikutnya yakni melakukan edukasi kepada masyarakat Yatsrib untuk memeluk Islam. Rasulullah saw mengutus sahabat beliau, Mush’ab bin Umair dalam misi penting ini. Atas kegigihan dan kepiawaian dakwah Mush’ab bin Umair dan pertolongan Allah, akhirnya Islam menjadi opini umum di Yatsrib. Mush’ab pun melaporkan perkembangan dakwahnya di Yatsrib kepada Rasulullah. Dengan demikian, Rasulullah pun tahu bahwa orang-orang di Yatsrib atau Madinah telah siap menerima Islam untuk ditegakkan di wilayahnya. Peristiwa ini disusul dengan peristiwa besar yakni baiat aqabah kedua yang dihadiri kurang lebih 72 orang Yatsrib.

Ubadah bin Shamit, salah seorang muslim Anshar mengatakan, “Rasulullah meminta kami berbai’at untuk selalu mendengarkan dan menaati (perintahnya, baik ketika kami dalam kesulitan maupun lapang, ketika kami senang maupun benci dan kami tidak akan mengutamakan diri kami sendiri, kami tidak akan merebut urusan (kekuasaan) ini dari yang berhak, dan kami akan selalu berkata benar di manapun kami berada, sedikitpun kami tidak akan pernah merasa takut akan celaan orang yang suka mencela.” Kemudian Rasulullah pun berhijrah dari Mekkah ke Madinah bersama Abu Bakar As Sidiq.

Berdasarkan strategi dakwah Rasulullah tersebut, dapat disimpulkan bahwa momentum hijrah bukan sekadar upaya Rasul untuk menghindari penyiksaan kafir Quraisy. Selama 13 tahun di Mekkah, Rasulullah dan para sahabat tidak gentar menghadapi siksaan kafir Qurausy, pun ketika terjadi peristiwa pemboikotan selama tiga tahun. Bagi orang-orang yang beriman, siksaan yang ditimpakan kepada mereka tidak bernilai apa-apa. Tentu saja derita yang mereka dapat di dunia pasti akan dibalas Allah dengan kesenangan yang sangat banyak di akhirat.

Maka dari itu, hijrah merupakan salah satu strategi dakwah Rasulullah, sekaligus langkah politis yang beliau ambil dalam menyebarkan Islam ke seluruh alam. Karena, semenjak peristiwa hijrah tersebut, Rasulullah saw membangun kesatuan umat, dalam ketaatan, kekuatan, dan keamanan Islam. Karenanya, Islam dan kaum muslim dimuliakan, dakwahnya tumbuh pesat, merambah ke seluruh jazirah Arab bahkan kemudian mendunia.

Sejarah telah membuktikannya, kekuatan peradaban Islam dihormati dan disegani dunia. Bahkan dunia tidak bisa mengelak bahwa kemajuan peradaban manusia adalah hasil sumbangsih Islam dan peradabannya. Melalui institusi gagah perkasa, sepanjang masa kekhalifahan yang ada, dan kerajaan- kerajaan Islam di nusantara.

***

Yogyakarta, 24 September 2017

Egia.

Kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya

Kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya

Apabila kita dihadapkan pada suatu isu, misalkan ‘hijab bagi wanita‘. Mungkin, kalau tanpa bimbingan wahyu, pendapat kita akan beraneka ragam. Ada yang menganggapnya baik, ada pula yang menganggapnya buruk. Ada yang menganggapnya sebagai upaya untuk melindungi perempuan, ada pula yang menganggapnya sebagai pengekang hak-hak perempuan atas tubuhnya. Intinya, ‘nano-nano’. Tidak jelas. Absurd.

Atau, mungkin kita pernah berada di posisi harus memilih. Misalkan, kita  sedang ‘mager’ atau males gerak padahal saat itu ada kewajiban janji ketemuan dengan teman untuk kajian. Mungkin, bila bukan karena bimbingan wahyu dan keimanan yang kuat, kita lebih memilih berleha-leha dan menghabiskan me time tanpa ada gangguan. Atau mungkin, ada juga di antara kita yang langsung bergegas mengalahkan ‘mager’nya dan memenuhi janji itu. Lagi-lagi, bila tidak ada standar yang jelas, semuanya absurd, serba tidak jelas.

Nah, dua contoh tadi telah menganggambarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan, manusia selalu dihadapkan pada dua (atau lebih) pilihan: antara pro atau kontra; antara ini atau itu. Selalu ada pilihan. Bahkan, memilih untuk tidak berpihak pada apa pun atau tidak melakukan apapun juga termasuk ‘pilihan’ yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT berfirman dalam surat Al Zalzalah ayat 7-8 :

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Inilah mengapa Allah turunkan seperangkat aturan kepada manusia melalui para Nabi dan Rasul, yakni untuk mengatur kehidupan manusia. Manusia tidak dibiarkan mentah-mentah mendefinisikan kebaikan dan keburukan tanpa petunjuk wahyu. Jika iya, yang akan terjadi adalah perpecahan, konflik, dan persengketaan. Kacau balau. Setiap pihak pasti akan merasa paling benar dan antar pihak pun akan saling menjelek-jelekkan. Allah SWT pun berfirman dalam surat An Nisa ayat 59 yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, tha’atilah Allah dan tha’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

 

Al Qur’an dan Sunnah sebagai Landasan

Bagaikan gerbong-gerbong yang melaju di atas rel, seseorang yang telah memilih Islam sebagai agamanya seharusnya menjadikan sumber-sumber hukum Islam, yakni Al Quran dan as Sunnah. Artinya, dalam setiap aktivitas hidupnya ia senantiasa terikat dengan syariat Islam dan mengembalikan solusi permasalahan hidupnya kepada Islam.

Dalam sebuah hadits riwayat Malik, Rasulullah saw. pernah menyampaikan, “Aku telah meninggalkan kepada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh pada dua pekara itu : Kitabullah dan sunnah.” Berdasarkan banyak dalil yang diambil dari Al Quran dan As Sunnah, para ulama pun merumuskan sebuah kaidah yang berbunyi, “Kebaikan adalah baik menurut syariat dan keburukan adalah buruk menurut hukum syariat.” Maka dari itu, seorang muslim wajib menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai satu-satunya landasan untuk menentukan standar kebaikan dan keburukan. Dengan ini, kebenaran semakin jelas, tidak abu-abu, dan tidak absurd.

Akan tetapi, yang perlu diketahui adalah Islam tidak mematikan kreativitas kaum muslimin untuk menghukumi hal-hal baru yang belum ditemukan di masa Rasulullah. Justru Islam mendorong kaum muslimin untuk berijtihad menggali hukum Islam (khususnya bagi mereka yang telah menguasai imu-ilmu untuk berijtihad). Dalam proses ijtihad, menjadi sebuah keniscayaan apabila ada mujtahid (orang yang berijtihad) yang berlainan pendapat. Dalam Islam, selama perbedaan itu hanya menyangkut masalah fiqih, hukumnya mubah atau boleh, selama masing-masing mujtahid memiliki dalil atau hujjah berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, bukan hawa nafsu semata.

Inilah indahnya Islam, mengatur setiap jengkali kehidupan manusia. Serta memberikan harmoni yang indah dalam kehidupan manusia, bila saja mereka mau untuk taat sepenuhnya kepada Allah azza wa jalla.

***

Yogyakarta, 18 September 2017

Egia

Resume Rebonan [30 Agustus 2017]

Assalamualaikum wr, wb.

Alhamdulillah, setelah dua bulan lebih melalui masa-masa liburan, KMIB kembali hadir dengan program rutinnya setiap rabu ba’da dzuhur, yakni Kajian Rebonan.

Kali ini narasumber untuk Kajian Rebonan adalah Mas Raden Ahmad Julyadi (Adi), mahasiswa Sastra Arab angkatan 2014 sekaligus mantan mas’ul/ketua KMIB periode sebelumnya yang berbagi mengenai pengalaman berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tiga bulan yang lalu.

Pengalaman KKN selama dua bulan sangat berharga bagi Mas Adi. Selain pengalaman mengenai cara menyelesaikan masalah, bekerja dengan tim, dan belajar bersosialisasi dan terjun di masyarakat, Mas Adi mendapat pengalaman dakwah yang sangat berharga.

Mas Adi mendapat tugas KKN di daerah bernama Rabadongpu, Bima, NTB. Daerah yang masih terbilang dusun itu pernah dilanda banjir bandang yang merugikan desa pada 2016 lalu. Beberapa kelompok masyarakat di sana menganggap para petani jagung adalah penyebab dari terjadinya banjir ini. Namun, sebagian kelompok yang lain menganggap bahwa perjudian dan sabung ayamlah yang menyebabkan desa mereka terkena bencana banjir bandang.

Memang, meskipun daerah Rabadongpu mayoritas berpenduduk muslim, kegiatan perjudian berupa sabung ayam sudah menjadi kebiasaan yang membudaya di daerah mereka. Kegiatan sehari-hari masyarakat terutama pemuda di sana adalah sabung ayam, mulai dari pukul sepuluh pagi sampai pukul lima sore. Hal ini tentu tidak terlepas dari perhatian kepala desa. Kepala desa sudah melakukan berbagai upaya agar kegiatan sabung ayam ini dapat berhenti. Namun, kegiatan itu masih berjalan hingga sekarang.

Di luar dugaan, ada kebiasaan yang unik yang terjadi di masyarakat itu. Meskipun mereka menyabung ayam dari pagi sampai sore, apabila waktu dzuhur tiba sebagian besar dari mereka berhenti menyabung ayam dan langsung pergi ke masjid. Kegiatan sabung ayam pun berhenti sejenak. Namun, setelah itu mereka kembali melanjutkan sabung ayam dan lagi-lagi berhenti ketika waktu ashar tiba.

Melihat fenomena ini, tim Mas Adi sebagai koordinator tim KKN Soshum bersama teman-teman berusaha menyiasati agar mereka mengurangi intensitas kegiatan sabung ayam tersebut dengan cara mengadakan program-program produktif pada jam-jam biasa mereka melakukan sabung ayam.

Usaha Mas Adi tidak sampai sini. Di hari terakhir KKN, Mas Adi berinisiatif pergi ke kantor kepala desa sendirian. Dia bermaksud meminta izin kepada kepala desa untuk menghancurkan arena sabung ayam di desa tersebut. Ternyata, niat ini disambut baik oleh kepala desa. Akhirnya, dengan modal nekat, dia pergi ke tempat sabung ayam ketika tidak ada orang di sana. Ia mulai mencabuti tiang-tiang dan kain pembatas sabung ayam lalu membuangnya di tempat yang tersembunyi. Kemudian, dia menyebarkan selebaran kertas berisi tulisan-tulisan mengenai larangan melakukan sabung ayam dan peringatan mengenai dosa melakukan sabung ayam di daerah sabung ayam tersebut.

Dari pengalaman Mas Adi ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil bahwa di mana pun kita berada, di sanalah kita dituntut untuk tetap menjadi da’i sebagiamana yang kita lakukan di lingkungan kita mulai dari hal-hal kecil seperti mengajak teman salat, mengingatkan untuk membaca doa ketika bersin, dan lain-lain. Mudah-mudahan kita bisa menjadi pribadi-pribadi da’i yang mengamalkan amar ma’ruf dan nahi munkar di mana pun kita berada.

***

Yogyakarta, 30 Agustus 2017

Ahfie

Duka Rohingya di Semarak Idul Adha

Jumat, 1 September 2017 yang juga bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1438 H, kaum muslimin merayakan hari raya Idul Qurban atau Idul Adha. Di pagi hari, orang-orang berduyun-duyun ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat sunnah Idul Adha. Rangkaian acara berlanjut hingga penyembelihan hewan kurban. Aroma khas kambing menyeruak dari setiap tempat jagal. Orang-orang tetap bersuka cita mempersiapkan peralatan dan bumbu-bumbu masak menyambut sepaket daging sapi atau kambing dihantar ke rumah masing-masing. Selama beberapa hari, masyarakat dimanjakan dengan masakan daging yang mungkin hanya bisa dinikmati setahun sekali. Namun, di balik suka cita Idul Qurban di tanah air Indonesia, kabar memprihatinkan datang dari saudara-saudara muslim kita di belahan dunia lain. Masih ingat muslim Rohingya? Ya, beberapa tahun lalu kabarnya sempat mencuat dan tersiarkan di media-media mainstream karena krisis kemanusiaan yang luar biasa. Lantas, apakah derita muslim Rohingya telah berakhir? Bahkan di perayaan Idul Qurban ini, mereka masih ‘disembelih’ oleh kafir la’natullah. Innaa lillaahi wainna ilaihi raaji’uun.

Dilansir dari liputan6.com, per Jumat, 1 September 2017 sudah ada 130 muslim Rohingya dibantai, termasuk perempuan dan anak-anak. Sedangkan, Menurut lembaga aktivis Rohingya di Eropa, European Rohingya Council (ERC), jumlah yang tewas mencapai ribuan orang.  Juru bicara ERC, Anita Schug, kepada kantor berita Turki Anadolu Agency mengatakan antara 2.000 dan 3.000 muslim Rohingya terbunuh di negara bagian Rakhine hanya dalam waktu tiga hari, dari Jumat hingga Minggu lalu. Tidak hanya itu, rumah-rumah warga muslim Rohingya di Rakhine state pun kembali dibakar. Banyak pihak mengakui, termasuk PBB, bahwa ini adalah genosida sistemastis yang direstui oleh negara setempat. Bahkan, penerima nobel perdamaian, Aung San Kyi, memilih diam terhadap pembantaian dan pengusiran besar-besaran muslim Rohingya.

 

Air Mata Kaum Muslimin Tak Kunjung Mengering

Rasanya, hingga kini tak pernah habis kisah pilu kaum muslimin di negeri minoritas maupun mayoritas. Air mata kaum muslimin tak kunjung mengering, menyaksikan kepedihan dan diskrimininasi di berbagai wilayah di dunia. Belum usai masalah Palestina, mencuat masalah di Yaman, Suriah, Xinjiang, hingga Rohingya dan wilayah-wilayah lain. Memprihatinkan? Ya, nampaknya memang perkataan Rasulullah terbukti sudah. Bahwa di akhir zaman ini kaum muslimin bagaikan makanan lezat yang diperebutkan orang-orang kafir. Kaum muslimin bagaikan buih di lautan, melimpah namun tak memiliki makna. Menyedihkan.

Kemunduran kaum muslimin hari ini sungguh berbanding terbalik dengan kondisi kaum muslimin yang pernah bersatu dalam satu kepemimpinan yang dikepalai Rasulullah saw. dalam masa nubuwwah, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dalam masa khulafa’ur rasyidin, dan diteruskan bingga belasan abad kemudian. Sejarah emas tercatat dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir, seorang khalifah bernama Al Mu’tashim billah pernah mengirimkan tentara ke daerah Ammuriah karena seorang muslimah dilecehkan di pasar oleh seorang Yahudi dan seorang muslim tewas terbunuh. Inilah salah satu kisah heroik penjagaan nyawa kaum muslimin di bawah kepemimpinan Khalifah saat itu.

Rasulullah saw pernah bersabda,

“Sungguh, hancurnya kak’bah, batu demi batu, masih lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan tumpahnya darah seorang muslim.”

Demikian Islam begitu keras menjaga setiap nyawa tak berdosa, bukan hanya dari kalangan muslim, tetapi juga dari kalangan non-muslim, khususnya kafir dzimmi atau orang kafir yang tinggal di wilayah pemerintahan Islam dan diberikan jaminan keselamatan oleh negara.

 

Refleksi

Setiap penderitaan yang ditimpakan kepada seorang hamba memiliki beberapa makna. Bagi orang-orang yang bertaqwa, penderitaan adalah ujian yang Allah berikan untuk menaikkan kadar ketaqwaannya. Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman, penderitaan bisa diartikan sebagai peringatan atau bahkan azab. Na’udzubillaahi min dzalik. Maka dari itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk berkaca, bermusahabah, serta merenung. Apa makna di balik tragedi di tubuh kaum muslimin saat ini? Sudahkah kita termasuk orang yang bertaqwa, yakni yang melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya?

Allah SWT dalam Al-Qur’an, potongan surat Al Baqarah ayat 85, pernah menyinggung,

أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَ تَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْن

“…Apakah kamu mempercayai sebagian kitab dan kamu kafir dengan yang sebagian? Maka tidaklah ada ganjaran buat orang-orang yang berbuat demikian daripada kamu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia ini, dan pada hari kiamat akan di kembalikan mereka kepada sesangat-sangat azab. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah : 85)

Ya. Mungkin di satu sisi kita telah melaksanakan syariat Allah, tetapi di ada syariat lain yang kita tinggalkan, bahkan kita lupakan. Mari bermuhasabah. Selain itu, mari kita mendoakan nasib kaum muslimin Rohingya dan kaum muslimin lainnya serta memberikan bantuan kemanusiaan. Mari gencarkan dakwah untuk menyadarkan ummat untuk kembali kepada Islam. Insyaa Allah, Islam bersatu tak bisa terkalahkan!

***

Yogyakarta, 3 September 2017

Egia